Hiperemesis Gravidarum : Gejala, Penyebab, Pengobatan

Hiperemesis gravidarum adalah kondisi mual muntah yang berlebihan pada masa kehamilan. Selain dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini dapat juga mengganggu kondisi fisik dan psikologis ibu. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan karena dapat berbahaya bagi ibu dan janin.

Istilah Hiperemesis gravidarum berasal dari kata hyper yang berarti berlebihan, emesis yang berarti muntah, dan gravidarum yang berarti proses kehamilan. Pada kondisi ini ibu mengalami mual dan muntah terus menerus, bisa mencapai lebih dari 50 kali dalam sehari. Hiperemesis gravidarum yang berat terjadi hampir sekitar 0.3 – 2 % dari kehamilan sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

hiperemesis gravidarum

Sebenarnya kondisi mual dan muntah selama kehamilan adalah hal yang wajar, umumnya terjadi pada pagi hari sehingga sering disebut morning sickness, walaupun dapat terjadi kapan saja. Hampir 50 – 90% wanita hamil mengalami morning sickness. Mual dan muntah ini diyakini sebagai suatu mekanisme pertahanan tubuh pada wanita hamil dan janinnya terhadap makanan-makanan berbahaya yang mengandung bakteri atau racun, sehingga tidak mengganggu proses perkembangan janin.

Mual dan muntah biasanya dimulai sejak kehamilan memasuki usia 9 – 10 minggu, mencapai puncaknya pada usia kehamilan 11 – 13 minggu, dan mulai berkurang pada usia kehamilan 12 – 14 minggu. Hanya sebagian kecil yang berlanjut sampai usia kehamilan 20 – 22 minggu.

Gejala Hiperemesis Garvidarum

Selain timbul gangguan pada sistem saluran pencernaan hingga menimbulkan mual dan muntah yang hebat, pasien hiperemesis gravidarum juga dapat merasakan berbagai keluhan lain, seperti :

  • Penurunan berat badan > 5% dari berat badan sebelum hamil
  • Produksi air liur berlebih
  • Volume urin berkurang
  • Lemas
  • Pusing
  • Gangguan tidur
  • Indera penciuman menjadi sangat sensitive
  • Gangguan indera pengecapan
  • Depresi
  • Cemas
  • Mudah tersinggung
  • Mood yang mudah berubah-ubah
  • Sulit konsentrasi

Penyebab Hiperemesis Gravidarum

Penyebab utama terjadinya hyperemesis gravidarum masih belum diketahui secara pasti. Mengapa ada wanita hamil yang mengalaminya dan ada juga yang tidak, padahal perubahan fisiologis selama kehamilan adalah sama.

Faktor utama penyebab timbulnya hiperemesis gravidarum diduga berkaitan dengan perubahan hormon selama kehamilan. Dimana terjadi kenaikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) yang dihasilkan oleh plasenta selama kehamilan. Selain itu dapat juga dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron.

Adanya gangguan fungsi hati, gerak peristaltik dari sistem pencernaan, dan infeksi juga dapat menyebabkan terjadinya hiperemesis gravidarum.

Siapa yang lebih beresiko?

Walaupun misalnya seorang wanita memiliki faktor resiko untuk mengalami hiperemesis grvidarum, namun belum tentu wanita tersebut akan benar-benar mengalaminya, tergantung lagi dari masing-masing individu.

Adapun faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya hiperemesis gravidarum pada wanita hamil, antara lain :

  • Riwayat kehamilan sebelumnya dengan hyperemesis gravidarum
  • Riwayat keluarga. Baik orang tua atau saudara kandung perempuan yang pernah mengalami hiperemesis gravidarum selama kehamilan akan turut mempengaruhi.
  • Berat badan berlebih
  • Adanya penyakit trofoblas atau penyakit lain dalam rahim
  • Mengandung bayi kembar. Semakin banyak bayi kembar yang dikandung (kembar 2,3, atau lebih) maka semakin besar resikonya.
  • Kehamilan pertama. Diduga karena belum “terbiasa” dengan janin, dan kemungkinannya akan berkurang pada saat kehamilan ke-2, 3, dan seterusnya.

 

Pengobatan Hiperemesis Gravidarum

Pada umumnya kondisi ini dapat sembuh dengan sendirinya ketika kehamilan memasuki usia 20 – 22 minggu tanpa mengonsumsi obat-obatan apapun. Oleh karena itu penanganan pasien hiperemesis gravidarum masih bersifat konservatif, dimana meliputi terapi psikis dan suportif agar ibu tetap semangat dan tidak stress, serta mengatur pola makan yang dikonsumsi untuk mengurangi mual dan muntah.

Obat-obatan anti mual-muntah tidak boleh sembarangan dikonsumsi, harus yang benar-benar aman dan dianjurkan oleh dokter.

Beberapa golongan obat yang dapat digunakan untuk mengatasi mual muntah selama kehamilan antara lain :

  • Obat anti muntah, seperti metoclopramide, ondansetron, dan sebagainya
  • Obat-obatan herbal, seperti jahe
  • Vitamin B6 atau pyridoxine
  • Kortikosteroid, yaitu methylprednisolone
  • Antihistamin, seperti diphenhydramine

Apabila dengan penggunaan obat-obatan tersebut, pasien masih mengalami hiperemesis gravidarum, dapat disarankan agar pasien dirawat untuk mengembalikan semua cairan tubuh yang sudah terbuang melalui pemberian cairan infus. Karena jika terus dibiarkan, kondisi tersebut dapat mengancam keselamatan ibu dan janinnya.

Pada sebagian kecil kasus hiperemesis gravidarum yang sangat berat (walaupun sangat jarang terjadi), dapat saja dokter menyarankan untuk operasi terminasi (penghentian) kehamilan. Hal ini menjadi pertimbangan karena kondisi ibu sudah sangat kritis sehingga tidak mampu lagi melanjutkan proses kehamilan.

Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan antara lain :

  • Edukasi ibu mengenai tanda dan gejala yang mungkin timbul selama kehamilan, sehingga ibu memiliki persiapan mental dan tidak stress.
  • Bedrest total
  • Makan dalam porsi kecil dan lebih sering
  • Jangan menahan lapar
  • Hindari makanan yang terlalu berlemak dan pedas
  • Hindari faktor pemicu yang dapat menimbulkan mual, seperti bau-bauan menyengat, suara bising, menyetir mobil, dan sebagainya
  • Acupressure dan hipnotis dapat dicoba sebagai alternatif pengobatan.

Baca juga: Cara Aman Mengatasi Mual Muntah Saat Hamil

Komplikasi

Apabila hiperemesis gravidarum terus berlanjut dan tidak dapat ditangani dengan baik, maka dapat menimbulkan komplikasi yang serius bagi ibu dan janin. Contoh beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain :

  • Dehidrasi atau kekurangan cairan
  • ketidakseimbangan elektrolit dan asam-basa
  • kekurangan nutrisi
  • bayi lahir prematur atau berat badan bayi lahir rendah
  • ketosis yaitu peningkatan kadar asam keton yang berbahaya bagi tubuh
  • tekanan darah ibu rendah
  • kematian ibu dan janinnya.

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer