Tambal Gigi atau Cabut Gigi? Pilih Sesuai Kondisi

Bagi Anda yang pernah merasakan sakit gigi, pasti tidak ingin mengalaminya untuk kedua kali, bukan?. Dengan pengobatan dan perawatan tepat Anda bisa terbebas dari masalah sakit gigi akibat gigi yang rusak. Ada dua pilihan perawatan, yaitu tambal gigi atau cabut gigi.

Tambal gigi dan cabut gigi adalah dua prosedur yang biasa digunakan dokter dalam merawat gigi yang rusak. Lalu, manakah yang lebih baik dari dua prosedur perawatan gigi ini? dan Anda harus pilih yang mana?

Pertanyaan ini cukup sulit dijawab oleh kita, karena kedua metode ini punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pastinya, peruntukan dari masing-masing prosedur tersebut memerlukan pertimbangan dari dokter berdasarkan kerusakan gigi yang Anda alami setelah dilakukan pemeriksaan.

Jadi harus tetap pergi ke dokter gigi? Ya iya, tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Jadi jangan sampai Anda datang-datang langsung meminta dokter untuk menambal atau mencabut gigi Anda. Padahal Anda tidak tahu benar akan kondisi gigi saat ini.

Agar lebih jelasnya, pelajari lebih dulu dua prosedur perawatan gigi ini sehingga Anda lebih merasa yakin akan keputusan untuk menambal atau mencabut gigi. Meskipun sekali lagi, keputusan terbaik akan direkomendasikan oleh dokter gigi yang merawat.

Kapan Diperlukan Tambal Gigi?

Tambal gigi bisa digunakan untuk menyelamatkan gigi dari kerusakan lebih lanjut. Gigi yang rusak akan diperbaiki tanpa perlu menghilangkannya, bahkan fungsinya bisa kembali seperti sedia kala.

Prosedur penambalan gigi dilakukan jika struktur yang menyokong gigi masih dalam kondisi baik dan gigi hanya berlubang atau paling parah terdapat infeksi yang hanya mencapai pulpa-nya saja.

Pulpa gigi adalah lapisan paling dalam dari gigi yang terdiri dari pembuluh darah dan jaringan saraf. Struktur ini merupakan satu-satunya struktur gigi non-tulang yang diselimuti oleh tulang gigi itu sendiri. Pulpa inilah yang berfungsi mengalirkan darah untuk menjaga kesehatan gigi.

Jika gigi Anda berlubang dan lubang ini cukup dalam hingga menembus pulpa gigi, maka hal inilah yang menyebabkan bakteri dalam mulut masuk mencapai pulpa dan menyebabkan infeksi. Infeksi bakteri ini akan menyebabkan pembengkakan bahkan hingga kematian jaringan pulpa.

Atas dasar ini, maka ada dua jenis penambalan gigi, yaitu penambalan dangkal dan penambalan dalam (saluran akar).

  • Penambalan dangkal atau tambal biasa cukup dilakukan satu kali prosedur tambal permanen. Prosedur perawatan gigi ini berguna untuk lubang-lubang yang masih dangkal, dimana lubang tersebut tidak pernah menyebabkan sakit gigi yang berdenyut. Melainkan hanya ngilu saja saat menyantap makanan atau minuman dingin atau panas.
prosedur tambal gigi

tambal gigi perawatan saluran akar

  • Perawatan Saluran Akar. Dilakukan beberapa kali perawatan, biasanya 4 kali tambal sementara lalu yang terakhir tambal permanen. Prosedur perawatan gigi ini berguna untuk lubang gigi sudah menyebabkan sakit gigi berdenyut parah. Kondisi ini menandakan bahwa sudah terjadi infeksi atau peradangan pada pulpa. Pulpa gigi yang rusak atau mati harus dibersihkan. Selanjutnya rongga yang kosong diisi oleh material tembal gigi untuk mencegah masuknya makanan dan kuman-kuman.

 

Lalu Kapan Diperlukan Cabut Gigi?

Pencabutan gigi menjadi pilihan terakhir manakala gigi yang sudah rusak tidak dapat diperbaiki dan tidak dapat dipertahankan. Bahkan jika dibiarkan atau tidak dicabut berpotensi menimbulkan infeksi atau bahaya yang serius. Lebih lengkapnya, berikut beberapa alasan yang mengharuskan dokter melakukan prosedur cabut gigi:

  • Gigi berlubang parah. Jika lubang pada gigi sudah terlalu besar dan membahayakan struktur gigi lainnya serta membuat gigi menjadi terlalu rapuh dan sulit untuk diperbaiki, maka gigi seperti ini harus dicabut.
  • Patah gigi yang parah. Jika terjadi patah gigi yang cukup parah, misalnya hingga menghilangkan setengah bagian mahkota gigi, maka kemungkinan besar gigi ini akan dicabut.
  • Lubang gigi melebar ke bawah garis gusi. Garis gusi merupakan batas antara mahkota gigi yang keras dengan gusi, jika terdapat lubang gigi yang meluas hingga ke bawah garis gusi ini maka cara menyembuhkannya adalah dengan dicabut.
ilustari prosedur cabut gigi

Ilustari: prosedur cabut gigi oleh dokter gigi

Prosedur dan Perawatan Pasca Cabut Gigi

Jika pada akhirnya Anda diharuskan untuk mencabut gigi. Dokter gigi pastinya akan melakukan anastesi untuk memastikan Anda tidak mengalami sakit saat prosedur ini dilakukan.

Selanjutnya, dokter akan menggunakan alat yang bentuknya seperti tuas yang biasa disebut elevator untuk melonggarkan gigi Anda saat masih berada pada tempatnya. Setelah itu, tang pencabut khusus akan digunakan untuk mencabut gigi.

Mungkin Anda membayangkan rasa ngilu luar biasa jika gigi Anda diperlakukan seperti ini, namun tenang saja karena prosedur ini sangat aman jika dilakukan oleh ahlinya dengan benar.

Setelah gigi Anda dicabut, Anda diharuskan menggigit sepotong kasa selama kurang lebih 45 menit untuk menghentikan darah dan merangsang pembentukan bekuan darah pada soket atau lubang bekas gigi.

Pendarahan ringan selama 24 jam setelah proses ini masih dianggap normal. Di samping itu, bisa pula terjadi pembengkakan pada wajah, namun tak perlu khawatir Anda bisa meringankannya dengan kompres es pada pipi yang bengkak.

Umumnya proses cabut gigi dan penyembuhannya memakan waktu kurang lebih dua minggu. Selama proses ini ada baiknya Anda menggunakan sikat gigi yang lebih lembut dan menyikat gigi dengan lebih perlahan untuk menghindari kemungkinan iritasi. Dan konsumsilah makanan lunak terlebih dahulu.

Lantas Pilih Tambah Gigi atau Cabut Gigi?

Setelah mengetahui kegunaan dan prosedur tambal gigi dan cabut gigi, Anda tentu akan lebih bisa menentukan mana yang lebih pas untuk mengatasi masalah gigi Anda. Namun, untuk lebih pastinya konsultasikan juga dengan dokter gigi.

Bicarakan dengan dokter gigi Anda jika ada hal-hal yang masih dikhawatirkan berkaitan dengan tambal gigi atau cabut gigi. Kebanyakan timbul rasa khawatir jangan-jangan kedua prosedur tersebut akan terasa menyakitkan atau menimbulkan kecacatan setelahnya. Jangan berasumsi tanpa konsultasi!

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer