papaverine hcl 40 mg novapharma

Papaverine obat apa?

Papaverine adalah obat yang digunakan untuk mengobati spasme atau kejang otot polos, terutama pada otot polos pembuluh darah dan juga organ-organ dalam (visceral) pada perut. Fungsi tersebut membuat Papaverine kerap digunakan untuk mengatasi kram perut, jantung koroner, spasme pembuluh darah di otak, hingga disfungsi ereksi.

Papaverine digolongkan ke dalam jenis obat keras yang penggunaannya harus dengan resep dokter. Untuk itu harus hati-hati menggunakannya. Sebagai tambahan informasi berikut kami ulas kegunaan, dosis lazim, efek samping, kontraindikasi, kemungkinan interaksi Papaverine dengan obat lain dan informasi keamanan obat ini jika dikonsumsi ibu hamil atau menyusui.

Ikhtisar Obat Papaverine

Jenis obatVasodilator, Spasmolitik
KategoriObat resep
KegunaanMengatasi vasospasme (spasme pembuluh darah), spasme visceral (dengan gejala kram perut) serta juga digunakan sebagai terapi disfungsi ereksi
KonsumenDewasa
KehamilanKategori C
SediaanTablet dan cairan injeksi
MerekPapaverine HCl, Spasmal, Gastromag, Spasminal

Fungsi Papaverine dalam Tubuh

Papaverin merupakan senyawa alkaloid benzylisoquinolone yang dapat menghambat enzim fosfodiesterase. Akibatnya terjadi efek spasmolitik pada otot polos arteri koroner, otak, paru-paru dan pembuluh darah perifer.  Papaverin juga mempengaruhi otot polos di saluran cerna, empedu dan ureter.

Selain itu, papaverin juga dapat menginduksi ereksi penis dengan merelaksasi otot pembuluh darah arteriolar, meningkatkan aliran dan volume darah ke penis akibat terelaksasinya dinding sinusoidal dan corpora cavernosa dan kompresi saluran vena antara sinusoid dan tunika albuginea. Akibatnya ereksi terjadi lebih baik pada penderita disfungsi ereksi.

Indikasi atau Kegunaan Papaverine

Papaverine digunakan untuk mengatasi beberapa kondisi kesehatan yang muncul akibat spasme (kontraksi) otot polos pada pembuluh darah di bagian tubuh tertentu seperti di otak, paru-paru, pembuluh darah perifer, serta mengatasi spasme atau kram pada saluran cerna, empedu dan ureter. Obat ini juga digunakan untuk membantu memperbaiki kondisi penderita disfungsi ereksi.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakan:

  • Orang yang memiliki riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Penderita arterioventrikular blok total, fibrosis penis, deformasi penis seperti angulasi, cavernosal fibrosis, dan penyakit peyronie serta implantasi penis.
  • Penderita atau terindikasi priapisme yang ditandai dengan anemia sel sabit, myeloma multiple, atau leukimia.
papaverine hcl cairan injeksi 10 ml ampul

Papaverine hcl cairan injeksi 10 ml ampul

Dosis Papaverine dan Cara Penggunaan

Papaverine tersedia dalam bentuk sediaan tablet dan cairan injeksidan dengan kekuatan dosis:

  • Tablet: tiap tablet mengandung 40 mg Papaverine.
  • Cairan injeksi: tiap mL cairan injeksi mengandung 40 mg Papaverine.

Ingat! Obat ini merupakan obat keras, karena itu hanya dapat dikonsumsi jika diresepkan oleh dokter. Dosis Papaverine yang tepat adalah yang diresepkan oleh dokter sudah dilakukan pemeriksaan keparahan penyakit, kondisi kesehatan, umur, dll.

Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis Papaverine untuk impotensi

  • Dosis dewasa: dalam bentuk cairan injeksi, 5 – 15 mg pada pemberian awal dan dapat ditingkatkan hingga 60 mg tergantung respon tubuh pasien. Dosis dapat dikurangi jika ereksi terjadi lebih dari 4 jam.

Dosis Papaverine untuk kelainan pembuluh darah otak dan nyeri visceral

  • Dosis dewasa: dalam bentuk tablet,  100 – 300 mg 3 – 4 kali sehari. Untuk tablet lambat rilis 150 mg setiap 12 jam atau dapat ditingkatkan hingga 300 mg setiap 8 jam atau 300 mg setiap 12 jam.

Petunjuk Penggunaan:

  • Gunakanlah obat ini setelah atau sebelum makan, jika muncul rasa tidak nyaman di perut konsumsilah bersamaan dengan makanan, susu atau antasida.
  • Untuk sediaan obat lambat rilis telan obat secara utuh jangan dikunyah atau digerus.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Untuk obat dalam bentuk injeksi mintalah bantuan tenaga ahli medis untuk penggunaannya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih cukup lama. Tidak boleh menggandakan dosis Papaverin pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Papaverine

Papaverine umumnya ditoleransi dengan baik. Namun demikian, ada efek samping mungkin muncul dan perlu diperhatikan. Efek samping Papaverine meliputi:

  • Priapisme (ereksi berkepanjangan).
  • Fibrosis penis.
  • Aritmia.
  • Mual, muntah, diare dan konstipasi.
  • Nyeri dan kebas pada penis.
  • Apnea tidur (gangguan nafas saat tidur yang dapat berakibat fatal).

Efek Overdosis Papaverine

Penggunaan Papaverine tanpa resep dokter, dalam dosis tinggi dan dalam rentang waktu yang lama dapat menyebabkan efek overdosis. Gejalanya dapat berupa ketidakstabilan vasomotor, mual dan muntah, kelelahan, depresi susunan saraf pusat, pusing, diplopia, diaforesis, takikardia sinus dan priapisme. Jika kondisi ini terjadi segera bawa penderita ke unit kegawatdaruratan medis agar memperoleh penanganan tepat sesegera mungkin.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika memiliki riwayat alergi terhadap kandungan obat ini. Jika saat mengonsumsinya muncul reaksi alergi seperti pembengkakan di wajah, ruam dan kesulitan bernapas, segera hentikan penggunaan obat dan konsultasikan dengan dokter Anda.
  • Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita glaukoma, gangguan fungsi jantung, menderita penyakit kardiovaskular yang tidak stabil, dan gangguan motilitas saluran pencernaan, serta gangguan fungsi hati.
  • Penggunaan pada wanita hamil atau menyusui sebaiknya dihindari.
  • Obat ini tidak diindikasikan untuk pengobatan impotensi dengan injeksi intrakorporeal.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Papaverine untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Papaverine digolongkan dalam kategori C untuk ibu hamil. Hal itu berarti studi senyawa obat ini pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu penggunaannya pada ibu hamil sebaiknya dihindari.
  • Belum diketahui apakah Papaverine dapat terekskresi dan mengontaminasi ASI ibu menyusui. Efeknya pada bayi yang menyusu juga belum diketahui. Oleh karena, itu perlu hati-hati jika ingin menggunakan obat ini pada masa menyusui.

Interaksi Obat

Beberapa jenis obat diketahui dapat berinteraksi dengan Papaverine, diantaranya yaitu:

  • Morfin. Meningkatkan efek penekanan terhadap susunan saraf pusat.
  • Levadopa. Mengurangi efektivitas terapi levadopa.
  • Aprostadil dan phentolamine. Peningkatan risiko pusing dan sinkop.
  • Antikoagulan (warfarin dan heparin). Peningkatan risiko perdarahan.