6 Fakta Penting Virus Zika yang Harus Kamu Tahu

Sebagian besar penduduk dunia termasuk Indonesia pernah digemparkan dengan kemunculan beberapa virus penyakit yang disinyalir sangat mematikan. Seperti mers, flu babi, flu burung dan baru-baru ini virus zika. Entah benar atau tidak, yang pasti banyak negara yang akhirnya memberlakukan sistem ketat kepada pintu masuk negara mereka seperti bandara dan pelabuhan demi mencegah penyebaran virus ini.

Jika Anda melihat atau membaca berita, Anda pasti pernah mendengar tentang virus zika. Sejak infeksi zika yang pertama dikonfirmasi di Brasil pada bulan Mei 2015, Pan American Health Organization (PAHO) dan Centers for Disease Control (CDC) telah memperingatkan wanita hamil untuk tidak bepergian ke daerah tertentu di dunia yang diperkirakan terdapat virus zika ini. Ya, virus ini sangat berbahaya bagi ibu hamil!

fakta virus zika

ketahui fakta virus zika agar Anda mampu mencegahnya

Inilah Enam Fakta Penting Tentang Virus Zika

1. Apa Itu Virus Zika?

Zika adalah penyakit yang ditularkan lewat nyamuk, prosesnya lewat gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi virus zika. Diketahui penularannya tidak hanya berhenti lewat nyamuk saja, ditemukan juga bahwa ada penularan zika melalui kontak seksual dan transfusi darah. Hingga 2015, petugas kesehatan menilai zika sebagai “relatif tidak berbahaya”.

Namun, sekarang CDC dan ahli kesehatan lainnya telah menemukan korelasi (hubungan) langsung antara virus zika dan perkembangan kelainan neurologis, yang dikenal sebagai microcephaly, pada bayi baru lahir dan bayi yang belum lahir (masih dalam rahim) yang menyebabkan bayi dilahirkan dengan kepala kecil dan otak yang tidak berkembang.

2. Gejala Akibat Virus Zika

CDC (Centers for Disease Control) memperkirakan bahwa 1 dari 5 orang yang digigit nyamuk terinfeksi zika akan ikut terinfeksi virus tersebut. Dalam kebanyakan kasus, virus ini tergolong ringan dan proses penyebarannya berlangsung antara beberapa hari sampai seminggu, bahkan pada beberapa orang yang telah terinfeksi jarang menyadari kahadiran virus ini dalam tubuh mereka.

Virus zika akan tetap berada di aliran darah manusia selama beberapa hari sampai seminggu, dan menyebabkan gejala ringan. Harap hati-hati gejala ringan mirip dengan flu, seperti demam, nyeri sendi, mata merah (atau konjungtivitis), dan ruam kulit. Sangat jarang pasien yang terinfeksi zika membutuhkan rawat inap di rumah sakit.

3. Bahaya Bagi Wanita Hamil dan Bayi yang Belum Lahir

Pan American Health Organization (PAHO) pertama kali menetapkan virus zika sebagai ancaman bagi wanita hamil dan bayi mereka yang belum lahir pada bulan Mei 2015. CDC (Centers for Disease Control) sekarang memperingatkan bagi wanita hamil dan wanita yang berencana untuk hamil. Mereka diperingatkan agar menghindari perjalanan ke daerah yang terkena dampak zika, karena wanita hamil yang terinfeksi zika akan melahirkan bayi dengan microcephaly, cacat lahir yang ditandai dengan kepalanya yang kecil dan perkembangan otak bayi tidak normal.

Virus zika yang menjangkiti wanita hamil juga dikaitkan dengan sindrom Guillain-Barre (kelemahan otot yang cepat karena sistem saraf perifer yang rusak) pada bayi yang baru lahir. Meskipun zika dapat diwariskan dari ibu hamil ke janin selama kehamilan sampai kelahiran, CDC mencatat bahwa zika tidak dapat ditularkan melalui proses menyusui.

4. Daerah Rawan Virus Zika

Sebelum ditemukannya virus zika di Brasil, pada tahun 2015, zika hanya menyerang wilayah Kepulauan Pasifik (Samoa), Afrika (Cape Verde), dan Asia Tenggara. Di Amerika, kasus zika telah dikonfirmasi di Brasil, Kepulauan Virgin Amerika Serikat, Venezuela, Republik Dominika, Barbados, Kolombia, Bolivia, Guatemala, Ekuador, Haití, El Salvador, Puerto Riko, Saint Martin, Guyana, Honduras, Guadeloupe, Meksiko, Guyana Perancis, Suriname, Panama, Martinique, dan Paraguay.

5. Metode Perawatan Akibat Zika

Saat ini belum ada vaksin atau obat oral (yang diminum seperti kapsul/tablet) yang tersedia untuk mencegah penyebaran virus zika. Namun, penting untuk memberi tahu dokter jika Anda baru saja kembali dari daerah yang terkena dampak dari virus ini. Jika ada gejala, dokter Anda bisa melakukan tes darah untuk memastikan adanya infeksi atau tidak (yaitu, demam berdarah, cikungunya, dan zika).

Jika tidak, perawatan akan fokus pada gejalanya saja. Misalnya, dokter mungkin merekomendasikan acetaminophen (bukan Aspirin atau NSAID/Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs) untuk mengobati nyeri sendi dan demam. Anda pun akan disarankan untuk istirahat secara total dan perbanyak konsumsi cairan (air minum, buah, sayur berkuah, dsb.) agar terhindar dari dehidrasi dan membantu tubuh melawan virus ini.

Apakah diperlukan rawat inap selama beberapa hari dan pemerikasaan yang intensif di rumah sakit?. Tidak perlu, menurut ahli kesehatan sampai saat ini rawat inap belum diperlukan bagi penderita penyakit zika.

6. Tips Pencegahan Virus Zika

Zika adalah ancaman terbesar bagi wanita hamil dan si jabang bayi yang belum lahir. Oleh karena itu, CDC (Centers for Disease Control) menyarankan agar wanita menunggu atau menunda perjalanan mereka ke daerah yang terkena dampak Zika.

Jika karena urusan yang terlalu mendesak, janji yang tak bisa dibatalkan, atau ada permasalahan keluarga yang butuh segera diselesaikan, sehingga Anda tidak dapat menunda sama sekali perjalanan ke daerah rawan virus Zika ini, maka tindakan pencegahan yang ketat harus diikuti adalah menghindari gigitan nyamuk.

Kenali Ciri-ciri nyamuk pembawa virus zika, DBD, dan Chikungunya

Untuk menghindari infeksi Zika, petugas kesehatan akan merekomendasikan kepada Anda agar memakai pengusir serangga buatan Amerika yaitu Environmental Protection Agency (EPA) (dengan DEET, IR3535 dan picaridin), di dalam ruangan atau di luar rumah, setiap saat sepanjang siang dan malam.

Pakaian harus terdiri dari celana panjang dan kemeja lengan panjang yang telah di semprotkan dengan permetrin, insektisida kimia sintetis, dan jangan lupa perlindungan selama tidur (misalnya, pakailah kelambu dan pendingin udara/ac ) harus digunakan.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer