Radang Usus Buntu pada Anak, Kenali Gejala dan Penanganannya

Ayah dan Bunda harus lebih waspada apabila mendapati anaknya sering mengeluh sakit perut tanpa sebab yang jelas, apalagi jika disertai dengan muntah-muntah. Bisa jadi kondisi seperti ini merupakan gejala dari penyakit usus buntu.

Nah, agar kita selaku orang tua bisa lebih peka dan lebih memahami penyakit ini apabila sewaktu-waktu menyerang buah hati kesayangan. Ada baiknya kita mengenal apa itu penyakit usus buntu, apa saja gejalanya dan bagaimana cara mengobatinya.

usus buntu pada anak

nyeri perut kanan bawah adalah gejala khas usus buntu

Apa sih Penyakit Usus Buntu Itu?

Penyakit usus buntu atau apendisitis merupakan peradangan atau pembengkakan pada usus buntu yang sebagian besar terjadi akibat tersumbatnya pintu masuk menuju usus buntu karena feses yang mengeras atau karena kelenjar getah bening yang membengkak di dalam dinding usus.

Ketika usus buntu tersumbat, bakteri akan berkembang biak dengan cepat sehingga menyebabkan usus buntu membengkak. Kondisi ini apabila tidak segera ditangani maka dapat menyebabkan usus buntu pecah dan mengeluarkan isi-isinya. Termasuk nanah yang banyak mengandung bakteri yang dapat menyebar ke rongga perut dan mengancam keselamatan anak.

Ayah dan Bunda bisa membayangkan betapa mengerikannya dampak serius akibat penyakit usus buntu ini bukan? Oleh karena itu, kenalilah gejalanya dan segera bawa ke dokter apabila ia mengalaminya.

Apa Saja Gejala Usus Buntu pada Anak?

Gejala utama dari radang usus buntu ditandai dengan adanya rasa sakit di perut. Ya, meskipun banyak sekali penyebab yang memicu kondisi ini, namun kita selaku orang tua harus amat sangat berhati-hati apabila mendadak buah hati kesayangan mengeluhkan sakit perut tanpa sebab yang jelas.

Gejala sakit perut ini kerap kali disertai dengan gejala lain, seperti mual dan muntah, perut terasa kembung, demam, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi dan perubahan suasana hati.

Biasanya sakit perut akibat radang usus buntu berawal di sekitar perut bagian tengah atau sekitar pusar. Lalu selang beberapa saat kemudian, rasa sakit itu akan menjalar ke sisi kanan bawah perut tempat dimana usus buntu berada. Seiring berjalannya waktu, rasa sakitnya pun akan semakin menjadi, terlebih ketika anak bergerak atau beraktivitas, batuk, bersin atau menyentuh perutnya.

Adapun ciri-ciri dan gejala rincinya bisa Anda baca disini:

Apabila orang tua tidak sigap mengatasi kondisi ini, maka kemungkinan buruk pun akan terjadi, yaitu pecahnya usus buntu yang rasa sakitnya dapat dengan cepat menyebar ke seluruh perut.

Bagaimana Mengobati Penyakit Usus Buntu pada Anak?

Langkah pertama yang harus dilakukan orang tua ketika anak menunjukkan gejala penyakit usus buntu yaitu dengan langsung membawanya ke dokter atau rumah sakit. Tentu saja hal ini bertujuan agar buah hati kesayangan segera mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Pengobatan akan lebih sulit dilakukan bila saja terlambat ditangani. Mengapa? karena penyakit usus buntu termasuk kondisi medis yang serius, dan tak jarang hanya dalam beberapa jam saja usus buntu yang meradang akan pecah dan menginfeksi organ perut lainnya, seperti peritonitis. Sekali lagi ingat ya, jangan pernah mengulur waktu atau menunda-nunda pengobatannya. Segera bawa anak kerumah sakit, ketika didapati gejala penyakit usus buntu terjadi padanya.

Saat berada dirumah sakit, dokter akan melakukan diagnosis terhadap penyakit usus buntu dengan melakukan beberapa pemeriksaan. Setelah dipastikan, barulah akan dilanjutkan ke tahap pengobatan. Pemulihan pasca pengobatan yang biasanya dilakukan dengan prosedur operasi harus selalu dipantau, apabila sewaktu-waktu ada gejala atau efek samping yang tidak diinginkan.

Diagnosis Penyakit Usus Buntu

Untuk mendiagnosis kondisi medis dari penyakit usus buntu, diperlukan anamnesis rinci dan pemeriksaan fisik ditambah dengan pemeriksaan lebih lanjut yang berupa:

  • Tes darah. Untuk melihat tanda-tanda infeksi dan memastikan apakah ada infeksi pada organ perut lainnya seperti pankreas atau hati.
  • Urinalisis (tes urine). Untuk menghapus kemungkinan penyakit lain, seperti infeksi saluran kemih yang gejalanya menyerupai penyakit usus buntu.
  • USG dan CT-scan. Untuk melihat kondisi usus buntu, apakah terjadi pembengkakan atau tidak.

Pengobatan Penyakit Usus Buntu pada Anak

Pengobatan penyakit usus buntu tergantung pada gejala, usia dan kondisi kesehatan keseluruhan dari anak itu sendiri. Namun, karena penyakit ini termasuk keadaan darurat medis yang harus ditangani dengan cepat ditambah fungsi usus buntu sendiri yang tidak begitu vital bagi tubuh manusia, maka menjalani prosedur operasi jauh lebih aman. Hal ini dilakukan demi menghindari risiko pecahnya usus buntu yang justru dapat membahayakan organ-organ penting lainnya di perut.

Operasi pengangkatan usus buntu ini dikenal dengan istilah apendektomi dan terdapat dua pilihan bedah yang tersedia, yaitu:

  • Operasi terbuka – Prosedur operasi ini diawali dengan membuka perut melalui sayatan kecil di sisi kanan bawah perut dengan anestesi umum (bius total). Setelah usus buntu yang meradang terlihat, dokter bedah akan memotong dan mengangkatnya. Apabila didapati usus buntu pecah, maka dokter akan melakukan pemasangan drain (Penrose drain) untuk menguras nanah atau cairan dari rongga perut.
  • Operasi laparoskopi – Operasi ini lebih sederhana dibandingkan dengan operasi terbuka. Karena hanya membutuhkan beberapa sayatan kecil saja di perut untuk memasukkan alat yang disebut laparoskop. Alat ini berupa tabung kecil yang memiliki kamera juga lampu diujungnya dan tersambung dengan monitor. Dengan bantuan alat inilah dokter bedah akan mengangkat usus buntu yang meradang tanpa perlu melakukan sayatan besar seperti pada operasi terbuka. Namun, operasi ini tidak dapat dilakukan apabila usus buntu anak sudah pecah dan menginfeksi organ perut lainnya.

Selengkapnya baca disini: Operasi Usus Buntu (Appendectomy)

Pemulihan Pasca Operasi

Setelah anak menjalani operasi pengangkatan usus buntu, sementara waktu anak tidak diijinkan untuk makan dan minum apapun. Larangan ini harus diterapkan sampai usus sudah benar-benar siap bekerja untuk mencerna makanan.

Sebagai gantinya, anak akan diberikan cairan intravena dan antibiotik untuk mengurangi rasa sakit serta mempercepat penyembuhan luka pasca operasi. Apabila kondisi fisiknya dirasa sudah membaik, barulah anak diperkenankan untuk minum air dan mengonsumsi makanan padat secara bertahap.

Pemulihan dan perawatan di rumah harus dilakukan sesuai dengan petunjuk dokter. Pantau dan perhatikan aktivitas anak di rumah. Jangan sampai ia melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat memicu terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan pada luka operasi. Beritahu juga tentang bagaimana cara mandi tanpa membasahi luka sayatan operasi sesuai instruksi dokter.

Bertindak cepat adalah kuncinya!

Segera konsultasikan dengan dokter apabila anak mengalami beberapa gejala pasca operasi. Seperti, demam atau kedinginan, terjadi pembengkakan atau perdarahan di bagian luka operasi, muntah, selera makan menghilang, batuk dan sulit bernapas, nyeri pada perut atau mengalami diare.

Jaga dan perhatikan selalu kesehatan anak kita. Ketika ia mengeluhkan beberapa gejala yang tidak biasa, segera periksa kondisi kesehatannya pada dokter. Jangan pernah menunda-nunda pengobatannya, demi menghindari terjadinya risiko buruk yang tidak diinginkan. Semoga Ayah Bunda beserta buah hati kesayangan selalu diberi kesehatan ya.

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer