Kanker serviks adalah penyebab paling umum keempat kematian terkait kanker di kalangan wanita di seluruh dunia. Padahal jika diobati sedini mungkin, hasilnya akan lebih baik. Nah, cara terbaik untuk mendeteksi kanker serviks secara dini adalah dengan melakukan tes Pap smear.

Pap adalah singkatan dari Papanicolaou, nama dokter yang mengembangkan tes skrining untuk kanker serviks ini. Pap smear merupakan pemeriksaan mikroskopis terhadap sel yang diambil dari mulut rahim (serviks).

Pap smear dapat mendeteksi perubahan pada sel-sel serviks akibat infeksi virus tertentu seperti human papilloma virus ( HPV ), yang diketahui menyebabkan kanker serviks. Ketika perubahan prakanker diketahui dan diobati secara dini, maka kanker serviks dapat diatasi sebelum berkembang sepenuhnya.

Banyak wanita yang akhirnya meninggal karena tidak menyadari bahwa dirinya memiliki kanker serviks, karena pada tahap awal tidak mengalami gejala apa pun. Begitu bergejala, maka kondisinya sudah berat dan sulit untuk di tolong.

Pap smear

Berkat pemeriksaan Pap smear ini, insiden kanker dan kematian akibat kanker serviks telah menurun secara signifikan selama bertahun-tahun. Karena ketika hasil Pap smear menunjukkan ketidaknormalan, maka observasi dan tindakan yang tepat dapat dengan cepat dilakukan oleh dokter.

Siapa yang memerlukan Pap Smear?

Secara umum, setiap wanita yang berusia 21 tahun dan sudah pernah berhubungan seksual direkomendasikan untuk menjalani pemeriksaan Pap smear secara rutin. Terlebih lagi, bagi setiap wanita yang memiliki faktor risiko untuk kanker serviks seperti di bawah ini:

  • Banyak pasangan seksual (atau pasangan seksual yang memiliki banyak pasangan).
  • Memulai hubungan seksual pada usia dini.
  • Sistem kekebalan tubuh melemah.
  • Kanker sebelumnya pada saluran genital bawah.
  • Merokok.

Baca: 18 Ciri-ciri dan Gejala Kanker Serviks (Leher Rahim)

Seberapa sering tes Pap smear dilakukan?

Dokter umumnya merekomendasikan pengulangan tes Pap smear setiap 3 tahun untuk wanita usia 21-65 tahun.  Seberapa sering pemeriksaan Pap smear akan ditentukan oleh berbagai faktor, termasuk usia dan risiko. Perhatikan tabel di bawah ini.

UsiaFrekuensi Pap smear
<21 tahun, tidak aktif secara seksual, tidak ada faktor risiko yang diketahuitidak memerlukan
<21 tahun, aktif secara seksualsetiap 3 tahun
21-29 tahunsetiap 3 tahun
30-65 tahunsetiap 3-5 tahun jika tes Pap smear dan HPV sebelumnya negatif
65 tahun ke atasAnda mungkin tidak lagi membutuhkan tes Pap smear jika tes sebelumnya negatif

*HPV adalah virus yang menyebabkan kutil. Penyebab utama kanker serviks adalah HPV tipe 16 dan 18. Jika Anda memiliki HPV, maka risiko untuk mengembangkan kanker serviks akan meningkat.

Bagi wanita yang sebelumnya berisiko, masih harus menjalani pemeriksaan Pap smear rutin bahkan jika saat ini hanya memiliki satu pasangan. Itu karena virus HPV dapat tertidur selama bertahun-tahun, dan kemudian tiba-tiba menjadi aktif.

Apa Syarat Pap Smear yang harus disiapkan?

Waktu terbaik untuk melakukan Pap smear adalah ketika tidak sedang menstruasi. Selama dua hari sebelum tes, hindari yang berikut karena dapat mengganggu interpretasi hasil pemeriksaan:

  • Berhubungan.
  • Douching.
  • Obat-obatan vagina (kecuali seperti yang diarahkan oleh dokter).
  • Alat kontrasepsi vagina berupa busa spermisidal, krim, ataupun jeli.

Apa yang Terjadi Selama Prosedur Pap Smear?

Pap smear biasanya merupakan bagian dari pemeriksaan panggul dan disertai dengan pemeriksaan payudara yang dilakukan oleh profesional, umumnya oleh dokter Obgyn.

Hanya perlu sekitar satu menit untuk menyelesaikan Pap smear. Begini prosedurnya:

  • Pasien berbaring terlentang di atas meja pemeriksaan dengan lutut ditekuk ke atas dan kaki di letakkan pada sandaran sanggurdi. Selanjutnya dokter akan menggunakan alat logam atau plastik kecil yang disebut spekulum untuk membuka ‘jalan’ vagina sehingga dinding vagina dan leher rahim dapat terlihat dengan jelas.
  • Sampel lendir dan sel akan diambil dari serviks dan endocervix (pembukaan serviks) menggunakan scraper kayu atau sikat kecil khusus untuk serviks .
  • Selanjutnya, sampel yang berhasil diambil tadi dioleskan secara merata pada kaca slide dan disemprot dengan fiksatif. Sampel ini dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan di bawah mikroskop oleh dokter ahli (Spesialis patologi anatomi).

Beberapa ketidaknyamanan selama tes mungkin dapat terjadi. Meskipun begitu, kebanyakan wanita tidak merasakan apa pun apalagi nyeri. Jadi, tetaplah rileks agar semua berjalan lancar. Bernapaslah secara perlahan dan berkonsentrasi untuk merilekskan perut dan kaki.

Karena Pap smear seharusnya tidak sakit, maka jika Anda merasakan sakit selama tes, maka harus memberi tahu dokter.

Apa yang Terjadi Setelah Prosedur Pap Smear?

Selanjutnya adalah menunggu hasil tes keluar, yaitu berupa surat dari dokter ahli pataologi anatomi (PA) yang akan disampaikan kepada dokter yang melakukan prosedur pengambilan sampel.

Hasil pemeriksaan Pap smear akan seperti ini:

  • Negatif atau normal berarti bahwa leher rahim terlihat sehat. Semua sel memiliki ukuran dan bentuk yang normal.
  • Positif atau abnormal berarti bahwa ditemukan kelainan pada ampel. Tes menemukan sel dengan ukuran dan bentuk yang berbeda dari normal.

Hasil Pap smear yang tidak normal tidak selalu mengindikasikan kanker. Sel kadang-kadang tampak abnormal tetapi tidak bersifat kanker. Namun demikian, pasien harus tetap kembali ke dokter untuk perawatan lanjutan.

  • Infeksi serviks dapat menyebabkan hasil tes yang tidak normal. Infeksi jamur, trichomonas, chlamydia, atau gonore dapat menyebabkan sel-sel serviks tampak meradang. Setelah infeksi diobati, hasil Pap smear biasanya kembali normal.
  • Jika hasil Pap smear positif karena infeksi, penyebab yang mendasari harus diobati. Tes harus diulang dalam 2-3 bulan, karena kanker serviks dapat disembunyikan oleh infeksi.

Sampel yang menunjukkan hasil abnormal, akan masuk ke dalam kategori berikut ini:

  • ASC (atypical squamous cells): Sel skuamosa adalah sel tipis dan datar yang membentuk permukaan serviks. Sistem Bethesda membagi kategori ini ke dalam dua kelompok berikut:
    • ASC-US (atypical squamous cells of undetermined significance): Sel-sel skuamosa tidak tampak normal, tetapi dokter tidak yakin apa arti perubahan sel tersebut. Terkadang perubahan terkait dengan infeksi HPV. ACSUS dianggap sebagai kelainan ringan.
    • ASC-H (atypical squamous cells cannot exclude a high-grade squamous intraepithelial lesion): Sel-sel tidak tampak normal, tetapi dokter tidak yakin apa arti perubahan tersebut. ASC-H dapat berisiko lebih tinggi menjadi prakanker.
  • AGC (atypical glandular cells): Sel-sel glandular adalah sel-sel penghasil lendir yang ditemukan di kanal endoserviks (pembukaan di pusat serviks) atau di dinding rahim. Pada hasil ini, sel glandular tidak tampak norma.
  • AIS (endocervical adenocarcinoma in situ): Sel-sel prakanker ditemukan di jaringan endoserviks.
  • LSIL (low-grade squamous intraepithelial lesion): ‘Low-grade’ berarti ada perubahan awal dalam ukuran dan bentuk sel. Kata ‘lesi’ mengacu pada area jaringan abnormal. Intraepithelial mengacu pada lapisan sel yang membentuk permukaan serviks. LSIL dianggap sebagai kelainan ringan yang disebabkan oleh infeksi HPV. Baca: LSIL pada Hasil Pemeriksaan Pap Smear, Apa Maksudnya?
  • HSIL (High-grade squamous intraepithelial lesion): ‘High-grade’ berarti ada perubahan yang lebih nyata dalam ukuran dan bentuk sel-sel abnormal (prakanker), yang berarti sel-sel terlihat sangat berbeda dari sel normal. HSIL adalah kelainan yang lebih berat dan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk berkembang menjadi kanker invasif.

Tergantung hasil tes, dokter dapat merekomendasikan peningkatan frekuensi Pap smear, atau melihat lebih dekat pada jaringan serviks dengan prosedur yang disebut kolposkopi. Selama pemeriksaan kolposkopi, dokter Akan menggunakan cahaya dan pembesaran untuk melihat jaringan vagina dan leher rahim lebih jelas. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin juga mengambil sampel jaringan serviks melalui prosedur yang disebut biopsi.

Seberapa akurat hasilnya?

Hasil tes Pap smear sangat akurat, dan apabila rutin dilakukan dapat menurunkan kejadian kanker serviks dan mortalitas hingga 80 persen. Memang terkadang terasa tak nyaman, namun ketidaknyamanan yang hanya singkat itu dapat membantu melindungi kesehatan Anda sepanjang waktu.