Paroxetine obat apa?

Paroxetine adalah obat antidepresan dari golongan selective serotonin-reuptake inhibitor (SRRI) yang dapat menyeimbangkan zat kimia tertentu di otak, terutama senyawa serotonin. Dengan kemampuannya itu, obat ini dapat digunakan untuk mengatasi beberapa kondisi gangguan psikologis seperti, depresi berat, obsesif kompulsif (OCD) dan fobia sosial.

Obat ini berpengaruh langsung pada sistem saraf pusat dan membantu meningkatkan mood, kualitas tidur, nafsu makan dan memperbaiki semangat hidup. Selain itu obat ini juga dapat membantu menghilangkan rasa takut, cemas, dan mengurangi serangan panik, serta dapat mengurangi prilaku kompulsif seperti membuka atau menutup sesuatu secara berulang yang dilakukan diluar kesadaran dan hal ini mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Ikhtisar Obat Paroxetine

Jenis obatAntidepresan
KategoriObat resep
KegunaanMengobati kondisi psikis seperti:

  • Depresi berat
  • Gangguan panik dengan atau tanpa agorafobia
  • Obsesif kompulsif (OCD)
  • Sosial phobia
  • Depresi pasca trauma
  • Gangguan disfori menstruasi
  • Gejala hot flash pada wanita menopouse
KonsumenDewasa, anak-anak dan lansia
KehamilanKategori D
SediaanTablet
MerekParotin, Seroxat-CR, Apo-Paroxetine, APT-Paroxetine
paroxetine

Kemasan paroxetine 10 mg tablet

Mekanisme Kerja

Proxcetine yang merupakan obat antidepresan tipe SRRI bekerja seperti halnya obat jenis SRRI lainnya yaitu sebagai penghambat reuptake serotonin yang selektif. Sifat selektifnya ini berarti bahwa senyawa obat ini hanya mempengaruhi sedikit saja atau tidak sama sekali terhadap reuptake norephineprin atau dopamin di otak, serta tidak bersifat antagonis terhadap reseptor alfa dan beta adrenergik, dopamin D2 dan histamin H1.

Pada penggunaan dalam kondisi akut, senyawa obat ini akan memblokade reuptake serotonin dan meningkatkan stimulasi agar terbentuk serotonin pada somatodendritik 5-HT1A dan pada terminal autoreseptor. Pada penggunaan dalam kondisi kronis, obat ini akan menyebabkan desensitisasi pada somatodendritik 5-HT1A dan terminal autoreseptor. Sehingga secara klinis akan terbentuk efek meningkatkan mood dan kebahagiaan serta mengurangi kecemasan akibat perubahan fungsi neuronal yang menyebabkan peningkatan neurotransmiter serotonergik.

Indikasi atau Kegunaan Paroxetine

Paroxetine digunakan untuk mengatasi beberapa gangguan kondisi psikologis berikut:

  • Depresi berat atau major depressiv disorder (MDD).
  • Gangguan panik yang disertai atau tidak disertai agorafobia (ketakutan terhadap keramaian).
  • Obsesif kompulsif (OCD).
  • Gangguan kecemasan sosial (sosial fobia).
  • Gangguan kecemasan umum atau general anxiaty disorder (GAD).
  • Gangguan stres pasca trauma  atau post-traumatic stress disorder (PTSD).
  • Gangguan disforik pramenstruasi atau premenstrual dysphoric disorder (PMDD).
  • Gangguan makan.
  • Hot flush atau perasaan panas tubuh pada wanita yang berhubungan dengan menopouse. Terutama dalam bentuk Paroxcetin mesyalate.
  • Obsesif kompulsif pada anak.
  • Demensia ringan yang berkaitan dengan agitasi pada orang bukan pecandu narkotika.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakan:

  • Memiliki riwayat hipersensitifitas/alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Sedang diterapi menggunakan obat jenis penghambat monoamin aksidase (MAOI). Paroxcetin dapat diresepkan jika minimal sudah 14 hari setelah penghentian penggunaan obat jenis MAOI.
  • Sedang diterapi menggunakan obat thioridazine dan pimozide.

Dosis Paroxetine dan Cara Penggunaan

Paroxetine tersedia dalam bentuk sediaan dan kekuatan dosis

  • Tablet: 10 mg, 20 mg, 30 mg.

Ingat! Dosis terbaik adalah yang sesuai dengan arahan dokter Anda setelah memeriksa kondisi penyakit dan kesehatan Anda.

Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Obsesif kompulsif (OCD)

  • Dosis dewasa: awal, 20 mg per hari, dapat ditingkatkan dengan penambahan dosis 10 mg. Dosis perawatan: 40-60 mg per hari.
  • Dosis lansia: awal, 10 mg per hari, dapat ditingkatkan dengan 10 mg/hari jika dibutuhkan, waktu pemberian selama 1 minggu. Maksimum penggunaan 40 mg per hari.

Sosial phobia

  • Dosis dewasa: 20 mg per hari, dapat ditingkatkan setelah beberapa minggu dengan penambahan setiap 10 mg. Maksimum dosis 50-60 mg/hari.
  • Dosis lansia: awal, 10 mg per hari, datap ditingkatkan dengan penambahan setiap 10 mg/hari dalam interval satu minggu. Dosis maksimum 40 mg/hari.

Gangguan disforik pramenstruasi

  • Dosis dewasa: dalam bentuk hidroklorid. Awal 12,5 per hari, biasanya diminum pada pagi hari. Dapat ditingkatkan hingga 25 mg sekali sehari. Paling sedikit setelah 1 minggu. Diberikan selama masa menstruasi atau terbatas pada fase luteal.
  • Dosis lansia: awal, 10 mg per hari, ditingkatkan jika dibutuhkan dalam kelipatan 10 mg/hari dalam interval 1 minggu. Maksimum penggunaan: 40 mg per hari.

Sters pasca trauma

  • Dewasa: 20 mg per hari, dapat ditingkatkan dalam 10 mg. Maksimum dosis: 50 mg/hari.
  • Lansia: awal, 10 mg/hari, ditingkatkan 10 mg/hari dalam waktu satu minggu. Maksimum dosis: 40 mg per hari.

 Gangguan kecemasan

  • Dewasa: awal, 20 mg per hari, ditingkatkan dalam peningkatan mingguan di 10 mg. Dosis maksimum 50 mg/hari.
  • Lansia: awal, 10 mg per hari, ditingkatkan dalam interval 1 mingguan dengan penambahan 10 mg/harinya. Dosis maksimum: 40 mg per hari.

Depresi

  • Dewasa: 20 mg per hari, dapat ditingkatkan bertahap jika dibutuhkan sebanyak 10 mg penambahan dalam tiap minggunya, dengan maksimal dosis: 50 mg/hari.
  • Lansia: awal, 10 mg per hari, jika dibutuhkan tambahkan dosis bertahap dengan 10 mg/hari dalam interval mingguan. Dosis maksimal 40 mg per hari.

Gangguan panik yang disertai atau tidak disertai agorafobia

  • Dewasa: dosis awal, 10 mg per hari, dapat ditingkatkan 10 mg  setiap minggu tergantung pada respon klinis. Dosis perawatan: 40-60 mg per hari.
  • Lansia: dosis awal, 10 mg per hari, dapat ditingkatkan 10 mg/hari pada interval mingguan. Maksimal 40 mg per hari.

Petunjuk Penggunaan:

  • Gunakanlah obat ini setelah atau sebelum makan dan dianjurkan untuk banyak minum air putih setelahnya.
  • Jika muncul rasa tidak nyaman di perut, disarankan memakan obat ini bersama makanan.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan sekali sehari berarti per 24 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis paroxetine pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Paroxetin

Sepertihalnya obat-obatan lainnya, paroxetine juga memiliki efek samping yang mungkin terjadi dan perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

  • Mual.
  • Kantuk.
  • Pusing.
  • Susah tidur .
  • Hilang nafsu makan .
  • Mulut kering.
  • Penglihatan kabur.
  • Sering menguap.

Hubungi dokter jika terjadi efek samping serius seperti berikut:

  • Tremor (gemetar).
  • Gelisah.
  • Ketidakmampuan untuk tetap diam.
  • Turunnya minat terhadap sexs.
  • Mati rasa.
  • Mudah memar dan berdarah.
  • Detak jantung tidak teratur.
  • Lemah otot dan kejang.

Efek Overdosis Paroxetine

Penggunaan berlebihan atau tidak sengaja mengonsumsi obat ini melebihi dosis yang diresepkan dapat menyebabkan efek overdosis. Jika gejala seperti detak jantung tidak teratur, pusing yang parah, kejang, kesulitan bernapas dan pingsan, segera hubungi rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan segera.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter Anda jika memiliki riwayat alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Sampaikan juga jika Anda memiliki riwayat penyakit bipolar/maniak, percobaan bunuh diri, gangguan fungsi ginjal dan hati, kejang, kekurangan natrium dalam darah, pendarahan usus serta glaukoma.
  • Obat ini dapat menyebabkan pusing, mengantuk dan penglihatan kabur. Jangan mengendarai kendaraan atau alat berat yang menuntut konsentrasi tinggi saat mengonsumsi obat ini.
  • Hindari konsumsi alkohol saat menggunakan obat ini.
  • Lansia akan lebih sensitif terhadap efek samping obat ini terutama pada efek pendarahan dan kehilangan keseimbangan.
  • Hati-hati penggunaan pada anak-anak, selalu monitor berat dan tingginya serta konsultasikan kondisinya dengan dokter.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Paroxetine untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Paroxetine digolongkan dalam kategori D untuk ibu hamil. Hal ini bermakna bahwa penggunaan obat ini terbukti menimbulkan resiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh jika digunakan pada wanita hamil dapat dipertimbangkan (misalnya jika obat diperlukan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius dimana obat yang lebih aman tidak efektif atau tidak dapat diberikan). Efeknya akan lebih berbahaya terutama pada 3 bulan terakhir kehamilan.
  • Paroxetin diketahui dapat tereksresi ke dalam ASI ibu menyusui. Meskipun konsentrasinya rendah dan belum diketahui adanya efek berbahaya untuk bayi, namun mengonsultasikannya dengan dokter adalah pilihan bijak

Interaksi Obat

Beberapa jenis obat dapat berinteraksi dengan Paroxetin, diantaranya adalah:

  • Cyproheptadine dan phenytoin dapat menghambat efek obat ini.
  • Carbamazepine, cimetidine, obat penghambat CYP2D6 seperti miconazole dan colazapine, serta obat amphetamine, beta blocker, dextromethorphan, ritonavir dapat meningkatkan efek obat ini.
  • Dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom serotonin jika dikonsumsi bersamaan dengan obat penekan sistem saraf pusat.
  • Dapat berakibat fatal jika dikonsumsi bersamaan dengan obat jenis MAOI.