Efek Buruk Bayi Menghisap Jempol dan Cara Menghentikannya

Semua orang pasti sepakat bahwa bayi tetap terlihat lucu dan menggemaskan meski bila mereka sering ngeces atau mengisap jempolnya. Namun benarkah kalau kebiasaan mengisap jempol ini tak boleh disepelekan karena dapat menimbulkan berbagai efek buruk?

Pastinya, jika kebiasaan ini dibiarkan begitu saja sedangkan usianya terus bertambah, maka bukan tidak mungkin ia akan terus menghisap jempol bahkan ketika di usia sekolahnya. Semakin ia bertambah besar, maka akan lebih sulit untuk menghentikannya. Terlebih, ketika si anak sudah banyak teman, dia akan malu karena terus diejek atau di-bully.

Tidak berhenti sampai disitu, ada masalah fisik atau kesehatan yang juga bisa terjadi sebagai akibat buruk menghisap jempol. Untuk lebih mengetahui permasalahan ini, mari kita simak ulasan berikut.

bayi menghisap jempol

Jangan sepelekan kebiasaan menghisap jempol pada bayi

Apa penyebab bayi suka mengisap jempolnya?

Salah satu alasan mengapa bayi suka mengisap jempolnya adalah karena ini merupakan gerak reflek alaminya seperti ketika ia sedang menyusu. Bagi bayi, kegiatan mengisap ini tak hanya identik dengan ‘makan’, tapi juga membuatnya merasa aman dan nyaman saat menghadapi situasi yang bikin stres.

Dengan kata lain, mengisap jempol merupakan teknik relaksasi yang sudah dikenali bayi sejak dini. Oleh sebab itu tak heran kalau bayi selalu mengisap jempolnya saat merasa lelah, lapar, bosan, sakit, atau marah.

Kapan biasanya bayi mulai mengisap jempolnya?

Percaya atau tidak, bayi mulai mengisap jempolnya sejak dalam kandungan, yakni ketika usia kehamilan masuk minggu ke-29. Setelah lahir, bayi pun masih melakukannya selama 3 bulan pertama.

Apakah bahaya kebiasaan mengisap jempol bagi bayi?

Beberapa orang tua khawatir karena selain masalah higienitas, kebiasaan mengisap jempol juga kurang sedap dipandang secara etika. Memang sih mengisap jempol tidak berbahaya, namun ini tetap dapat memengaruhi si kecil, dan itu tergantung dari 2 faktor berikut:

Intensitasnya

Cara terbaik untuk tahu seberapa intens si kecil dalam mengisap jempolnya adalah dengan menarik perlahan jari si kecil keluar dari mulutnya. Kalau jari bisa keluar dengan lancar, maka ia termasuk pengisap jempol pasif.

Tapi bila butuh usaha ekstra, dan bunda juga mendengar suara ‘meletup’ dari mulut bayi, maka boleh dikata ia tergolong pengisap jempol aktif. Biasanya bayi golongan inilah yang rawan terkena dampak negatif kebiasaan mengisap jempol karena mereka cenderung melakukannya secara agresif.

Berlangsung jangka panjang

Kebanyakan bayi mengurangi intensitas mengisap jempolnya setelah berumur 2 tahun. Namun kalau mereka terus melakukannya bahkan setelah umur 4 tahun, maka mereka rawan mengalami gangguan gigi permanen. Di samping kesehatan gigi yang dipertaruhkan di sini, mengisap jempol jangka panjang juga dapat memicu masalah lainnya.

Berbagai efek buruk mengisap jempol:

1. Pembentukan kalus

Saat diisap, kulit jempol bayi akan terus-menerus bergesekan dengan lidah dan ini menyebabkan timbulnya tumpukan sel kulit mati (kalus) di atas jempolnya. Kondisi ini bisa menimbulkan rasa sakit karena jempol kehilangan kulit, si lapisan pelindung, sehingga ia rawan mengalami memar.

2. Paronikia

Paronikia merupakan kondisi dimana bakteri menginfeksi akar kuku, di masyarakat Indonesia lebih dikenal dengan istilah cantengan. Hal ini terjadi ketika tekanan hisapan yang terus-menerus pada kuku menimbulkan trauma kuku minor, sehingga ada celah kecil antara kuku dan kulit.

Belum lagi bayi yang usianya lebih tua, juga cenderung menggigit dan mengunyah jempolnya selagi mengisap. Ini membuat kuku terluka, dan luka sekecil apapun bisa menjadi sarang bakteri penyebab infeksi.

3. Herpetic whitlow

Ini merupakan infeksi kuku dan jari yang disebabkan oleh virus Herpes. Bayi yang mengalami herpes oral tanpa sengaja bisa menyebarkan virus dari mulut ke tangan ketika ia mengisap jempolnya. Begitu virus mengenai tangan, maka akan mudah menyerang kulit dan akar kuku sehingga menimbulkan luka lepuh yang menyakitkan.

4. Gangguan ortopedik

Mengisap jempol dalam waktu lama dapat membuat jari mengalami deformitas, pertumbuhan tulang berlebih, dan dislokasi atau tidak lurusnya sendi.

Walau gangguan yang disebutkan di atas tak semata disebabkan aksi mengisap jempol, namun bagaimanapun juga kebiasaan ini akan memengaruhi kesehatan gigi bayi. Efek ini biasanya muncul bila bayi terus mengisap jarinya setelah umur 5 tahun. Apa sajakah itu? simak penjelasan di bawah ini.

5. Gigi tidak rapi

Akibat tekanan jempol terus-menerus, gigi bagian depan bisa tumbuh tidak rapi sehingga gigi atas dan bawah jadi tidak segaris, menyebabkan anak kesulitan untuk menutup mulut.

6. Gigi tonggos

Anak yang setelah usia 5 tahun masih saja mengisap jempolnya, rata-rata memiliki gigi tonggos. Hal ini terjadi akibat gerakan menghisap yang mendorongan terus menerus gigi depan ke arah depan.

gigi tonggos akibat mengisap jempol

kebiasaan menghisap jempol sebabkan gigi tonggos

7. Crossbite

Crossbite terjadi kalau susunan gigi atas dan bawah berbeda atau berlawanan dari normalnya. Crossbite sendiri biasanya merupakan efek gigi tonggos tadi yang menyebabkan melemahnya kemampuan menggigit.

Selain masalah gigi, anak usia 5 tahun juga bisa menderita gangguan kulit dan kuku juga. Meskipun begitu, pihak ADA (American Dental Association) menyatakan kalau mengisap jempol hanya memprihatinkan kalau itu sampai menyebabkan masalah gigi permanen, dan ini biasanya muncul setelah usia 5 tahun.

Cara menghentikan dan mencegah bayi mengisap jempol

Nah supaya kebiasaan ini tak sampai berlanjut di usia yang disebutkan tadi, orang tua harus melakukan sesuatu untuk menghentikan dan mencegah buah hatinya mengisap jempol. Berikut caranya:

1. Kenali penyebabnya lebih dulu

Seperti disebutkan tadi, bayi dapat mengisap jempolnya sebagai respon terhadap sesuatu. Misalnya, ketika ia lapar atau bosan, ia akan mengisap jempolnya (daripada tidak berbuat apa-apa). Kalau bunda bisa mengenali pemicunya, maka akan lebih mudah mengatasinya.

Contoh bila bosan yang jadi penyebabnya, maka ajak si kecil melakukan permainan yang menggunakan tangan. Jika pemicunya rasa lapar, pastikan ia makan teratur supaya tak sampai kelaparan. Dan kalau lelah adalah alasannya, maka langsung nina-bobokan si kecil tanpa mengisap jempolnya.

2. Peringatan cara halus

Metode ini dapat diberlakukan untuk anak yang sudah bisa mengerti larangan orang tuanya. Bunda bisa menggunakan bahasa tubuh tertentu, seperti menaruh telunjuk di depan bibir, untuk mengingatkannya agar tidak mengisap jempol lagi. Kalau si kecil menurut, jangan segan untuk memujinya karena sudah taat.

3. Alihkan perhatiannya

Bunda juga dapat mengalihkan perhatian si kecil begitu muncul gelagat untuk mengisap jempol. Caranya bermacam-macam, misalnya dengan menunjukkan sesuatu yang menarik, menimangnya, atau lainnya.

4. Ganti dengan dot

Untuk mematahkan kebiasaan mengisap jempol, dot merupakan salah satu alat yang biasa dipakai orang tua. Namun jangan paksakan kalau si kecil menolaknya. Bunda bisa mencoba cara lain yang sudah disebutkan tadi.

5. Jangan lakukan ini

Yang penting adalah jangan pernah menghukum si kecil karena kebiasaan mengisap jempolnya itu. Dan juga jangan membentak atau melakukan tindakan ekstrim seperti menggunakan plester atau obat pahit di jempolnya. Semua ini hanya akan membuat si kecil keras kepala dan memberontak sehingga ia akan lebih agresif lagi saat mengisap jempolnya.

Jika tak ada cara di atas yang berhasil, maka bunda mungkin harus bersabar menunggu si kecil berhenti sendiri.

Kapan biasanya bayi berhenti mengisap jempolnya?

Bayi umumnya berhenti mengisap jempol pada usia 2-4 tahun. Menurut pernyataan Universitas Chicago, hanya 30% anak yang terus mengisap jempolnya setelah umur 1 tahun. Ini artinya, kebanyakan bayi sudah berhenti sebelum berumur satu tahun. Dan hanya 12% bayi yang terus mengisap jempolnya setelah umur 4 tahun.

Bila kebiasaan ini tetap ada sesudah ia mencapai umur 5 tahun, maka bunda bisa pergi menemui dokter anak untuk konseling soal cara menghentikan kebiasaan mengisap jempol lebih lanjut.

DISKUSI TERKAIT

Baca juga