Ketahui Jenis Jenis Penyakit Lupus yang Bervariasi

Lupus adalah penyakit autoimun yang memiliki beragam jenis. Mulai dari yang dapat memengaruhi banyak organ tubuh hingga yang hanya terjadi pada bayi. Ketahui masing-masing perbedaan dari jenis-jenis penyakit lupus tersebut sebagai pemahaman lebih dalam.

Jenis-jenis penyakit lupus yang perlu diketahui

1. Lupus Eritematosus Sistemik (Systemic Lupus Erythematosus, SLE)

ciri-ciri lupus berupa ruam kupu-kupu

Jenis lupus yang paling umum, mendominasi sekitar 70% dari kasus lupus di dunia. Saking umumnya, orang sering merujuk pada lupus SLE ketika membicarakan penyakit lupus. Lebih dari 90% kasus SLE terjadi pada wanita dan seringkali dimulai pada usia subur.

Untuk penyebab pastinya hingga saat ini belum dapat diketahui. Namun, ada beberapa faktor terkait kemunculannya. Diantaranya seperti faktor genetik, lingkungan (virus, stres fisik/emosional, peristiwa traumatis, paparan sinar ultraviolet, obat-obatan, rokok & beberapa zat kimia) dan hormon.

Gejala SLE sendiri begitu bervariasi dan dapat berubah seiring waktu. Namun yang umum terjadi diantaranya, yakni ruam yang menyebar pada batang hidung dan kedua pipi, kelelahan yang ekstrem, demam, nyeri sendi, sakit kepala, kerontokan rambut dan fenomena Raynaud.

Gejala lain dapat terjadi akibat komplikasi pada organ tubuh tertentu. Misal seperti warna urine yang menjadi keruh atau berbusa akibat masalah ginjal, mudah memar dan mimisan yang bisa jadi pertanda dari trombositopenia, nyeri tajam di dada yang mungkin menunjukkan peradangan pada jantung atau paru-paru dan beberapa lainnya.

Baca juga: Ciri-ciri Penyakit Lupus yang Harus Anda Waspadai

2. Lupus Eritematosus Kutaneus (Cutaneous Lupus Erythematosus, CLE)

jenis lupus pada kulit

Berbeda dari lupus eritematosus sistemik (SLE) yang dapat memengaruhi banyak organ tubuh, lupus jenis ini hanya mengakibatkan peradangan pada kulit. Penyebabnya diduga merupakan kombinasi dari sejumlah faktor, yakni faktor genetik, lingkungan – terutama paparan sinar matahari dan faktor hormonal.

Secara umum, lupus eritematosus kutaneus (CLE) terbagi lagi dalam 3 jenis, yakni:

  1. Kutaneus kronis (lupus diskoid). Bentuk paling umum dari CLE. Gejalanya ditandai dengan munculnya ruam atau lesi pada wajah, telinga, kulit kepala dan area tubuh lain. Lesi tersebut berbentuk bulat, timbul dan bersisik. Biasanya tidak terasa sakit atau gatal, namun dapat menyebabkan jaringan parut. Jika timbul di area kulit kepala dan alis, maka besar kemungkinannya untuk menghasilkan area kebotakan secara permanen.
  2. Kutaneus subakut. Memiliki gejala ruam/lesi kulit yang cenderung lebih ringan. Lesi ini biasanya lebih sering timbul pada batang tubuh bagian atas, termasuk pula dada dan punggung bagian atas. Sementara bagian wajah seringkali terhindar. Lesi pada kutaneus subakut ini dapat sembuh tanpa meninggalkan jaringan parut, namun dapat menyebabkan dispigmentasi kulit yang begitu menonjol.
  3. Kutaneus akut. Mengacu pada erupsi malar khas pada pola kupu-kupu yang terlokalisasi di bagian tengah wajah. Lesi ini terkait erat dengan lupus sistemik (SLE). Dimana kehadirannya menunjukkan kekambuhan dari lupus sistemik itu sendiri. Setelah proses penyembuhan, lesi pada kasus ini dapat menyebabkan hiperpigmentasi pasca inflamasi (HPI), terutama pada penderita yang berkulit gelap.

Kutaneus kronis (lupus diskoid) dan kutaneus subakut dapat berdiri sendiri atau merupakan manifestasi dari SLE. Sementara kutaneus akut, murni merupakan manifestasi dari SLE.

3. Lupus Eritematosus yang Diinduksi Obat (Drug-Induced Lupus Erythematosus, DILE)

jenis drug induced lupus

Lupus eritematosus yang diinduksi obat (DILE) merupakan salah satu jenis penyakit lupus yang dapat sembuh total dalam beberapa hari hingga bulan setelah penghentian obat. Sebagian besar penderita DILE memiliki satu atau lebih gejala klinis SLE. Misal seperti munculnya ruam/lesi, nyeri sendi, demam, rambut rontok, limfadenopati dan lainnya.

Penyebab DILE sendiri dipicu oleh karena penggunaan obat-obatan tertentu yang dikonsumsi dalam jangka panjang. Umumnya obat dari golongan anti-inflamasi, antihipertensi, antikonvulsan dan obat yang digunakan untuk mengobati kondisi kronis seperti penyakit jantung, gangguan tiroid, hipertensi dan gangguan neuropsikiatri. Beberapa obat yang paling ‘disalahkan’ dari kondisi ini, yakni:

  • Hydralazine & Diltiazem – obat untuk hipertensi.
  • Procainamide & Quinidine – obat untuk aritmia jantung.
  • Isoniazid – obat untuk tuberkulosis (TB).

4. Lupus Eritematosus Neonatal (Neonatal Lupus Erythematosus, NLE)

jenis lupus pada bayi neonatal

Lupus eritematosus neonatal sebenarnya bukanlah bentuk lupus sejati yang didapat akibat kelainan autoimun bayi itu sendiri, melainkan dari autoantibodi yang diturunkan oleh si ibu. Nama lupus disematkan lantaran kondisi ini dapat menyebabkan ruam kulit yang menyerupai lupus sebenarnya.

Penyebab lupus ini berasal dari autoantibodi spesifik ibu hamil (anti-Ro/SSA, anti-La/SSB atau anti-RNP) yang bergerak melintasi plasenta hingga menuju ke janin yang sedang berkembang. Autoantibodi ini kemudian merusak jaringan janin melalui proses yang tidak sepenuhnya dipahami hingga akhirnya menimbulkan gejala.

Gejala yang paling umum adalah ruam merah atau erupsi kulit khas yang terkait dengan SLE. Ruam merah atau lesi tersebut paling sering timbul di wajah dan kulit kepala, jarang terjadi di badan, lengan dan kaki. Biasanya ruam/lesi kulit ini bersifat sementara dan akan sembuh secara total dalam hitungan minggu – bulan tanpa meninggalkan jaringan parut.

Dalam kasus yang jarang terjadi, NLE pada bayi dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti trombositopenia, anemia, neutropenia, splenomegali (pembesaran limpa), hepatomegali (pembesaran organ hati), hepatitis kolestatik, makrosefali hingga kondisi jantung yang dikenal sebagai blok jantung bawaan (congenital heart block).

Lihat sumber
#