Ciri-ciri Anemia Aplastik Berdasarkan Jenisnya

Anemia aplastik merupakan salah satu jenis anemia yang tak bisa dianggap sepele. Jika tak segera ditangani, penderitanya berpeluang besar mengalami perdarahan serius dan infeksi sekunder yang mengancam nyawa. Kenali secara persis ciri-ciri anemia aplastik dan segera periksakan diri pada konsultan hematologi onkologi medis bila merasa mengalaminya.

Kelalahan merupakan salah satu ciri-ciri anemia aplastik

Kelelahan merupakan salah satu ciri-ciri anemia aplastik yang umum terjadi

Berbagai ciri-ciri anemia aplastik yang dapat dikenali

Anemia aplastik adalah kondisi langka dan serius yang dilatarbelakangi oleh karena kegagalan sumsum tulang dalam memproduksi sel darah baru, baik sel darah merah, trombosit maupun leukosit (sel darah putih).

Penyebabnya pun beragam, mulai dari reaksi terhadap obat-obatan, bahan kimia beracun, paparan radiasi atau kemoterapi hingga terkait dengan gangguan autoimun.

Ciri-ciri anemia aplastik dapat diketahui berdasarkan pada jenis sel darah apa yang kadarnya rendah. Jika sel darah merahnya yang rendah (anemia) maka penderitanya dapat mengalami kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, mudah marah dan sebagainya.

Perdarahan akan terjadi apabila penderitanya mengalami trombositopenia atau kekurangan trombosit. Sedangkan, jika kadar sel darah putihnya yang rendah (leukopenia), maka penderitanya akan sangat rentan mengalami berbagai infeksi, seperti pneumonia atau infeksi paru-paru.

Berikut penjelasan selengkapnya:

#Gejala akibat anemia

1. Kelelahan

Sel darah merah berperan penting dalam menghantarkan nutrisi dan oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Ketika jumlahnya kurang memadai, maka tingkat oksidasi di dalam tubuh pun akan menurun. Akibatnya tubuh akan mengalami kelelahan sepanjang hari dan kesulitan berkonsentrasi.

2. Sesak Napas dan Jantung Berdebar

Menurunnya tingkat oksidasi di dalam tubuh akibat rendahnya sel darah merah akan merangsang otak dan jantung untuk bekerja ekstra keras agar kadar oksigen dalam tubuh kembali normal. Kondisi inilah yang lantas memicu timbulnya gejala sesak napas dan detak jantung yang berdebar-debar.

3. Mudah Marah

Rendahnya sel darah merah tidak hanya memengaruhi tingkat energi penderitanya, namun memiliki konsekuensi psikologis yang dapat berpengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Dimana penderitanya cenderung lebih sensitif dan mudah marah.

4. Kulit Pucat

Berkurangnya pasokan sel darah merah dan oksigen ke seluruh jaringan tubuh dapat menyebabkan kulit menjadi pucat. Baik di seluruh tubuh atau hanya terlokalisasi pada beberapa bagian tubuh tertentu saja, seperti telapak tangan, lidah, kuku atau kelopak mata bagian bawah.

5. Demam dan Menggigil

Anemia atau rendahnya sel darah merah dalam tubuh dapat mengganggu kestabilan membran sel saraf dan metabolisme neurotransmitter sehingga dapat memicu respon tubuh berupa demam, keringat dingin, menggigil hingga kejang, terlebih pada anak-anak.

Baca juga: Penyebab anemia dari A sampai Z.

#Gejala akibat trombositopenia

6. Memar-Memar pada Kulit

Trombosit atau keping sel darah memiliki peran vital dalam pembekuan darah. Andaikata kadar trombosit dalam tubuh tak memadai, maka sel darah merah akan keluar atau bocor dari pembuluh darah dan mengalir hingga ke jaringan bawah kulit. Lantas nampaklah memar-memar pada kulit berwarna merah atau ungu yang disebut dengan petechiae.

7. Mimisan

Dalam beberapa kasus, dimana kadar trombosit sudah begitu rendah, penderita anemia aplastik dapat mengalami mimisan yang kerap berulang dan sukar berhenti. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat mengancam nyawa penderitanya.

Ciri-ciri anemia aplastik lainnya yang berkaitan dengan rendahnya kadar trombosit dalam tubuh, yakni perdarahan pada gusi, menstruasi yang tak kunjung berhenti, terdapat darah pada feses atau urine hingga perdarahan serius pada otak (perdarahan intrakranial).

Baca juga: Penyebab mimisan dan cara mengatasinya.

#Gejala akibat leukopenia

8. Rentan terhadap Sejumlah Infeksi

Rendahnya tingkat sel darah putih akibat anemia aplastik mampu memaksa penderitanya berada pada risiko infeksi oportunistik yang begitu tinggi. Demam tinggi diatas 39°C menjadi indikasi kuat dari beberapa infeksi yang mungkin terjadi.

Setelah infeksi baik berupa virus, bakteri maupun jamur masuk ke dalam tubuh, maka kemungkinan besar penderita anemia aplastik akan mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru yang berpeluang besar menimbulkan komplikasi ke berbagai organ tubuh lainnya. Munculnya luka pada bibir atau rongga mulut yang sulit sembuh menjadi pertanda bahaya.

Mengingat penyebab anemia aplastik begitu beragam, maka pengobatannya akan sangat bergantung pada subtipe yang didapatkan. Standarnya sendiri meliputi transfusi darah, terapi obat imunosupresan, transplantasi sel punca hingga pemberian obat stimulan sumsum tulang. Obat antibiotik diperlukan bila saja terdapat infeksi bakteri.

Seiring berjalannya pengobatan, penderita anemia aplastik juga diharapkan untuk benar-benar dapat menjaga kebersihan diri, membatasi aktivitas fisik, memperbanyak istirahat dan menghindari paparan bahan kimia yang kerap dijumpai sehari-hari, seperti insektisida, pestisida dan lainnya.

Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT