Kenali Penyebab Mata Minus agar Bisa Mencegah, Tak Bertambah

Penyebab mata minus memang belum dapat diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang diperkirakan bisa meningkatkan resikonya. Mengetahui hal ini sangatlah penting guna melakukan pencegahan dengan tepat.

Bagi sebagian orang memakai kacamata itu keren karena dapat menambah kesan profesionalitas dan berwibawa. Padahal, tak selamanya memakai kacamata itu enak, apalagi kalau mata Anda rabun. Selain capek karena harus dipakai terus-menerus, daya penglihatan juga jadi bergantung penuh pada kacamata. Saat kacamata dilepas, Anda pun sudah tak bisa melihat obyek jarak jauh dengan jelas.

penyebab mata minus rabun jauh

Hal serupa berlaku pula dengan lensa kontak. Kalau kini banyak orang normal menggunakan lensa kontak sebagai aksesori penunjang penampilan. Namun bagi pengidap miopi atau mata minus, lensa kontak merupakan salah satu kebutuhan primer kalau ia malas mengenakan kacamata. Di samping membuat mata tak nyaman, pedih, kering, dan kemerahan, penderita rabun jauh juga harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membeli sepasang lensa kontak berkualitas secara rutin.

Jadi karena memiliki mata minus itu tidak menyenangkan, maka tak heran kalau kebanyakan orang tua yang berkacamata berusaha keras agar buah hati mereka tidak mengalami hal yang sama. Untuk itu lakukanlah pencegahan.

Untuk dapat mencegahnya, maka kita harus memahami faktor apa saja yang menjadi penyebab mata minus, seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Penyebab Mata Minus yang Perlu Anda Waspadai

Lantas apa sebenarnya penyebab mata minus? Walau tersangkanya belum dapat dipastikan, namun beberapa faktor berikut dipercaya berpotensi kuat menjadi pemicunya. Apa sajakah itu?

  • Tekstur mata

Umumnya, mata minus (miopi) timbul kalau ukuran mata terlalu panjang atau bentuk korneanya terlalu melengkung. Hal ini akan menyebabkan cahaya yang masuk ke mata berfokus ke bagian depan retina, bukan di dalamnya, sehingga penglihatan yang dihasilkan jadi buram. Sayangnya, tak ada hal yang bisa dilakukan untuk mengubah hal ini, kecuali dengan jalan operasi.

  • Keturunan

Mata rabun jauh atau minus biasanya menurun. Bila salah satu atau kedua orang tua mengidap rabun jauh, maka besar kemungkinan anaknya juga akan mengalami hal yang sama. Namun bila orang tua dan saudara lain bermata normal, maka bukan berarti bahwa Anda pasti tidak akan mengalami mata minus. Resiko rabun jauh dapat tetap terjadi kalau kaker nenek ada yang berkacamata.

Sayangnya untuk faktor penyebab mata minus berikut ini tidak dapat dicegah, karena memang sudah takdirnya.

  • Jarang keluar rumah

Riset yang diadakan di Australia pada bulan Agustus 2008 dan Taiwan pada Mei 2013 menunjukkan anak-anak yang sering beraktivitas atau bermain di luar rumah memiliki resiko terkena miopi lebih rendah ketimbang yang tidak. Hal ini dikarenakan tingkat cahaya di luar rumah lebih terang sehingga baik untuk mata.

Jadi kalau ingin buah hati tidak mengidap miopi, sering-seringlah mengajak mereka beraktivitas di luar rumah. Sering berada di dalam rumah juga akan membuat anak-anak cenderung melihat televisi ataupun gadget dan kebiasaan ini bisa menjadi penyebab mata minus.

  • Melihat terlalu dekat

Melihat obyek dari jarak yang terlalu dekat, misalnya ketika membaca, menulis, atau menggunakan ponsel, dapat menjadi penyebab mata normal berubah menjadi minus. Oleh sebab itu, saat melakukan aktivitas di atas, jaga jarak antara obyek dengan mata agar tak terlalu dekat.

  • Mata terlalu lelah/ stres

Sama seperti tubuh yang perlu beristirahat, begitu pula dengan mata. Kalau seorang anak sering menghabiskan banyak waktu untuk membaca, menulis, bermain HP, atau melakukan aktivitas lain yang mengharuskan mata berfokus pada 1 obyek secara terus-menerus, maka itu dapat membuat mata kelelahan. Dan mata capek digadang-gadang dapat menjadi penyebab mata minus selanjutnya.

  • Kacamata dan lensa kontak

Kacamata dan lensa kontak merupakan alat yang selalu dipakai para dokter untuk mengatasi atau membantu penderita miopi untuk melihat. Yang menjadi dilema sekarang adalah, kedua benda tersebut ternyata berpotensi memperburuk rabun jauh yang sudah ada karena membuat minus meningkat. Kondisi ini berlaku khususnya bagi anak-anak.

  • Usia

Seiring bertambahnya usia, minus bisa tetap, menurun, atau justru meningkat. Hal ini juga tergantung dari faktor-faktor penyebab lainnya. Oleh sebab itu hindarilah hal-hal yang menyebabkan mata minus.

penyebab mata minus

  • Ada kelainan

Kelainan mata seperti juling, mata tegang, katarak, hingga glaukoma membuat penglihatan tidak bisa fokus ke suatu obyek dengan benar. Mereka yang mengidap diabetes juga kemungkinan besar menderita mata minus dikarenakan tingginya kadar gula dalam darah.

  • Pernah terluka

Kalau mata pernah terluka, misalnya karena terpapar zat kimia, percikan api, atau lainnya, maka itu juga bisa merusak penglihatan dan menjadikannya rabun.

  • Masalah pada gigi

Beberapa orang percaya ada kaitan erat antara saraf mata dengan gigi. Benarkah hal ini? Meski saraf mata dan gigi sebenarnya tak berhubungan langsung, namun ternyata kesehatan gigi turut memengaruhi daya penglihatan.

Kalau gigi berlubang hingga sampai menginfeksi bagian sarafnya, maka infeksi tersebut bisa menjalar ke area sekitar seperti mata, leher, serta kepala. Tak hanya gigi berlubang, proses cabut gigi yang dilakukan tidak sesuai prosedur bisa menimbulkan infeksi yang bila menjalar ke organ mata bisa membuatnya menjadi rabun.

  • Minim gizi

Faktor terakhir yang turut andil sebagai salah satu penyebab mata minus adalah kurang gizi. Tak hanya vitamin A, mereka yang sehari-hari makan seadanya dengan menu yang jauh dari 4 sehat 5 sempurna, didapati memiliki potensi terkena rabun jauh lebih tinggi.

Jika saat ini Anda sudah terlanjur memiliki mata minus, maka menghindari penyebab-penyebab di atas setidaknya bisa mempertahankkan supaya tidak bertambah minus. Di samping itu simak juga pembahasan kami tentang Cara Benar Mengurangi Mata Minus Secara Alami. Sekian, semoga bermanfaat.

 

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer