Terapi Hiperbarik : Kegunaan, Prosedur, Efek Samping

Terapi hiperbarik adalah terapi yang dilakukan dengan menghirup oksigen 100% di dalam ruangan tertutup dengan tekanan atmosfer tinggi dan terkendali. Terapi ini merupakan metode pengobatan yang dapat meningkatkan proses penyembuhan alami tubuh.

Hingga saat ini terapi hiperbarik telah banyak digunakan sebagai terapi tambahan untuk melengkapi dan meningkatkan proses penyembuhan baik pada kondisi akut maupun kondisi kronis. Hanya saja, di Indonesia jenis terapi yang satu ini memang masih belum populer, dan hanya beberapa rumah sakit saja yang memiliki fasilitas terapi hiperbarik.

terapi hiperbarik

Gambar seseorang sedang menjalani terapi hiperbarik

Sejarah

Pada tahun 1940an terapi ini dikembangkan oleh militer untuk mengobati para prajurit Angkatan Laut yang mengalami penyakit dekompresi atau gangguan keracunan Nitrogen yang timbul akibat menyelam pada kedalaman tertentu atau menyelam terlalu lama.

Pada tahun 1950an, terapi ini menjadi populer di kalangan medis dan banyak digunakan untuk mengatasi gangguan keracunan Karbon Monoksida. Sejak saat itu pula terapi hiperbarik telah dibuktikan dalam beberapa penelitian klinis mampu meningkatkan kemampuan tubuh untuk memperbaiki dan meregenerasi sel tubuh.

Prinsip Pengobatan dengan Terapi Hiperbarik

Pada prinsipnya tekanan diperlukan agar oksigen dapat secara efektif larut ke dalam cairan plasma darah. Dengan meningkatnya tekanan, maka ukuran molekul oksigen akan berkurang dan menciptakan lingkungan oksigen yang lebih padat.

Molekul oksigen di dalam alveolus atau membran paru menjadi lebih terkonsentrasi sehingga memungkinkan molekul oksigen lebih banyak dipindahkan ke dalam darah secara difusi, sehingga memenuhi cairan plasma darah.  Dengan meningkatnya tekanan, suhu juga akan meningkat. Hal ini secara langsung akan meningkatkan volume oksigen yang tersedia. Sehingga kadar oksigen yang lebih tinggi dapat mencapai jaringan tubuh yang lebih dalam.

Kegunaan dan Manfaat Terapi Hiperbarik

Kadar oksigen yang tinggi akan meningkatkan kemampuan sel darah putih untuk membunuh bakteri, mengurangi pembengkakan dan memungkinkan pembuluh darah baru pada daerah yang terluka tumbuh lebih cepat.

Terapi Oksigen Hiperbarik dapat digunakan secara efektif untuk mengobati beberapa kondisi berikut:

  • Anemia,
  • Penyakit dekompresi
  • Keracunan karbon monoksida
  • Embolisme gas arterial
  • Luka bakar
  • Abses otak
  • Sindrom kompartemen dan iskemia traumatik lainnya
  • Ketulian yang timbul mendadak
  • Gas Gangren
  • Luka yang tidak sembuh, seperti ulkus kaki dibetik
  • Infeksi pada kulit dan tulang
  • Osteoradionekrosis dan kerusakan jaringan akibat radiasi
  • Skingraft or skin flap yang berisiko mengalami kematian
  • Kebutaan yang timbul mendadak

Selain beberapa kondisi di atas, terapi hiperbarik juga dapat digunakan pada beberapa kondisi lain, namun belum terbukti efektif, yaitu:

  • AIDS/HIV
  • Allergi
  • Alzheimer
  • Artritis
  • Asma
  • Autisme
  • Bell’s palsy
  • Cerebral palsy
  • Hepatitis
  • Sirosis
  • Kanker
  • Penyakit jantung
  • Migren
  • Multiple sclerosis
  • Parkinson
  • Trauma medulla spinalis
  • Trauma otak
  • Stroke

Prosedur Terapi Hiperbarik

Prosedur terapi meliputi beberapa tahapan berikut :

1. Persiapan terapi

Oksigen murni dapat menyebabkan kebakaran apabila ada percikan atau api. Oleh karena itu, pasien tidak boleh membawa korek api atau perangkat bertenaga baterai ke dalam ruang terapi. Pasien harus menghapus produk perawatan rambut dan kulit, parfum, deodoran, dan hal lainnya yang berbasis minyak dan berpotensi menimbulkan kebakaran. Hanya pakaian katun bersih yang diperbolehkan di dalam ruangan.

Pasien juga harus memberi tahu teknisi apabila ada obat yang digunakan dan pasien disarankan untuk tidak meminum alkohol atau minuman berkarbonasi selama empat jam sebelum perawatan. Pada kebanyakan kasus, pasien harus berhenti merokok dan berhenti menggunakan produk tembakau lainnya selama masa pengobatan mereka, karena dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk mengangkut oksigen.

2. Selama terapi

Pasien bisa mendapatkan terapi hiperbarik dalam dua jenis pengaturan, yaitu dalam suatu tabung yang dirancang untuk 1 orang atau dalam suatu ruang yang dirancang untuk beberapa orang. Selama terapi oksigen hiperbarik, tekanan udara dalam ruangan adalah sekitar dua sampai tiga kali tekanan udara normal.

Tekanan udara yang meningkat akan menimbulkan perasaan penuh yang bersifat sementara di dalam telinga yang mirip dengan apa yang dirasakan ketika berada di dalam pesawat terbang atau ketika berada pada tempat yang tinggi. Hal ini dapat diredakan dengan melakukan gerakan menguap atau menelan.

3. Setelah terapi

Pada kebanyakan kondisi, terapi berlangsung hingga sekitar dua jam. Pasien mungkin merasa agak lelah atau lapar setelah terapi ini, namun tidak membatasi aktivitas normal.

Efek Samping Terapi Hiperbarik

Terapi oksigen hiperbarik umumnya merupakan prosedur yang aman. Komplikasi jarang terjadi, namun perawatan ini berisiko menimbulkan efek samping sebagai berikut :

  • Rabun jauh sementara (miopia) yang disebabkan oleh perubahan sementara pada lensa mata.
  • Kerusakan telinga tengah, termasuk kebocoran cairan dan robekan gendang telinga akibatnya meningkatnya tekanan udara.
  • Kerusakan paru – paru akibat perubahan tekanan udara (barotrauma).
  • Kejang akibat terlalu banyak oksigen (toksisitas oksigen) di dalam sistem saraf pusat.
  • Pada keadaan tertentu bisa terjadi api dan kebakaran karena lingkungan terapi yang kaya oksigen.

Agar dapat menjadi efektif, terapi hiperbarik mungkin akan membutuhkan lebih dari satu kali sesi terapi.

Jumlah sesi tergantung pada kondisi medis Anda. keracunan karbon monoksida dapat dirawat dalam tiga kali kunjungan, namun luka yang tidak menyembuh, mungkin memerlukan 20 sampai 40 kali perawatan.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer