Kanker Prostat : Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Kanker prostat merupakan kanker yang paling sering terjadi pada pria. Berdasarkan data dari American Cancer Society,  1 dari 7 orang pria beresiko terkena kanker prostat dan 6 dari 10 orang penderita tersebut berusia lanjut, diatas 65 tahun, jarang terjadi pada pria dibawah 40 tahun. Kanker prostat menempati peringkat kedua dalam penyebab kematian pria karena kanker, selain kanker paru-paru.

Prostat merupakan kelenjar pada organ reproduksi pria yang memproduksi cairan semen. Cairan semen sendiri berfungsi untuk memberikan nutrisi kepada sperma dan sebagai transportasi sperma saat ejakulasi. Prostat terletak tepat dibawah kandung kemih dan mengelilingi pangkal saluran uretra. Kelenjar prostat terletak di depan anus (rectum) sehingga dapat teraba pada saat pemeriksaan colok dubur. Ukuran prostat normal adalah sebesar kacang kenari. Selain berfungsi untuk memproduksi cairan semen, kelenjar prostat juga berperan dalam mengatur proses berkemih. Otot-otot pada kelenjar prostat dapat berkontraksi dan mengendor untuk mengontrol pengeluaran urin.

kanker prostat

kiri normal, kanan kanker prostat

Apa Sajakah Gejala Kanker Prostat?

Pasien kanker prostat seringkali mengeluhkan gejala seperti :

  • Gangguan saat berkemih : timbul rasa nyeri, sulit untuk mulai berkemih sehingga harus dibantu dengan mengejan, pancaran urin yang menetes / putus-putus. Frekuensi berkemih meningkat, bahkan pasien harus sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil. Pada stadium kanker yang lebih lanjut, dapat timbul keluhan inkontinensia urin, yaitu suatu kondisi dimana pasien tidak lagi dapat menahan kencing akibatnya urin keluar tiba-tiba.
  • Hematuria, keluarnya darah pada urin saat berkemih
  • Nyeri pinggang bagian belakang
  • Nyeri saat ejakulasi dan sulit untuk ereksi (jarang)

Keluhan-keluhan yang timbul diatas, hampir mirip dengan keluhan Benign Prostatic Hyperplasia [BPH], yaitu pembesaran kelenjar prostat. Kelenjar prostat yang membesar tidak selalu menjadi kanker prostat. Ciri khas dari kanker adalah gejala-gejala yang menunjukkan keganasan dan dapat menyebar ke organ lain.

Apa Penyebab Kanker Prostat?

Sama seperti kanker-kanker lain pada umumnya, proses terbentuknya kanker merupakan suatu hal yang sangat kompleks. Tidak hanya dipengaruhi oleh 1 macam hal, tetapi berbagai macam faktor. Faktor resiko yang berperan dalam terjadinya kanker prostat adalah :

  • Faktor usia

Kanker prostat biasa terjadi pria berusia lanjut diatas 50 tahun, dan sangat jarang ditemukan pada pria berusia dibawah 40 tahun.

  • Faktor genetik

Pria dengan riwayat keluarga dengan kanker prostat memiliki resiko lebih besar untuk terkena kanker prostat juga dan pada usia 6-7 tahun lebih muda dibanding secara umum.

  • Ras

Ras kulit hitam beresiko lebih besar terkena kanker prostat dibanding ras kulit putih.

  • Faktor makanan

Tidak ada makanan yang secara spesifik dapat mencegah atau menyembuhkan kanker prostat. Akan tetapi untuk mengurangi resiko terkena kanker dapat membatasi konsumsi produk-produk susu, membatasi daging-daging yang dipanggang / digoreng, membatasi makanan berlemak, serta memperbanyak konsumsi sayuran dan buah. Konsumsi alkohol dan merokok juga dapat meningkatkan faktor resiko terjadinya kanker.

  • Obesitas

Pria dengan obesitas memiliki resiko lebih besar terkena kanker prostat.

Penegakan Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis kanker prostat dokter dapat melakukan rectal touche, dimana dokter memasukkan jari melalui lubang anus untuk meraba kelenjar prostat. Pada kanker prostat, perabaan kelenjar prostat akan teraba ukuran prostat yang membesar, permukaan yang tidak rata, dan konsistensi keras. Sebaiknya pemeriksaan rectal touche dilakukan secara berkala.

Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar Prostate-Specific Antigen (PSA) dalam darah. Akan tetapi kadar PSA dalam darah tidak dapat dijadikan patokan untuk menegakkan diagnosis kanker prostat karena kadar PSA dalam darah sangat fluktuatif. Kadarnya dapat meningkat apabila terdapat infeksi pada prostat dan infeksi saluran kemih, sedangkan kadarnya menurun pabila menggunakan obat-obatan tertentu. Kadar PSA yang tinggi bukan berarti ada sesuatu yang berbahaya, melainkan hanya menunjukkan adanya gangguan pada prostat. Pengukuran kadar PSA dapat digunakan untuk sebagai screening terhadap orang yang beresiko terkena kanker prostat dan juga pemantauan keberhasilan terapi.

Penegakkan diagnosis kanker prostat yang paling akurat adalah dengan tindakan biopsy, dimana jaringan kelenjar prostat diambil sedikit kemudian diperiksa dibawah mikroskop, apakah ada tanda-tanda keganasan atau tidak.

Pengobatan Kanker Prostat

Pengobatan yang diberikan tergantung dari tingkat keganasan kanker prostat. Seberapa cepat sel-sel kanker dapat tumbuh dan bagaimana tingkat perubahannya dibandingkan sel prostat normal, dapat menjadi patokan untuk menentukan tingkat keganasan. Setiap pasien memiliki karakteristik dan tingkat keganasan yang berbeda-beda, oleh karena itu pilihan terapi yang baik bagi satu pasien belum tentu baik untuk pasien yang lain.

Beberapa jenis kanker prostat berkembang cukup lambat dan jarang menyebar ke organ lain, sehingga apabila sel kanker tetap berada di kelenjar prostat bukanlah sesuatu hal yang mematikan atau mengancam nyawa. Jarang sekali jenis kanker prostat yang bersifat agresif dan mudah menyebar. Penyebaran sel kanker prostat yang paling sering adalah ke tulang belakang.

Pada tahap awal kanker terapi, pada umumnya tidak diperlukan tindakan yang agresif, hanya wait and see. Secara berkala perlu dilakukan evaluasi terhadap perkembangan kanker. Terapi yang diberikan dapat 1 jenis terapi, namun dapat juga berupa kombinasi beberapa terapi seperti : tindakan operasi prostatectomy (mengangkat seluruh kelenjar prostat), serta kemoterapi dan radioterapi untuk membunuh sel-sel kanker prostat. Tindakan prostatectomy dan radioterapi dapat memberikan efek samping menetap berupa gangguan fungsi ereksi dan inkontinensia urin (tidak dapat menahan kencing).

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer