8 Penyakit Kulit Akibat Virus yang Kerap Mewabah

Kulit menjadi pelindung utama tubuh terhadap paparan dunia luar. Sebagai garda pertama pertahanan tubuh, kulit kerap dihinggapi berbagai mikroorganisme seperti bakteri, jamur atau virus. Berbagai penyakit dapat timbul karenanya. Namun, penyakit kulit akibat virus merupakan yang paling cepat penularannya sehingga dianggap berbahaya dan perlu penanganan ekstra.

Kulit yang terjangkit infeksi virus ditandai dengan ruam kemerahan atau lesi dan lepuhan. Namun, karena kondisi kulit yang seperti ini juga bisa disebabkan oleh banyak hal selain virus, maka otomatis membuat penanganannya menjadi lambat. Celakanya, hal itu diganggap sebagai penyakit kulit biasa yang tidak berbahaya.

Itulah mengapa pemahaman terhadap penyakit kulit yang disebabkan oleh virus sangatlah penting. Lebih cepat diidentifikasi akan lebih cepat dalam mengambil tindakan perawatan yang tepat. Mudahnya, berikut kami rangkumkan beberapa penyakit kulit akibat virus yang kerap menginfeksi mulai dari anak-anak hingga dewasa.

8 jenis penyakit kulit akibat virus yang kerap mewabah

1. Herpes simpleks

herpes labialis merupakan penyakit kulit akibat virus

Herpes labialis salah satu penyakit kulit akibat virus

Penyakit kulit satu ini disebabkan oleh virus yang dikenal sebagai HSV. Penyebarannya di tubuh bisa dimana saja, namun yang paling sering adalah di mulut dan area genital. Itulah mengapa penyakit ini dibagi menjadi dua sub yaitu herpes oral (labialis) dan herpes genitalis yang menyerang area kemaluan.

Gejala penyakit ini berupa lepuhan pada kulit, mulut atau area kemaluan disertai rasa nyeri dan gatal di area sekitarnya, tubuh lemas, demam, serta pembengkakan pada kelenjar getah bening yang dekat dengan area lepuhan. Jika lepuhan ini pecah maka akan menjadi lesi (borok) yang menyebabkan nyeri seperti terbakar.

Orang dengan kebiasaan seks tidak sehat seperti gonta ganti pasangan dan mereka yang imunitasnya lemah merupakan faktor risiko utama penularan penyakit ini. Bersikap terbuka dengan dokter mengenai masalah percintaan dinilai akan mempermudah identifikasi dan penanganan herpes simpleks dengan tepat.

Baca juga: Penyebab dan jenis-jenis herpes.

2. Herpes zoster (cacar ular)

obat herpes zoster

Herspes zoster merupakan penyakit kulit akibat virus dari jenis yang sama dengan cacar air dan herpses simpleks yaitu HSV. Penyakit ini ditandai dengan munculnya ruam kemerahan disertai lepuhan yang gatal pada sebagian sisi tubuh terutama di punggung, leher atau wajah.

Penyakit ini kerap muncul pada lansia yang berumur di atas 60 tahun yang dulunya pernah terserang cacar air. Selain itu, menderita penyakit yang menekan sistem imun seperti AIDS atau kanker juga beresiko terserang penyakit ini. Awalnya seseorang akan terkena cacar air sebelum virus HSV  kemudian berdiam di tubuh dan setelah itu memunculkan herpes zoster.

3. Cacar air

ruam cacar air pada anak-anak

Penyakit kulit akibat virus yang dikenal juga dengan sebutan vericella atau chickenpox ini merupakan penyakit kulit yang kerap menjangkiti anak-anak. Orang dewasa umumnya lebih jarang mengalaminya namun jika terkena penyakit ini gejalanya bisa lebih parah dari anak-anak.

Penyakit ini jarang sekali menjangkiti seseorang hingga dua kali. Untuk mereka yang sudah pernah terkena cacar air saat kecil, saat dewasa mereka akan lebih kebal terhadap penyakit ini.

Cacar air ditandai dengan munculnya lepuh kemerahan dan rasa gatal di sekujur tubuh, biasanya diserta demam dan nyeri, pusing serta berkurangnya nafsu makan. Anak-anak di bawah umur 12 tahun merupakan yang berisiko terserang cacar air, terutama jika ada teman sekolah atau teman bermain mereka yang sudah lebih dulu terjangkit penyakit ini.

4. Campak

ruam campak

ruam campak

Campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat terkenal di Indonesia, bahkan masuk 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian balita di Indonesia. Penyakit ini ditandai dengan munculnya ruam kemerahan di sekujur tubuh serta diawali oleh demam, gelaja seperti flu (radang tenggorokan, hidung meler atau tersumbat), serta muncul bercak putih keabuan di rongga mulut.

Penyakit ini dapat menyebar melalui percikan air yang dikeluarkan melalui batuk atau bersin. Umumnya campak menyerang balita dan anak-anak terutama yang belum divaksinasi, namun tidak menutup kemungkinan orang dewasa juga terkena virus ini. Mereka yang sudah pernah terkena campak dan sembuh umumnya akan kebal terhadap penyakit ini.

5. Rubella

Penyakit yang juga dikenal sebagai campak jerman ini merupakan salah satu penyakit akibat infeksi virus yang menyerang kulit dan kelenjar getah bening. Rubella umumnya menyerang anak-anak dengan gejala mirip campak namun lebih ringan.

Virus rubella juga bisa menyerang orang dewasa dan efeknya bisa lebih parah dari yang terjadi pada anak-anak. Apalagi untuk wanita dalam masa kehamilan kurang dari 5 bulan, virus ini dapat menyebabkan sindrom rubella kongenital yang dapat membahayakan bayi bahkan hingga menyebabkan cacat lahir.

Pemberian imunisasi dan vaksin dapat memperkecil kemungkinan penularan rubella, terutama pada anak-anak. Untuk pencegahan hindari kontak dengan penderita, jaga pola makan sehat dan cukup istirahat serta konsultasikan segera dengan dokter jika muncul gejala rubella.

Apa beda campak dan rubella? Baca: 10 Perbedaan Campak dan Rubella

6. Moluskum kontagiosum

ruam cekung di puncaknya pada moluskum kontagiousm

Ruam cekung di puncaknya pada moluskum kontagiousm

Penyakti kulit akibat virus yang satu ini termasuk yang paling mudah diidentifikasi. Virus Moluscum contagiosum yang menyerang kulit akan menyebabkan munculnya bintil atau papula di kulit yang puncaknya membentuk cekungan atau muncul seperti bintik di tengahnya. Bintil ini umumnya keras berisi cairan dan tidak terasa gatal, jika digaruk dan pecah virus akan pindah dan menginfeksi kulit disekitarnya.

Penyakit kulit ini umumnya menyerang anak-anak dan ditularkan melalui sentuhan kulit dengan penderita. Meskipun mudah menular, penyakit ini termasuk yang tidak menyerang organ lain dan dapat sembuh dengan sendirinya. Untuk mereka dengan sistem imun normal butuh sekitar 6 – 18 bulan hingga penyakit ini sembuh dengan sendirinya.

7. Penyakit kelima

penyakit kelima akibat virus mediskus

Penyakit kelima merupakan penyakit kulit akibat virus yang umumnya menyerang anak-anak umur 5 hingga 14 tahun. Itulah mengapa penyakit ini disebut penyakit kelima (fifth disease). Di masyarakat penyakit ini kadang kerap disamakan dengan biduran atau galigata, padahal keduanya berbeda. Biduran disebabkan oleh alergi sementara penyakit kelima akibat infeksi virus.

Penyakit yang disebabkan oleh parvovirus B19 ini awalnya memunculkan gejala yang mirip flu seperti demam, pusing, hidung meler, kelahan, nyeri perut dan yang paling menonjol adalah munculnya ruam di sekujur tubuh terutama di kedua area pipi.

Meskipun lebih sering terjadi pada anak-anak, orang dewasa juga bisa terserang penyakit ini. Namun sebagian besar orang dewasa sudah tidak terjangkit lagi karena saat kecil sudah pernah mengalami penyakit ini. Yang berbahaya jika penyakit ini menjangkiti ibu hamil, meskipun tidak besar namun ada risiko keguguran akibat penyakit lima ini.

8. Roseola Infantum

roseola infantum akibat virus

Penyakit kulit akibat virus yang satu ini paling sering menyerang balita umur 6 bulan hingga 2 tahun. Gejala yang paling mudah diamati adalah demam tinggi (38,8-40,5 ºC) secara tiba-tiba, kemudian setelah 3-7 hari demam akan reda diikuti munculnya ruam kemerahan di sekitar perut, dada, punggung, hingga ke lengan dan wajah.

Infeksi virus human herpes virus – 6 (HHV-6) merupakan penyebab utama penyakit roseola infantum dan sedikit yang disebabkan oleh virus HHV-7. Penyebarannya yang mudah melalui bercak air di udara akibat bersin atau batuk penderitanya membuat penyakit ini sangat mudah menular, apalagi untuk anak-anak yang sedang lemah sistem imunnya.

Meskipun dapat reda dengan sendirinya dengan perawatan di rumah, penyakit ini juga dapat membahayakan pada kondisi tertentu. Jika muncul demam yang terlalu tinggi hingga diatas 89,4 ºC, atau demam berlangsung lebih dari 7 hari, dan ruam tidak mereda setelah 3 hari, segeralah konsultasikan anak Anda pada dokter.

Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT