Penyebab Demam Berdarah (DBD), Cara Penularan, dan Pencegahannya

Virus dengue yang terdiri dari empat tipe yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 merupakan penyebab demam berdarah yang berkembang biak dan ditularkan melalui perantara nyamuk betina, khususnya nyamuk jenis Aedes aegypti.

nyamuk Aedes penyebab demam berdarah

gambar nyamuk Aedes penyebab demam berdarah

Demam berdarah menjadi salah satu jenis penyakit yang sangat ditakuti karena penularannya yang terbilang cepat dan dapat berujung pada kematian.

Menilik data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), pada tahun 2015, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara endemis demam berdarah di bawah Brazil dengan angka kejadian lebih dari 120 ribu orang, dimana 1. 240 diantaranya meregang nyawa.

Mengingat penyakit ini memang kerap mewabah di wilayah tropis seperti Indonesia. Ditambah dengan minimnya kesadaran masyarakat kita dalam menjaga kebersihan, wajar rasanya jika penyebaran penyakit ini menjadi tak terelakkan.

Untuk itu, ketahui lebih jauh mengenai penyebab demam berdarah, gejala, cara penularan dan pengobatan serta beberapa tips yang dapat diterapkan guna terhindar dari penyakit berjuluk ‘breakbone fever’ ini.

Apa penyebab demam berdarah dan bagaimana itu terjadi?

Demam berdarah atau dengue hemorrhagic fever (DBD) merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh virus dengue melalui perantara nyamuk Aedes aegypti sebagai tempat hidup dan vektor utamanya. Nyamuk Aedes aegypti menularkan virus penyebab demam berdarah tersebut melalui gigitan kecil ke dalam kulit manusia.

Ketika masuk ke dalam tubuh manusia, virus dengue akan bereaksi terhadap sistem kekebalan tubuh kita. Reaksi antara virus dan kompenen kekebalan ini menimbulkan kerusakan pembuluh darah kapiler.

Pembuluh darah menjadi lebih rapuh, bahkan mengalami kebocoran sehingga isinya ‘merembes’ ke jaringan sekitar. Kebocoran ini pun memaksa trombosit untuk menutupinya, semakin banyak trombosit yang digunakan hingga jumlahnya berkurang mencapai titik terendah. Jika sudah demikian, maka tubuh tidak mampu lagi untuk menutup kebocoran tersebut sehingga menimbulkan reaksi perdarahan spontan.

Reaksi perdarahan ringan berupa bintik-bintik perdarahan berwarna merah keunguan di bawah kulit (petekie). Sedangkan perdarahan spontan bisa terjadi pada beberapa organ dalam, saluran pencernaan yang ditandai dengan BAB hitam, serta perdarahan di gusi dan juga mimisan. Kondisi inilah yang kemudian melatarbelakangi penamaan penyakit ini dengan sebutan demam berdarah.

Kenali Gejala Demam Berdarah Sejak Dini!

Gejala demam berdarah biasanya baru dirasakan setelah 4-7 hari sejak virus masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk. Gejala-gejalanya ini ditandai dengan:

  • Demam tinggi hingga 41°C yang bersifat akut.
  • Kelelahan.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri di bagian belakang mata, sendi, otot, dan tulang.
  • Mual dan muntah.
  • Munculnya bintik-bintik merah di kulit setelah 2-5 hari setelah onset demam.

Jika tidak segera ditangani dengan tepat, gejala demam berdarah tersebut dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Diantaranya seperti keluarnya darah dari hidung dan gusi, kerusakan pada pembuluh darah dan kelenjar getah bening, pembesaran hati (hepatomegalidan kegagalan sistem peredaran darah hingga menjadi perdarahan hebat, syok dan kematian, suatu gejala yang dikenal dengan dengue shock syndrome (DSS).

Selengkapnya silahkan baca: Gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Penanganannya

Bagaimana Cara Penularan Demam Berdarah?

Sebenarnya ada beberapa jenis nyamuk yang bertindak sebagai vektor virus dengue seperti Aedes aegyptiAedes polynesiensis dan Aedes albopictus. Namun nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor utama terjadinya DBD di seluruh wilayah Indonesia.

Nyamuk Aedes aegypti ini dapat dikenali dengan melihat ciri khasnya berupa bercak-bercak putih di sekujur tubuh dan kakinya. Nyamuk ini dapat terbang tanpa henti hingga 4 jam dengan jarak tempuhnya yang dapat mencapai 5 km dalam sekali perjalanannya.

Nyamuk betina bertanggung jawab terhadap penularan virus dengue karena bersifat antrofilik dan memerlukan darah untuk memproduksi telurnya. Berbeda dengan nyamuk jantan yang biasanya hanya berumur seminggu dan hidup dengan menghisap nektar.

Selengkapnya telah kami bawah disini: Ciri-Ciri Nyamuk Penyebab Demam Berdarah Disertai Gambar

Virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti betina ini didapatkan dari seseorang yang sebelumnya telah terjangkiti DBD atau seseorang yang tidak terkena DBD namun terdapat virus dengue di dalam darahnya. Di dalam tubuh nyamuk, virus ini pun akan masuk dan berkembang biak di dalam usus halusnya.

Setelah melewati fase perkembangbiakkan di usus halus nyamuk, virus dengue yang terdiri dari empat tipe yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 ini kemudian akan berpindah tempat menuju ke kelenjar saliva atau kelenjar ludah nyamuk dan siap ditularkan lagi ke manusia lewat gigitannya.

Proses pengigitan nyamuk betina biasanya berlangsung pada siang dan sore hari. Ketika nyamuk betina menggigit manusia, kelenjar saliva yang telah terinfeksi virus dengue tersebut kemudian akan masuk ke dalam tubuh dan mulai menginfeksi.

Di dalam tubuh manusia, virus dengue ini akan mengalami masa inkubasi selama kurun waktu 4 hingga 7 hari. Untuk kemudian menyerang sistem peredaran darah yang menyebabkan terjadinya kebocoran pembuluh darah dan penurunan trombosit dalam jumlah besar hingga menimbulkan beberapa gejala seperti dijelaskan sebelumnya.

Adakah upaya pencegahan untuk menangkal penyebab DBD ini?

Untungnya penyakit DBD ini dapat dicegah, baik melalui vaksinasi ataupun penerapan pola hidup sehat dengan memperhatikan kebersihan lingkungan dengan gerakan 3M+.

 

# Vaksin Demam Berdarah

Saat ini terhitung sejak tahun 2016 yang lalu, vaksin untuk mencegah demam berdarah telah tersedia di Indonesia. Vaksin demam berdarah pertama di dunia ini telah diresmikan oleh WHO dan kesediaannya di Indonesia telah mendapat izin dari BPOM.

Vaksin bernama dengvaxia ini diproduksi oleh Sanofi Pasteur, perusahaan asal Perancis, setelah melewati penelitian selama 20 tahun dan studi klinis terhadap 30 ribu orang di seluruh dunia. Vaksin ini terbukti efektif untuk digunakan pada anak berusia 9-16 tahun dan orang dewasa.

Pemberian vaksin dengvaxia sendiri dilakukan bertahap sebanyak 3 kali suntikan dengan jarak waktu 6 bulan. Di mana setiap suntikannya mengandung vaksin untuk 4 tipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4).

Meski begitu, tindakan vaksinasi ini tak menjamin seseorang akan 100% terbebas dari infeksi virus dengue. Kemungkinan terinfeksi masih ada, meski dengan peluang yang lebih kecil dan gejala yang lebih ringan. Untuk itu, menjaga kebersihan lingkungan tetaplah menjadi prioritas utama yang harus dilakukan guna mencegah perkembangbiakkan nyamuk pembawa virus penyebab demam berdarah.

# Mencegah DBD dengan 3M Plus

Cara terbaik yang dapat dilakukan untuk mencegah demam berdarah yakni dengan melakukan vaksin dengvaxia dan menjaga kebersihan sekitar dengan menerapkan gerakan 3M yakni menguras, menutup dan mengubur barang-barang yang tak lagi terpakai.

Selain itu, ada beberapa tips lain (+) yang dapat diterapkan untuk meminimalisir penularan penyakit demam berdarah diantaranya sebagai berikut:

  1. Usahakan untuk tidak tinggal di daerah padat penduduk dan menjauhi daerah kumuh.
  2. Gunakan selalu obat nyamuk baik semprot maupun oles saat berada di dalam ruangan.
  3. Ketika berada di luar ruangan, usahakan untuk mengenakan pakaian dengan lengan dan celana panjang.
  4. Pasanglah kawat antinyamuk di seluruh ventilasi rumah.
  5. Gunakan kelambu di tempat tidur.
  6. Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala yang menunjukkan tanda-tanda demam berdarah.

Tindakan pencegahan dengan sedini mungkin menumbuhkan kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan, merupakan cara terefektif dalam menekan perkembangbiakkan nyamuk pembawa virus penyebab demam berdarah. Penting untuk bersegera mungkin memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami beberapa gejala yang dicurigai sebagai gejala demam berdarah.

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer