Parasetamol Obat Apa?

Parasetamol adalah obat jenis analgetik dan antipiretik yang biasa digunakan untuk mengatasi nyeri ringan – sedang dan demam. Obat ini populer di Amerika dan Eropa begitu juga di Indonesia. Nama lain obat demam ini yaitu acetaminophen (dibaca: asetaminofen).

Parasetamol merupakan obat bebas sehingga dapat diperoleh di apotek tanpa resep atau dengan resep dokter. Selain itu, sudah banyak sekali merek dagang yang memasarkan obat ini, sebut saja Panadol, Pamol, Oskadon, dll.

Meskipun dijual bebas, penggunaan obat ini tetap harus memperhatikan cara pakai, dosis, kontraindikasi dan efek sampingnya seperti dijelaskan di bawah ini.

Ikhtisar Obat Parasetamol

Jenis obatAnalgetik (antinyeri) dan Antipiretik (penurun panas)
KategoriObat bebas
KegunaanMeredakan sakit kepala, sakit atau nyeri di seluruh bagian tubuh serta demam atau panas.
KonsumenDewasa dan anak-anak
KehamilanKategori B
SediaanTablet, kaplet, kapsul, tablet larut (dilarutkan dalam air, kemudian diminum), suspensi oral (syrup), supositoria (dimasukkan melalui anus)
MerekParasetamol, Panadol, Alphamol, Tylenol, Hufagesic, Dacadol, Betamol, Sanmol, Biogesic, Farmadol, Fasidol, Metamol, Nasamol, Nufadol, Omegrip, Ottopan, Paracetol, Tempra,  Termorex
parasetamol tablet

kemasan parasetamol tablet

Mekanisme Kerja

Parasetamol bekerja langsung di pusat saraf dengan mempengaruhi ambang rasa sakit dengan menghambat enzim cyclooxsygenase, COX-1, COX-2 dan COX-3  yang terlibat dalam pembentukan prostaglandin, substansi yang bertindak mengatur rasa sakit dan diketahui juga sebagai regulator panas pada hipotalamus. Dengan berkurangnya produksi prostaglandin di otak maka efek rasa sakit dan demam dapat berkurang.

Indikasi Parasetamol

Parasetamol utamanya digunakan sebagai obat penurun panas (antipiretik) dan sebagai obat penghilang rasa sakit (analgesik) dari ringan hingga sedang. Kondisi seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri pasca operasi, nyeri akibat pilek, nyeri otot pasca-trauma dapat diredakan dengan Parasetamol. Selain itu,  sakit kepala, migrain, dismenore dan nyeri sendi juga dapat diringankan dengan obat parasetamol ini. Pada pasien kanker juga bisa diberikan parasetamol untuk mengatasi nyeri ringan atau dapat diberikan dalam kombinasi dengan opioid (misalnya kodein).

Parasetamol telah dibandingkan dengan banyak analgesik lain dan dianggap kurang equipotent jika dibandingkan dengan aspirin (asam asetilsalisilat). Dengan demikian, secara umum, parasetamol kurang mujarab ketimbang salisilat dan agen antirematik lainnya jika digunakan sebagai obat anti-inflamasi dan antinyeri.

Kabar baiknya Parasetamol dapat digunakan pada anak-anak. Ini merupakan alternatif yang lebih disukai ketika aspirin (asam asetilsalisilat) merupakan kontraindikasi (misalnya karena riwayat ulkus atau infeksi virus pada anak).

Kontraindikasi

Obat parasetamol tidak boleh digunakan pada orang dengan kondisi sebagai berikut:

  • Memiliki riwayat alergi parasetamol atau acetaminophen.
  • Gangguan fungsi hati dan penyakit hati.
  • Gangguan Fungsi Ginjal Serius.
  • Shock.
  • Overdosis Acetaminophen.
  • Gizi Buruk.

Dosis Parasetamol

Dosis Parasetamol Dewasa untuk Demam dan Nyeri:

  • Pedoman umum: 325-650 mg diminum setiap 4 sampai 6 jam atau 1000 mg setiap 6 sampai 8 jam.
  • Paling sering adalah Parasetamol 500mg tablet: 500 mg tablet oral setiap 4 sampai 6 jam

Dosis Parasetamol Anak untuk Demam dan Nyeri:

Untuk mengukur dosis Parasetamol anak dengan tepat maka kita harus mengetahui berat badan dan umur anak, karena ini akan menjadi pertimbangan.

Tabel dosis Parasetamol untuk anak-anak

UmurBerat BadanDosis
<3 bulan2.7–5 kg40 mg
4–11 bulan5–8 kg80 mg
12–23 bulan8–11 kg120 mg
2–3 tahun11–16 kg160 mg
4–5 tahun16–21 kg240 mg
6–8 tahun22–27 kg320 mg
9–10 tahun27–32 kg400 mg
11 tahun33–43 kg480 mg
  • Dosis diberikan setiap 4 sampai 6 jam sesuai kebutuhan (maksimum: 5 dosis dalam 24 jam).
  • <= 1 bulan: 10-15 mg/kg BB/dosis setiap 6 sampai 8 jam sesuai kebutuhan.
kemasan parastemol syrup

kemasan parastemol syrup

Parasetamol tidak boleh digunakan melebihi dosis yang direkomendasikan. Jumlah maksimum untuk orang dewasa adalah 1 gram (1000 mg) per dosis dan 4 gram (4000 mg) per hari. Menggunakan parasetamol secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati.

Pada anak-anak, gunakanlah sediaan syrup atau suppositoria. Hati-hati dan selalu ikuti petunjuk dosis pada label obat. Jangan memberikan Parasetamol untuk anak di bawah usia 2 tahun tanpa nasihat dari dokter.

Berhenti menggunakan Parasetamol dan hubungi dokter jika:

  • Selama 3 hari penggunaan masih demam.
  • Selama 7 hari penggunaan masih terasa sakit (nyeri belum teratasi) atau 5 hari pada anak-anak.
  • Terjadi reaksi alergi seperti ruam kulit, sakit kepala terus menerus, atau kemerahan atau bengkak. Hal ini merupakan efek samping penggunaan Parasetamol.

Efek Samping Parasetamol

Umumnya Parasetamol dapat ditoleransi oleh tubuh, namun beberapa efek samping berikut harus diperhatikan:

  • Ruam atau pembengkakan – ini bisa menjadi tanda dari reaksi alergi
  • Hipotensi (tekanan darah rendah) ketika diberikan di rumah sakit dengan infus.
  • Kerusakan hati dan ginjal, ketika digunakan pada dosis lebih tinggi dari yang direkomendasikan (overdosis)

Efek Overdosis

Dalam kasus ekstrim kerusakan hati yang disebabkan oleh overdosis parasetamol bisa berakibat fatal.

Carilah bantuan medis darurat jika Anda memiliki salah satu dari tanda-tanda reaksi alergi Parasetamol seperti : gatal-gatal; kesulitan bernapas; pembengkakan wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.

Berhenti menggunakan obat ini dan hubungi dokter apabila mengalami efek samping parasetamol yang serius seperti:

  • Mual, sakit perut, dan kehilangan nafsu makan;
  • Air seni berwarna gelap, tinja berwarna tanah liat; atau
  • Jaundice (menguningnya kulit atau mata).

Jika salah satu gejala overdosis berikut terjadi, maka segeralah mencari bantuan medis darurat:

  • Diare
  • Keringat berlebihan
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual atau muntah
  • Kram perut atau nyeri
  • Pembengkakan, atau nyeri di perut atau perut daerah atas.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Hindari penggunaan obat ini jika Anda pernah mengalami alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Konsultasikan dengan dokter jika Anda sedang mengalami diabetes, phenilketonuria (PKU), penyakit ginjal parah atau penyakit hati.
  • Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat ini jika Anda sedang hamil atau menyusui.
  • Selalu perhatikan petunjuk penggunaan dan jangan melebihi dosis yang dianjurkan.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkan obat Parasetamol untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Parasetamol jenis oral masuk dalam obat kategori B untuk kehamilan yang berarti studi pada sistem reproduksi hewan percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol terhadap wanita hamil belum pernah dilakukan.
  • Sementara untuk jenis intravena (IV) masuk dalam kategori C yang berarti penelitian pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu Parasetamol dianggap aman untuk ibu hamil, asalkan digunakan dalam waktu singkat. Penggunaannya pun harus dengan indikasi atau kebutuhan yang tepat.
  • Untuk ibu menyusui penggunaan parsetamol dapat masuk ke dalam air susu ibu dalam konsentrasi kecil, sekitar 2% dari dosis harian yang dikonsumsi. Kasus ruam juga dilaporkan terjadi pada bayi menyusu dengan ibu yang mengonsumsi parasetamol, namun ruam menghilang setelah menghentikan konsumsi parasetamol. Namun Parasetamol dianggap aman untuk ibu menyusui oleh Academy of Pediatrics.

Interaksi Obat

Beberapa jenis obat dan bahan makanan dan minuman dapat berinteraksi dengan Parasetamol diantaranya yaitu:

  • Alkohol. Penggunaan bersamaan dapat meningkatkan hepatotoxicity Parasetamol yakni menjadi racun bagi hati.
  • Antikonvulsan. Dapat meningkatkan koversi acetaminophen menjadi heptotoxic jika dikonsumsi bersamaan.
  • Antikoagulan Oral.
  • Aspirin.
  • Isoniazid.
  • Phonetiazine.

Tidak seluruh interaksi obat dirangkum pada artikel ini, untuk itu selalu konsultasikan dengan dokter jika sedang mengonsumsi obat medis tertentu atau sedang mengalami penyakit tertentu. Penyakit yang paling terpengaruh akibat konsumsi parasetamol adalah penyakit ginjal parah, penyakit hati (termasuk hepatitis) dan phenilketonuria.