Oligohidramnion adalah terjadinya kekurangan atau penurunan cairan amnion (ketuban) yang mengelilingi janin dalam rahim. Air ketuban berperan penting dalam perkembangan fetus (janin), sehingga kekurangan cairan ini bisa menyebabkan sindrom oligohidramnios atau sindrom Potter yang ditandai dengan tampilan fisik janin atau bayi yang tidak biasa seperti hidung melebar, dagu rendah, telinga tampak lebih rendah dari bayi normal serta gangguan lainnya.

Awal terjadinya oligohidramnion umumnya selama masa akhir trimester tiga, seringnya ketika sudah lewat bulan lahirnya. Kebalikan dari oligohidramnion adalah polihidramnion dimana jumlah cairan amnion berlebih.

oligohidramnion

Penyebab Oligohidramnion dan Faktor Resikonya

Pada sebagian besar kasus, penyebab oligohidramnion adalah idiopatik (tidak diketahui penyebabnya). Para ahli masih berusaha mencari penyebab pasti yang bertanggung jawab terhadap terjadinya masalah ini.

Perlu diperhatikan bahwa air seni yang dihasilkan juga turut membentuk cairan amnion. Jadi ketika produksi urine janin mengalami penurunan misalnya karena obstruksi (penyumbatan saluran kemih), maka bisa menyebabkan terjadinya oligohidramnion. Maka dari itu, apabila ditemukan cairan amnion yang sedikit selama trimester satu atau dua bisa mengindikasikan ketidaknormalan janin.

Faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya oligohidramnion antara lain:

Faktor Janin

  1. Bocornya membran amnion. Terkadang cairan amnion keluar melalui lubang kecil pada membran amnion sehingga menyebabkan air ketuban sedikit. Hal ini terjadi pada tahap akhir kehamilan namun kebanyakan terjadi saat mendekati masa persalinan. Baca juga: Ketuban Pecah? Seperti Ini Warna Air Ketuban & Baunya
  2. Ketidaknormalan janin. Tidak adanya ginjal atau ginjal yang abnormal (agenesis ginjal, ginjal polikistik) pada janin juga bisa menurunkan produksi urine yang pada akhirnya berdampak pada seikitnya cairan ketuban.
  3. Faktor genetik. Adanya pewarisan gen abnormal.

Faktor Plasenta

  • Abrupsio plasenta. Ketikdanormalan plasenta yang menyebabkan plasenta terlepas dari dinding rahim bagian dalam sehingga mengakibatkan terjadinya defisiensi cairan amnion.  Ketidakteraturan pada darah plasenta dan suplai nutrisi bisa mencegah bayi menghasilkan urine sehingga menyebabkan komplikasi serius.
  • Anak kembar. wanita hamil dengan janin kembar memiliki risiko lebih tinggi terjadinya defisiensi cairan amnion.
  • Obat – obatan. Penggunaan obat anti inflamasi non steroid (OAINS) dan beberapa inhibitor ACE (angiotensin-converting enzyme) bisa menyebabkan air ketuban sedikit.

Kondisi ibu berikut ini bisa menyebabkan meningkatnya risiko terjadinya oligohidramnion:

  • Tekanan darah tinggi kronik
  • Dehidrasi
  • Diabetes (kencing manis)
  • Preeklampsia (tekanan darah tinggi saat hamil lebih dari 20 minggu)
  • Lupus

Tanda dan Gejala Oligohidarmnion

Air ketuban yang sedikit bisa menunjukkan tanda dan gejala ataupun juga tidak. Pada saat kantong amnion bocor, ibu hamil bisa merasa basah (seperti mengompol) karena bocornya cairan lewat vagina. Perut juga terlihat lebih kecil daripada usia kehamilan seharusnya.

Oligohidramnion yang terjadi selama trimester satu dan dua lebih sering menyebabkan komplikasi serius daripada ketika terjadi di trimester tiga.

  • Cacat Lahir: Malformasi atau tidak komplitnya organ luar atau dalam pada bayi baru lahir (displasia panggul, club foot)
  • Lahir Prematur: Persalinan sebelum genap usia kehamilan 37 minggu
  • Keguguran: Kematian bayi yang masih dalam rahim sebelum usia kehamilan 20 minggu.
  • Lahir Meninggal: Kelahiran bayi dalam uterus setelah usia kehamilan 20 minggu dalam keadaan mati.
  • Kematian bayi segera setelah lahir

Oligohidramnion bisa menyebabkan masalah berikut ketika terjadi selama trimester tiga:

  • Pertumbuhan janin terganggu.
  • Komplikasi seperti penekanan tali pusat selama persalinan (tali pusat berfungsi untuk mengangkut oksigen dan makanan ke janin, jadi penekanan tali pusat bisa mencegah bayi dari kecukupan nutrisi dan oksigen)
  • Lahir sesar

Penegakan Diagnosis

Dokter bisa menganjurkan serangkaian tes untuk mendeteksi ketidaknormalan fetus dan ibu ditanyai seputar masalah kesehatan kronik yang dialaminya.

USG. USG membantu mengkonfirmasi diagnosis dan menyingkirkan diagnosis bandingnya. Pemeriksaan ini sering digunakan untuk mengamati ginjal janin dan kandung kemihnya guna menyingkirkan kemungkinan terjadinya agenesis ginjal dan obstruksi ureter. Tes ini juga berfungsi untuk memeriksa pertumbuhan janin untuk mengeliminasi kemungkinan IUGR (intrauterine growth restriction) yang menyebabkan oligouria. USG Doppler bisa digunakan untuk menilai insufisiensi plasenta. Kriteria diagnosisnya meliputi:

  • Kadar cairan amnion kurang dari 5 cm
  • Tidak adanya kantong cairan dengan kedalaman 2-3 cm
  • Jumlah total cairan amnion di bawah 500mL antara kehamilan minggu 32 hingga 36

Amniotic Fluid Index (AFI). Tes untuk mengukur jumlah cairan amnion.

Maximum Vertical Pocket (MPV). Tes untuk memeriksa jumlah cairan amnion pada bagian terdalam rahim

Pemeriksaan Spekulum Steril. Pemeriksaan ini untuk mendeteksi kebocoran membran amnion.

Tes Darah Ibu. Tes darah (seperti skrining serum saat hamil) bisa mendeteksi kadar cairan amnion yang rendah.

Pengobatan Oligohidramnion

pengobatan oligohidramion

Wanita dengan kehamilan sehat yang mengalami oligohidramion ringan pada tahap akhir kehamilan tidak perlu pengobatan. Pada beberapa kasus, dokter memonitor denyut jantung janin, perkembangan paru dan juga pergerakan bayi. Persalinan adalah pilihan terapi paling tepat jika oligohidramnion terjadi selama tahap akhir kehamilan.

Beberapa kasus berat dengan oligohidramnion preterm butuh beberapa terapi berikut:

  • Amnioinfusion. Yakni memberikan infus cairan NaCl ke rongga amnion menggunakan kateter intrauterin guna menjaga kadar normal cairan amnion.
  • Vesico-Amniotic Shunts. Pengobatn ini dilakukan dengan mengalihkan urine janin ke rahim ibu dengan fetal obstructive uropathy yang menyebabkan oligohidramnion.
  • Injeksi Cairan. Injeksi cairan melalui amniosentesis sebelum persalinan. Meskipun, kondisi ini cenderung terjadi lagi dalam beberapa minggu setelah pemberian injeksi.
  • Rehidrasi Ibu Hamil. Penggunaan cairan oral dan cairan intravena untuk merehidrasi ibu bisa membantu meningkatkan kadar cairan amnion. Oleh karena itu dokter sering menyarankan ibu untuk banyak minum.
  • Bed Rest. Istirahat yang cukup disertai pemberian cairan bisa membantu meningkatkan cairan amnion

Akhiri kehamilan merupakan pilihan satu – satunya pada kasus berat yang terjadi pada kehamilan di trimester pertama.

Bagaimana mencegah olighidramnion?

Pencegahan tidak mungkin dilakukan pada kasus idiopatik. Namun hal – hal berikut ini bisa mengurangi resiko.

  • Konsultasi dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat – obatan seperti vitamin dan suplemen herbal.
  • Mengkonsumsi makanan sehat terutama pada penderita diabetes.
  • Minum cairan dalam jumlah cukup untuk mencegah dehidrasi.
  • Olahraga teratur.
  • Berhenti merokok.
  • Check up rutin ke dokter untuk mendeteksi ketidaknormalan janin. Kapan saja periksanya? bisa Anda baca di sini: Jadwal Pemeriksaan Kehamilan