Perbedaan Hepatitis B Akut dan Kronis

Tahukah Anda bahwa infeksi virus hepatitis B dapat menyebabkan penyakit hepatitis B akut dan kronis? Lantas apa perbedaan antara Hepatitis B kronis dan akut? Berikut penjelasannya.

Ketika seseorang baru pertama kali terinfeksi virus hepatitis B, maka kondisi itu disebut “infeksi akut” (atau infeksi baru). Sebagian orang yang mengalami infeksi akut tidak merasakan gejala, dan sebagian lagi merasakan gejala-gejala seperti demam, lemas, mual-mual, kuningnya bagian putih mata, kulit dan air seni.

hepatitis b kronis vs akut

Gejala hepatitis B tersebut berangsur membaik seiring proses penyembuhan. Sebagian besar dapat menyingkirkan virus tanpa masalah sehingga sembuh tuntas. Namun, beberapa orang lainnya tidak mampu menyingkirkan virus tersebut setelah enam bulan, sehingga mereka didiagnosis memiliki “infeksi kronis”. Pada infeksi kronis gejalanya terasa lebih ringan bahkan banyak yang tidak menyadarinya, namun virus terus berkembang dalam hati dan menimbulkan kerusakan.

Siapa yang berisiko terinfeksi hepatitis B?

Resiko pengembangan infeksi hepatitis B kronis berbanding terbalik dengan usia penderita saat pertama kali terpapar virus penyebab. Semakin muda seseorang saat pertama kali terinfeksi, maka akan semakin besar risiko terkena infeksi hepatitis B kronis.

Siapapun bisa terkena hepatitis tak terkecuali ibu hamil. Namun sayangnya, sebagian besar wanita hamil tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi hepatitis B sehingga tanpa disadari bisa menularkan virus ke bayi saat proses persalinan. Oleh karena itu, karena tingginya resiko bayi baru lahir untuk terinfeksi Hepatitis B kronis, membuat WHO merekomendasikan agar semua bayi menerima vaksin hepatitis B dosis pertama dalam waktu 12-24 jam setelah kelahiran.

Menurut riset kementerian kesehatan Indonesia (2013), sekitar 0,5% penderita Hepatitis B terinfeksi pada usia di bawah 1 tahun. Sedangkan balita usia 1-4 tahun yang terinfeksi Hepatitis B sekitar 0,8 %. Inilah sebabnya mengapa rekomendasi untuk vaksinasi hepatitis B pada bayi dan anak sangat penting. Resiko infeksi kronis sangat tinggi apabila mereka tidak dilindungi terhadap virus hepatitis B sesegera mungkin.

Apa perbedaan hepatitis B kronis dan akut?

Mari kita simak perbedaan hepatitis B akut vs kronis di bawah ini.

Infeksi Hepatitis B akut

Infeksi hepatitis B akut dapat berlangsung hingga enam bulan (dengan atau tanpa gejala). Orang yang terinfeksi dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain selama masa ini. Tes darah sederhana dapat memberi tahu seseorang apakah virus hepatitis B tersebut masih ada dalam darah ataukah mereka berhasil menyingkirkan virus tersebut. Hingga dokter memastikan bahwa tes darah menunjukkan tidak ada lagi virus hepatitis B dalam darah Anda, penting untuk melindungi orang lain dari kemungkinan tertular.

Penting juga bagi pasangan suami istri dan anggota keluarga Anda (atau orang terdekat) melakukan pemeriksaan hepatitis B. Jika mereka belum terinfeksi dan belum menerima vaksin hepatitis B, sebaiknya mereka harus segera diberi vaksin hepatitis B.

Gejala infeksi hepatitis B akut antara lain hilangnya nafsu makan, nyeri sendi dan otot, demam ringan, dan kemungkinan sakit perut. Meski kebanyakan orang tidak merasakannya, gejala tersebut berlangsung selama 60-150 hari setelah terinfeksi, rata-rata 90 hari atau 3 bulan. Beberapa orang mungkin mengalami gejala yang lebih parah seperti mual, muntah, jaundice atau penyakit kuning (menguningnya mata dan kulit), atau perut kembung yang harus segera ditangani oleh ahli medis.

Jika diperlukan pengobatan untuk infeksi hepatitis B akut, orang tersebut akan dirawat di rumah sakit untuk mendapat dukungan medis. Istirahat total dan menangani gejala hepatitis B akut adalah tujuan utama perawatan medis ini.

Kondisi langka yang mengancam jiwa juga dapat terjadi yang disebut “hepatitis fulminan“. Hepatitis fulminan memerlukan perhatian medis segera dan mendesak, karena seseorang dapat mengalami gagal hati secara mendadak.

Tips sederhana untuk merawat hati Anda selama infeksi akut adalah dengan menghindari minuman beralkohol, berhenti atau membatasi kebiasaan merokok, makan makanan sehat, dan hindari makanan berlemak. Konsultasikan dengan dokter mengenai resep obat dan ajukan pertanyaan lain yang mungkin Anda miliki selama ini.

Penggunaan vitamin dan suplemen kesehatan hati kemungkinan tidak akan membantu pemulihan. Malah bisa jadi akan menyebabkan kerusakan lebih pada hati Anda. Oleh sebab itu, pastikan untuk menindaklanjuti masalah tersebut dengan berkonsultasi pada dokter. Lakukan tes darah tambahan yang diperlukan untuk memastikan pemulihan dari infeksi akut.

Infeksi Hepatitis B Kronis

Infeksi Hepatitis B kronis adalah infeksi virus hepatitis B yang terjadi selama lebih dari enam bulan (setelah hasil tes darah pertama menunjukkan positif). Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh tidak dapat menyingkirkan virus hepatitis B sehingga masih tetap berada dalam darah dan organ hati.

Resiko pengembangan infeksi hepatitis B kronis berbanding terbalik dengan usia penderita saat pertama kali terpapar virus hepatitis B. Semakin muda seseorang saat pertama kali terinfeksi, maka akan semakin besar risiko terkena infeksi hepatitis B kronis. Riset membuktikan bahwa:

  • 90% bayi baru lahir yang terinfeksi akan mengalami infeksi hepatitis B kronis.
  • Hampir 50% anak yang terinfeksi (1-5 tahun) akan mengembangkan infeksi hepatitis B kronis.
  • 5-10% orang dewasa yang terinfeksi akan mengembangkan infeksi hepatitis B kronis (yaitu 90% akan sembuh).

Menyadari sedari awal bahwa Anda terjangkit infeksi hepatitis B kronis bisa sangat membantu. Celakanya, kebanyakan orang tidak memiliki gejala dan baru didiagnosis terinfeksi virus hepatitis B setelah beberapa dekade kemudian. Anda pasti akan shock dengan hasil tes tersebut. Namun, kabar baiknya adalah kebanyakan orang dengan hepatitis B kronis memiliki motivasi untuk dapat hidup lebih lama dan sehat.

Keyakinan itulah yang membuat pengobatan atau terapi menjadi efektif sehingga dapat mengendalikan dan bahkan menghentikan aktifitas virus hepatitis B dalam menimbulkan kerusakan hati lebih lanjut. Telah ditemukan juga pengobatan baru yang bisa memberikan penyembuhan dalam waktu dekat.

Bagimana mengobati Hepatitis B akut dan Kronis?

Perawatan dan pengobatan yang dapat diberikan pada penderita Hepatitis B Akut meliputi:

  • Istirahat total/tirah baring. Ini merupakan perawatan baku yang sudah lama dianjurkan kepada penderita dengan hepatitis B akut. Lamanya istirahat total yang dianjurkan tergantung pada keadaan umum penderita dan hasil pemeriksaan pada hati, terutama terhadap kadar serum bilirubin.
  • Diet (pola makan). Pada prinsipnya penderita harus mendapat diet cukup kalori. Pada stadium akut, masalahnya adalah penderita menrasa mual, dan bahkan muntah, juga tidak nafsu makan. Dalam keadaan ini, jika dianggap perlu pemberian makanan dapat dibantu dengan pemberian infus cairan glukosa. Apabila nafsu makan sudah ada, dan rasa mual sudah berkurang, makanan penderita sebaiknya diganti dengan makan nasi dengan diet kaya protein. Pemberian protein sebaiknya diawali dengan memberikan 50 mg/kg BB, kemudian dinaikkan secara perlahan hingga mencapai 100 mg/kg BB, dengan tujuan untuk membantu memperbaiki sel-sel parenkim hati.
  • Obat-obatan. Hingga saat ini belum ada obat yang efektif memperbaiki kematian/kerusakan sel hati dan memperpendek perjalanan penyakit hepatitis B akut.

Perawatan dan pengobatan Hepatitis B Kronis

Meski penderita hepatitis B kronis memiliki resiko yang tinggi untuk terkena terkena penyakit hati yang serius, seperti sirosis dan kanker hati, namun masih banyak hal sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi risikonya, antara lain:

  • Jadwalkan kunjungan rutin setiap enam bulan (atau setidaknya setiap tahun) dengan dokter spesialis hati. Dengan demikian dokter dapat memeriksa kesehatan hati Anda melalui tes darah atau tes pencitraan diagnostik.
  • Konsultasikanlah dengan ahli medis tentang pengobatan untuk infeksi hepatitis B kronis. Hal tersebut akan sangat membantu Anda dalam mencegah penyakit hati atau kanker hati yang serius.
  • Pastikan bahwa dokter melakukan pemeriksaan untuk kemungkinan gejala kanker hati.
  • Hindari atau batasi alkohol dan merokok karena keduanya menyebabkan kerusakan pada hati yang lebih berat.
  • Makan makanan sehat dengan banyak sayuran.
  • Hindari makan makanan yang digoreng, dan makanan berminyak yang dapat beresiko memperparah gejala hepatitis B.

Demikianlah ulasan mengenai perbedaan hepatitis B akut dan hepatitis B kronis. Penulis berharap semoga pembaca dapat menambah wawasannya mengenai penyakit hepatitis B serta bagaimana mengurangi resiko yang ditimbulkan.

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer