10 Gejala dan Ciri-Ciri HIV pada Wanita

Seperti kita ketahui bersama, HIV merupakan penyakit serius yang hingga kini masih belum ada obatnya. Celakanya, ciri-ciri penyakit HIV seringkali tak nampak sehingga penderitanya mungkin tak sadar kalau dirinya sudah terinfeksi. Lantas bila ia kemudian ‘bercinta’ tanpa pengaman, maka HIV bisa menyebar dengan mudah.

Berbicara mengenai ciri-ciri HIV, ternyata ada perbedaan pada wanita dan pria meskipun hanya sedikit. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas secara detil ciri-ciri HIV pada wanita. Untuk pria, bisa baca disini: Kenali Ciri-ciri dan Gejala HIV pada Pria

gejala ciri-ciri hiv pada wanita

Apa itu HIV?

HIV itu sendiri sebenarnya nama virus, karena kepanjangan HIV adalah Human Immunodeficiency Virus. Sebuah virus yang dapat melumpuhkan sistem kekebalan tubuh manusia. Saat virus ini masuk ke dalam tubuh, sel target yang diserang adalah sel darah putih (limfosit CD4).

Pada tahap awal (infeksi akut), HIV akan menimbulkan gejala yang tidak khas seperti demam, sakit kepala, ruam, pembesaran kelenjar getah bening, diare, dan batuk selama beberapa minggu (3-8 minggu). Pada tahap ini sel CD4 menurun dan jumlah virus meningkat.

Ketika tubuh berhasil memproduksi antibodi, maka infeksi akut berakhir, jumlah CD4 stabil dan virus tinggal sedikit. Ingat, virus tidak musnah seluruhnya, sehingga dapat menggerogoti sistem imun secara perlahan hingga bertahun-tahun (kronis), sampai akhirnya sistem imun menjadi benar-benar lumpuh.

Penjelasan lengkap mengenai urutan fase HIV bisa dipelajari disini: Kenali 30 Gejala HIV AIDS Fase Awal, Laten, dan Lanjut

Inilah 10 Ciri dan Gejala HIV pada Wanita

1. Gejala awal mirip flu

Di minggu-minggu pertama setelah terinfeksi HIV, seseorang cenderung mengalami gejala ringan mirip flu seperti demam, sakit kepala, serta lesu. Umumnya, ciri-ciri HIV pada wanita ini hilang dalam beberapa minggu setelah tubuh berhasil menciptakan antibodi untuk melawan virus.

2. Muncul ruam dan luka pada kulit

Pada fase akut, kebanyakan penderita HIV akan mengalami gangguan kulit. Munculnya ruam merupakan salah satu ciri-ciri penyakit HIV yang paling umum. Kulit penderitanya jadi sangat sensitif terhadap sinar matahari atau substansi lainnya. Biasanya ruam akan muncul dalam bentuk bercak merah dengan benjolan-benjolan kecil, dan kulit jadi bersisik.

Selain itu, terkadang terbentuk juga luka atau lesi pada kulit mulut, kemaluan, serta anus, yang sulit sembuh. Pengidap HIV umumnya juga berisiko tinggi mengalami herpes dan shingles (herpes zoster). Untungnya, dengan pengobatan tepat, masalah kulit tadi dapat diminimalisir tingkat keparahannya.

3. Kelenjar getah bening bengkak

Dalam tubuh manusia, kelenjar getah bening tak hanya terletak pada satu lokasi saja, tapi hampir keseluruhan tubuh termasuk leher, belakang kepala, ketiak, serta selangkangan. Kelenjar yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh ini berfungsi untuk menangkis infeksi dengan cara menyimpan sel-sel imun dan menyaring substansi berbahaya.

Begitu infeksi HIV menyebar, sistem imun bereaksi dengan cepat sehingga akibatnya kelenjar limfa jadi membesar atau bengkak hingga berbulan-bulan lamanya. Kondisi ini seringkali menjadi gejala nyata dari infeksi HIV.

4. Infeksi demi infeksi

Oleh karena HIV membuat sistem imun kesulitan melawan kuman penyebab penyakit, maka tubuh penderitanya jadi rawan terkena berbagai infeksi. Kondisi ini membuat seseorang berisiko tinggi menderita pneumonia, TBC, hepatitis C, serta infeksi lain pada kulit, mata, paru-paru, ginjal, sistem pencernaan, dan otak.

Tak hanya itu saja, penyakit ini menyebabkan penderitanya sulit sembuh dari penyakit lain yang ia derita, bahkan dari penyakit ringan seperti flu. Maka dari itu, pengidap HIV umumnya diimbau untuk rutin mencuci tangan dan minum obat guna mencegah infeksi atau komplikasi lebih lanjut.

5. Demam dan berkeringat saat malam

Ciri-ciri HIV pada wanita selanjutnya adalah demam ringan berkepanjangan (37.6°C and 38.2°C). Ini terjadi sebagai reaksi alami karena ada sesuatu yang salah dalam tubuh.

Karena demamnya ringan saja, maka seseorang yang belum sadar dirinya sakit, mungkin akan tetap mengabaikan gejala ini. Seringkali, demam tersebut juga disertai keringat yang mengganggu tidur di malam hari.

6. Perubahan siklus haid

Gejala HIV pada wanita berikutnya adalah berubahnya siklus haid. Menstruasi bisa jadi lebih ringan atau justru berat ketimbang biasanya, atau bahkan bisa berhenti total. Ada kemungkinan jika gejala PMS juga jadi lebih parah daripada sebelumnya.

7. Infeksi bakteri dan jamur

Infeksi bakteri dan jamur pada daerah kewanitaan juga merupakan salah satu ciri-ciri HIV pada wanita akibat sistem imun yang terus menurun. Walau membuat tidak nyaman, namun sayangnya, gejala yang menimbulkan gatal dan perih pada organ keintiman ini sulit diobati. Lebih lanjut, baca juga: Daerah Kewanitaan Gatal dan Perih? Inilah Penyebab dan Solusinya

8. Infeksi penyakit menular seksual lainnya

HIV juga memperbesar risiko seseorang mengidap penyakit menular seksual lainnya seperti:

Bila pengidapnya sampai menderita herpes genital, maka biasanya akan lebih parah. Tubuh pun tak merespon baik terhadap pengobatan herpes yang dilakukan.

9. Radang panggul

Gejala HIV pada wanita berikutnya adalah radang panggul yang menginfeksi rahim, saluran tuba falopi, serta ovarium. Sama seperti ciri-ciri HIV pada wanita sebelumnya, kondisi inipun tak mudah disembuhkan. Gejalanya bisa berlangsung lama, atau kambuh berulang kali.

10. Gejala lanjutan dari HIV dan AIDS

Seiring bertambah parahnya infeksi dalam tubuh, berbagai ciri-ciri penyakit HIV berikut juga muncul:

  • Diare
  • Mual dan muntah
  • Turunnya berat badan
  • Sakit kepala akut
  • Nyeri sendi dan otot
  • Nafas pendek
  • Batuk kronis
  • Kesulitan menelan
  • Pada tahap akhir, HIV bahkan dapat mengakibatkan:
  • Hilangnya memori jangka pendek
  • Linglung, bingung, atau disorientasi
  • Koma

Jika infeksi HIV tak segera ditangani dan berkembang lebih lanjut, maka itu dapat berujung pada AIDS. Pada tahap ini, sistem imun boleh dibilang sudah ‘lumpuh’ sehingga infeksi sangat mudah menyerang.

Perpindahan fase dari HIV ke AIDS tersebut salah satunya ditandai dengan munculnya berbagai penyakit kanker, misalnya Sarkoma Kaposi, Limfoma non-Hodgkin, serta kanker serviks pada wanita.

Sungguh menyeramkan memang setelah membaca berbagai ciri-ciri HIV pada wanita tadi. Oleh karenanya jika risiko Anda untuk tertular sangat tinggi, lakukan upaya pencegahan dan tes rutin supaya perawatan dini dapat segera dilakukan. Tes merupakan satu-satunya cara untuk memastikan apakah seseorang benar-benar terinfeksi HIV ataukah tidak.

Ingatlah, bahwa HIV tak hanya menyebar melalui ‘bercinta’ tak aman saja, tapi juga jarum suntik yang tidak steril. Perempuan yang suaminya ‘doyan jajan’ juga berisiko tinggi terkena infeksi ini.

Lihat sumber
Tags:,

DISKUSI TERKAIT

Baca juga