Epilepsi pada Anak Sebabkan Kejang Tanpa Sadar

Setiap orang tua pastilah merasa sedih dan khawatir ketika mendapati buah hati tercintanya mengalami serangan kejang akibat epilepsi. Diperlukan kesabaran, waktu dan tenaga ekstra untuk membiasakan diri pada situasi seperti ini. Sambil terus melakukan pengobatan, ketahui seputar epilepsi pada anak berikut guna memperoleh beberapa pengetahuan.

epilepsi pada anak

 

Apa itu epilepsi?

Epilepsi adalah kondisi neurologis (saraf) yang ditandai dengan gejala tunggal khas berupa kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik neuron otak secara berlebih dan paroksimal. Tidak semua kejang merupakan manifestasi epilepsi. Seorang anak bisa saja mengalami kejang karena faktor lain. Misalnya seperti kejang akibat demam tinggi, trauma, pendesakan otak oleh tumor, infeksi selaput otak dan sebagainya.

Ada dua jenis utama dari kejang epilepsi atau ayan ini, yakni kejang fokal yang hanya memengaruhi satu sisi otak saja dan kejang umum yang dapat memengaruhi kedua sisi otak. Pada kejang fokal gejalanya dapat berupa sensasi kesemutan, pusing, hentakan dari anggota tubuh, pandangan kosong, gerakan mulut seperti mengunyah namun jarang menyebabkan hilangnya kesadaran.

Sementara itu, pada kejang umum, gejalanya dapat berupa dilatasi pupil, pengeluaran air liur, peningkatan denyut jantung, kaku dan tegang pada otot. Anak juga kerap hilang keseimbangan hingga terjatuh. Kesadarannya pun biasanya akan menurun dan mendadak disertai amnesia.

Apa yang menjadi penyebab epilepsi pada anak?

Dari sebagian besar kasus epilepsi pada anak, kurang lebih 60% nya tidak diketahui secara pasti apa penyebabnya. Kondisi ini disebut juga dengan epilepsi idiopatik. Meski demikian, para ahli menduga bahwa epilepsi idiopatik terkait erat dengan kecenderungan genetik yang diwariskan dari satu atau kedua orang tuanya hingga adanya perubahan baru dalam gen.

Pada jenis epilepsi lain yang disebut dengan epilepsi simptomatik, maka ada beberapa faktor risiko yang diketahui sebagai penyebabnya. Diantaranya seperti trauma di kepala, infeksi meningitis, tumor otak, stroke dan beberapa kondisi genetik seperti tuberous sclerosis dan neurofibromatosis yang dapat menyebabkan pertumbuhan organ termasuk otak tidak berjalan baik.

Bagaimana diagnosis epilepsi pada anak ditegakkan?

Diagnosis epilepsi pada anak ditegakkan berdasarkan anamnesis yang meliputi pola/bentuk kejang, gejala sebelum, selama dan sesudah kejang, frekuensi, faktor pencetus, ada tidaknya penyakit yang diderita anak, usia saat terjadinya serangan pertama, riwayat kehamilan ibu dan riwayat epilepsi pada keluarga.

Setelah itu, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik umum dan neurologis. Dimana dokter akan melihat tanda-tanda dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi seperti trauma kepala, gangguan kongenital, neurologik fokal dan beragam bentuk infeksi.

Dokter juga akan memerhatikan ciri-ciri fisik lainnya. Apakah ada keterlambatan perkembangan maupun perbedaan ukuran antara anggota tubuh yang kesemuanya dapat menunjukan awal gangguan pertumbuhan otak unilateral.

Pemeriksaan penunjang yakni elektroensefalografi (EEG) harus dilakukan untuk menegakkan diagnosis epilepsi sekaligus untuk membantu menentukan prognosis dan perlu tidaknya pengobatan dengan obat anti epilepsi (OAE). Biasanya dilengkapi pula dengan pemeriksaan radiologis seperti CT Scan atau MRI.

Pengobatan epilepsi pada anak

Tujuan utama pengobatan epilepsi pada anak adalah untuk membuat ia terbebas dari serangan kejang epilepsinya. Dikatakan berhasil, apabila serangan tersebut dapat dicegah atau dikontrol dengan obat-obatan sampai anak berada pada kondisi bebas kejang, setidaknya selama 2 tahun.

Secara umum, terdapat 3 terapi epilepsi. Pertama, terapi medikamentosa dengan memberikan anak jenis obat anti epilepsi (OAE) seperti obat golongan fenitoin, karbamazepin, fenobarbital dan asam valporat.

Kedua dengan terapi bedah yang diindikasikan pada anak yang kebal terhadap obat-obatan. Dimana bagian otak yang menjadi sumber masalah akan di potong melalui prosedur bedah epilepsi seperti lobektomi temporal, eksisi korteks ekstratemporal, hemisferektomi atau callostomi. Terakhir yakni dengan terapi nutrisi berupa diet ketogenik yang bertujuan untuk mengendalikan dan mengontrol terjadinya kejang.

Tips singkat dalam melakukan pertolongan pertama pada saat anak kejang

Sebagai penutup, ada beberapa tips singkat yang dapat Ayah Bunda terapkan sebagai pertolongan pertama bila saja anak mengalami kejang epilepsi, antara lain:

  1. Jauhkan anak dari benda-benda berbahaya ketika mengalami kejang.
  2. Dampingi selalu, jangan pernah meninggalkannya dalam keadaan demikian.
  3. Longgarkan pakaian atau kerah baju yang dikenakan agar jalannya pernapasan menjadi lebih mudah.
  4. Jangan menahan gerakannya dan jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulutnya ketika kejang berlangsung, termasuk memberi minum.

Setelah kejangnya berakhir, tetaplah menemani ia hingga kesadarannya pulih total. Kemudian ajaklah untuk beristirahat atau tidur.

Lihat sumber