15 Penyebab Biduran yang Wajib Anda Tahu

Penyebab biduran begitu beragam, mulai dari reaksi alergi akibat makanan, debu dan serbuk sari, obat-obatan hingga pertanda dari adanya infeksi atau penyakit seperti flu, penyakit autoimun hingga kanker.

Biduran atau urtikaria merupakan salah satu jenis gangguan kesehatan kulit yang tergolong umum dan cukup sering dialami oleh banyak orang di seluruh dunia. Gejala khasnya berupa bilur atau ruam merah yang terasa gatal hingga menyengat dengan ukuran yang beragam.

Beberapa faktor pemicu dibalik timbulnya biduran, baik yang bersifat akut atau kronis meliputi alergen, infeksi atau penyakit, rangsangan fisik secara langsung dan faktor mood maupun lingkungan.

Berikut penyebab biduran selengkapnya:

#Alergen

makanan penyebab biduran

Contoh alergen makanan penyebab biduran

Makanan, debu, serbuk sari, bulu hewan peliharaan, bahan-bahan kimia yang terdapat pada produk rumah tangga dan kebersihan hingga obat-obatan menjadi beberapa jenis alergen yang diketahui dapat menyebabkan biduran.

1. Makanan

Makanan dengan nilai gizi tinggi tentunya sangat dibutuhkan tubuh agar selalu berada dalam kondisi yang optimal. Meski demikian, pada beberapa orang konsumsi makanan tertentu seperti hidangan laut, kacang-kacangan, tomat, coklat, telur dan susu, justru dapat menyebabkan timbulnya reaksi alergi atau biduran.

Zat aditif pada makanan seperti pewarna dan pengawet juga patut dicurigai sebagai penyebab timbulnya biduran. Di samping itu, konsumsi makanan yang telah dimasak sebelumnya lebih disarankan daripada mengonsumsi makanan mentah. Selain dapat mencegah biduran, hal ini juga dapat mencegah masuknya parasit atau patogen berbahaya.

2. Debu dan Serbuk Sari

Tak sedikit orang yang mengalami biduran serta beberapa gejala lain berupa mata berair, bersin dan batuk terus-menerus sebagai reaksi alergi terhadap debu dan serbuk sari. Beberapa alergen inhalan lainnya yang patut diwaspadai seperti bulu hewan peliharaan, asap rokok, lateks dan cat dinding yang mengandung VOC (volatile organic compound).

Waspadai pula bahan kimia tertentu seperti isopropyl alcohol yang terdapat pada produk kebersihan maupun perawatan rambut sehari-hari seperti sabun, lotion, shampo dan cat rambut, jika terhirup dapat mengakibatkan gatal-gatal, sakit kepala, pusing dan mual.

3. Obat-Obatan

Beberapa jenis obat seperti antibiotik, anti-inflamasi nonsteroid, krim kortikosteroid, obat hipertensi, insulin, vaksin, obat-obatan kemoterapi dan beberapa jenis lainnya berpotensi memicu timbulnya reaksi alergi ringan berupa biduran, mata berair dan batuk.

Reaksi parah yang dapat ditimbulkan meliputi pembengkakan, reaksi anafilaksis dan kelainan serius juga langka pada kulit yang dikenal dengan nama Sindrom Stevens-Johnson.

#Infeksi atau Penyakit

biduran disebabkan oleh penyakit

Biduran yang bersifat kronis kerap menjadi pertanda dibalik keberadaan beberapa infeksi atau penyakit seperti flu, parasit dalam tubuh, penyakit autoimun bahkan kanker.

4. Flu

Batuk, demam dan bersin-bersin begitu identik dengan gejala flu atau pilek. Kendati demikian, rupanya biduran juga bisa menjadi pertanda flu. Bahkan dalam beberapa kasus, tak sedikit orang yang positif terkena flu meski hanya mengalami biduran saja tanpa disertai dengan gejala flu lainnya.

5. Parasit dalam Tubuh

Keberadaan parasit di dalam tubuh seperti cacing pita, cacing kremi dan trichinella dapat dikenali dengan melihat pertandanya seperti nyeri perut, berat badan yang tak kunjung naik atau terus menurun serta timbulnya biduran berupa ruam merah yang terasa gatal.

Bahkan apabila parasit yang menginfeksi organ pencernaan seperti usus keluar dari tempatnya dan mencapai organ jantung, maka berisiko besar menyebabkan aritmia hingga gagal jantung.

Segera periksakan diri ke dokter bila mendapati gejala gangguan pencernaan disertai dengan biduran. Uji pengambilan sampel feses diperlukan guna mengidentifikasi keberadaan parasit di dalam tubuh.

6. Penyakit Tiroid

Penyebab biduran tak jarang terkait dengan penyakit tiroid. Suatu gangguan pada kelenjar tiroid yang terletak di bawah jakun dan berperan penting dalam mengatur berbagai sistem metabolisme tubuh.

Penyakit sejenis yang kerap menyebabkan pembengkakan kelenjar terutama di leher atau di bawah ketiak dan dapat disertai dengan biduran adalah demam kelenjar, yakni infeksi yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV).

7. Hepatitis

Penyakit hepatitis terutama hepatitis A ditandai dengan perubahan warna pada tubuh yang menjadi kekuningan, nyeri otot juga sendi, diare atau konstipasi dan biduran yang membuat kulit gatal serta kemerahan. Berbeda dengan jenis hepatitis lainnya, seperti hepatitis B atau C, hepatitis A bersifat akut dan jarang berakibat fatal.

8. Penyakit Autoimun

Sekitar setengah dari kasus biduran atau urtikaria kronis terkait dengan penyakit autoimun, seperti lupus atau rheumatoid arthritis. Pengobatannya sendiri meliputi pemberian kortikosteroid oral, antidepresan trisiklik (TCA), terapi intravenous immunoglobulin (IVIg) hingga obat anti-IgE seperti omalizumab (Xolair).

9. Kanker

Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa biduran atau urtikaria kronis terkait dengan kanker hematologi dan kanker non-hematologi seperti kanker otak, sarkoma retroperitoneal, kanker vulva, kanker ginjal, kanker kandung kemih dan beberapa jenis kanker lain yang terkait dengan sistem perkemihan.

#Rangsangan Fisik Langsung

berkeringat penyebab biduran

Paparan sinar matahari, pakaian ketat, keringat berlebih dan gigitan serangga menjadi penyebab timbulnya biduran atau urtikaria fisik.

10. Paparan Sinar Matahari

Biduran juga dapat terjadi sebagai sebuah reaksi inflamasi tubuh terhadap sinar matahari. Kondisi yang disebut dengan solar urtikaria ini merupakan kondisi dermatologis yang langka. Gejalanya berupa ruam kemerahan pada kulit yang terasa begitu gatal, tekanan darah rendah, sakit kepala, mual hingga kesulitan bernapas.

11. Pakaian Ketat

Penggunaan pakaian ketat terlampau sering terlebih yang berbahan kasar, dapat menjadi penyebab biduran atau urtikaria fisik. Dalam kasus lain, gesekan terus-menerus pada kulit yang ditimbulkan oleh pakaian ketat juga dapat menyebabkan terbentuknya eksim kering atau neurodermatitis.

12. Keringat Berlebih

Salah satu jenis urtikaria fisik yang disebut dengan urtikaria kolinergik terjadi akibat reaksi tubuh terhadap keringat berlebih yang timbul di saat suhu tubuh mengalami kenaikan. Baik itu ketika mandi air panas, olahraga berlebih, iklim, pakaian ketat hingga di saat mengalami kegugupan.

Perlu diperhatikan, keringat berlebih juga dapat menjadi pertanda dari penyakit serius. Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami keringat berlebih disertai dengan nyeri dada, berat badan berkurang tanpa sebab yang jelas, sesak napas dan jantung yang berdebar-debar.

13. Gigitan Serangga

Urtikaria papular merupakan reaksi alergi tubuh terhadap gigitan atau sengatan serangga seperti nyamuk, kutu, tungau dan sejenisnya. Kondisi ini dapat menyebabkan timbulnya bilur juga benjolan yang dapat berisi cairan, baik kecil maupun besar pada kulit.

#Faktor Mood dan Lingkungan

stress penyebab biduran

Stres menjadi penyebab sekaligus pemicu memburuknya biduran yang dialami. Perubahan suhu yang cukup ekstrem dan kualitas air yang dipergunakan sehari-hari turut serta menjadi dalang dibalik timbulnya biduran.

14. Stres

Stres menjadi salah satu penyebab biduran yang kerap tidak disadari. Tak sekedar menjadi pencetus, stres bahkan dapat memicu memburuknya biduran yang dialami. Karena terkait erat dengan sistem kekebalan tubuh, stres juga dapat mengundang kedatangan berbagai penyakit serius, seperti diabetes, jantung, alzheimer dan banyak lagi lainnya.

Selengkapnya baca: 13 Penyakit Akibat Stres dari Ringan Hingga Berat

15. Suhu dan Kualitas Air

Selain disebabkan oleh alergen dan infeksi, biduran juga dapat dipicu oleh perubahan suhu dingin atau panas yang cukup ekstrem. Seperti pada kasus urtikaria dingin atau cold urticaria yang dapat bermanifestasi sebagai edema dan urtika pada area yang terekspos setelah terpapar suhu dingin.

Di samping itu, kualitas atau kebersihan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari juga perlu diperhatikan. Alih-alih ingin membersihkan diri, penggunaan air dengan kualitas buruk justru dapat mendatangkan masalah bagi kesehatan kulit.

Mengingat penyebab biduran begitu kompleks, maka dibutuhkan diagnosis secara rinci dan mungkin pemeriksaan penunjang seperti tes alergi, tes darah lengkap atau tes fungsi tiroid guna mengetahui penyebab pasti dibalik terjadinya biduran.

Bila tergolong ringan, biduran dapat diobati dengan menggunakan bahan alami maupun pemberian antihistamin. Namun, bila terus berlanjut atau disertai dengan angiodema maupun reaksi anfilaksis, dibutuhkan perawatan medis sesegera mungkin guna menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Selengkapnya baca Cara Mengobati Biduran Agar Tidak Kambuh Lagi

Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT