Paramex obat apa?

Paramex adalah obat untuk mengatasi rasa sakit ringan hingga sedang, utamanya akibat sakit gigi ataupun sakit kepala. Obat ini dikombinasikan dari dua senyawa obat analgetik yaitu paracetamol yang meredakan nyeri dan demam dengan efek yang lebih lama serta propyphenazone yang juga bersifat analgetik namun lebih cepat efeknya tapi tidak tahan lama.

Obat yang diproduksi oleh PT. Konimex ini merupakan jenis obat bebas terbatas yang konsumsinya tanpa perlu resep dokter, namun penggunaannya tetap harus sesuai dengan yang dianjurkan pada kemasan obat. Sebagai tambahan informasi, berikut kami ulas kegunaan, dosis lazim, kontraindikasi, efek samping, kemungkinan interaksi Paramex dengan obat lain, serta informasi keamanan obat ini untuk ibu hamil atau menyusui.

Ikhtisar Obat Paramex

Jenis obatAnalgetik (non opiat), antipiretik
KandunganParacetamol, Propyphenazone, Caffeine, Dexchlorpheniramine Maleate
KegunaanMeringankan rasa sakti seperti pada sakit kepala dan sakit gigi
KategoriObat bebas terbatas
KonsumenDewasa dan Anak
KehamilanKategori B
SediaanParamex tablet

paramex tablet

Mekanisme Kerja

Cara kerja Paramex dapat dicermati dari kandungan bahan aktifnya yang berupa:

  • Paracetamol, atau dikenal juga sebagai acetaminophen ini merupakan obat untuk meredakan rasa nyeri dan demam. Obat ini bekerja pada susunan saraf pusat dengan menghambat enzim siklooksigenase yang terlibat dalam sintesis prostaglandin. Dari segi efek samping paracetamol lebih aman dibanding obat analgesik lainnya seperti aspirin dan ibuprofen.
  • Propyphenazone, merupakan obat anti inflamasi non steroid yang bekerja lebih cepat meredakan nyeri dan demam namun dengan efek yang lebih singkat. Beda halnya dengan paracetamol yang bekerja lebih lambat namun dengan efek yang lebih lama. Sehingga diharapkan kombinasi kedua obat ini mampu memberikan efek pereda nyeri dan demam lebih baik.
  • Caffeine, merupakan senyawa aromatik methilxantine yang banyak terdapat di bahan makanan seperti kopi ataupun coklat. Caffeine atau kafein merupakan senyawa psikoaktif dan diuretik ringan yang paling populer dikonsumsi. Senyawa ini dapat menstimulasi susunan saraf pusat agar lebih terjaga serta menstimulasi pernapasan sehingga juga kerap digunakan untuk bayi yang mengalami prematur apnea.
  • Dexchlorpheniramine Maleate, merupakan obat jenis antihistamin yang digunakan untuk meredakan reaksi alergi. Obat ini akan menghambat reseptor  histamin H1 di sel efektor pada saluran pencernaan, pembuluh darah, dan saluran pernapasan sehingga meringankan reaksi alergi.

Indikasi atau Kegunaan Paramex

Paramex digunakan untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang seperti pada sakit gigi dan pusing serta juga dapat meredakan demam yang menyertai.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakan:

  • Orang yang memiliki riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap komponen obat ini.
  • Penderita gangguan fungsi hati parah.

Dosis Paramex dan Cara Penggunaan

Paramex tersedia dalam bentuk sediaan tablet dengan kekuatan dosis pertabletnya yaitu:

  • Paracetamol: 250 mg.
  • Propyphenazone: 150 mg.
  • Caffeine: 50 mg.
  • Dexchlorpheniramine Maleate: 1 mg.

Ingat! Dosis yang tepat sesuai dengan anjuran dokter berdasarkan berat ringannya penyakit, berat badan, usia, dan lain-lain. Atau berdasarkan dosis yang tertera di kemasan obat. Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis Paramex untuk sakit gigi dan sakit kepala

  • Dosis dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun: 1 tablet, 2 – 3 kali sehari.

Petunjuk Penggunaan:

  • Gunakanlah obat ini setelah makan atau bersamaan dengan makan.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 6 – 8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis Paramex pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Paramex

Paramex umumnya ditoleransi dengan baik. Namun demikian, ada efek samping yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

  • Mengantuk.
  • Rasa tidak nyaman di pencernaan.
  • Penggunaan dosis besar dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan hati.

Efek Overdosis Paramex

Sepertihalnya obat-obatan lainnya, penggunaan Paramex dalam dosis tinggi dan jangka waktu yang lama dapat menyebabkan efek overdosis. Salah satu efeknya adalah terjadinya kerusakan hati, kondisi ini biasa ditandai dengan munculnya penyakit kuning, urin jadi lebih gelap, mudah lelah, kulit terasa gatal, hilang selera makan dan penurunan berat badan. Segera konsultasikan dengan dokter Anda jika kondisi ini terjadi.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika memiliki riwayat alergi terhadap bahan aktif obat ini.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita porphyria akut karena dapat menyebabkan porphyrinogenic.
  • Jika setelah konsumsi selama 5 hari rasa sakit tidak juga reda, segera hubungi unit kesehatan terdekat.
  • Hindari berkendara atau menjalankan alat berat yang membutuhkan konsentrasi tinggi saat menggunakan obat ini.
  • Penggunaan pada penderita yang mengonsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko kerusakan hati.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Parmex untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Bahan aktif Paramex diketahui tergolong dalam kategori A untuk paracetamol dan B untuk Dexchlorpheniramine Maleate serta C untuk kafein. Obat dengan kategori C untuk ibu hamil berarti menunjukkan adanya kemungkinan efek samping obat pada janin hewan percobaan (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) meskipun belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu penggunaannya pada ibu hamil sebaiknya dihindari kecuali jika disarankan oleh dokter.
  • Beberapa bahan aktif obat ini diketahui terekstraksi pada ASI ibu menyusui, terutama kafein. Meskipun konsentrasinya kecil, kemungkinan memengaruhi bayi yang menyusu tetap ada. Oleh karena itu penggunaan obat ini selama menyusui sebaiknya dihindari atau jika sangat dibutuhkan saja.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat dapat berinteraksi dengan Paramex, diantaranya yaitu:

  • Penggunaan bersamaan dengan obat metoclopramid dapat meningkatkan efek analgetik dari paracetamol.
  • Penggunaan bersamaan dengan carabamezapin, fenobarbital dan fenitoin dapat meningkatkan risiko kerusakan hati.
  • Penggunaan bersamaan dengan obat antikoagulan seperti warfarin dapat efek koagulasi obat ini sehingga dapat meningkatkan risiko pendarahan.