Ringer Laktat Obat Apa?

Ringer laktat adalah larutan steril yang digunakan sebagai penambah cairan dan elektrolit tubuh untuk mengembalikan keseimbangannya. Obat ini juga dapat bertindak sebagai alkalisator yang mengurangi keasaman. Di Indonesia ringer laktat lebih dikenal sebagai cairan infus. Tersedia dalam kemasan botol plastik dan biasanya digunakan pada pasien rawat inap di rumah sakit.

Obat ini  merupakan campuran dari sodium klorida, sodium laktat, potassium klorida, kalsium klorida dan air. Untuk kondisi tertentu larutan ini juga dapat dikombinasikan dengan jenis obat lain, namun pemberiannya harus berdasarkan rekomendasi dari dokter. Hal itu karena beberapa efek samping yang mungkin timbul.

Ikhtisar Obat Ringer Laktat

Jenis obatCairan infus steril
KategoriObat resep
KegunaanMenambah cairan dan elektrolit
KonsumenDewasa dan anak-anak
SediaanLarutan dalam botol
MerekOtsuka, widatra
ringer laktat

Mekanisme Kerja

Ringer Lakat bekerja sebagai sumber air dan elektrolit tubuh serta untuk meningkatkan diuresis (penambah cairan kencing). Obat ini juga memiliki efek alkalis, dimana ion laktat dimetabolisasi menjadi karbon dioksida dan air yang menggunakan hidrogen kation sehingga menyebabkan turunnya keasaman.

Indikasi atau Kegunaan Ringer Laktat

Ringer laktat umumnya digunakan sebagai cairan hidrasi dan elektrolit serta sebagai agen alkalisator. Obat ini juga diberikan untuk meringankan beberapa kondisi, diantaranya adalah:

  • Tetani hipokalsemik.
  • Ketidakseimbangan elektrolit tubuh.
  • Diare.
  • Luka bakar.
  • Gagal ginjal akut.
  • Kadar natrium rendah.
  • Kekurangan kalium.
  • Kekurangan kalsium.
  • Kehilangan banyak darah dan cairan.
  • Hipertensi.
  • Aritmia (gangguan irama jantung).

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakannya:

  • Alergi terhadap sodium laktat.
  • Obat ini tidak boleh diberikan bersamaan dengan ceftriaxone pada bayi baru lahir (< 28 hari), meskipun diberikan dari jalur infus yang terpisah. Pemberian bersamaan dapat meningkatkan risiko fatal pengendapan garam kalsium ceftriaxone pada bayi.
  • Demikian juga pada anak-anak > 28 hari dan orang dewasa pemberian ringer laktat dengan ceftriaxone bersamaan dari satu selang infus tidak dianjurkan. Jika satu selang infus digunakan bergantian, selang sebelumnya harus dibersihkan dengan cairan lain.

Dosis Ringer Laktat dan Cara Penggunaannya

Ringer laktat tersedia dalam bentuk sediaan dan kekuatan dosis berikut:

  • Botol infus: 250 mL, 500 mL dan 1.000 mL.

Obat ini umumnya digunakan sebagai cairan infus sehingga dosis penggunaannya sangat tergantung pada kondisi pasien, mulai dari umur, berat badan, pengobatan yang sedang dijalani, dan kondisi klinis lainnya.

Petunjuk Penggunaan:

  • Digunakan sebagai cairan infus intravena atau sebagai cairan pembersih luka luar terutama luka bakar.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan atau biarkan petugas medis yang menyiapkan dan mengatur penggunaannya.

Efek Samping Ringer Laktat

efek samping ringer laktat

Ringer laktat umumnya ditoleransi dengan baik. Namun demikian, ada efek samping yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

  • Nyeri dada.
  • Detak jantung tidak normal.
  • Turunnya tekanan darah.
  • Kesulitan bernapas.
  • Batuk.
  • Bersin-bersin.
  • Ruam kulit.
  • Gatal pada kulit.
  • Sakit kepala.

Jika efek samping ini muncul segera hubungi dokter agar dilakukan tindakan medis lanjutan, biasanya penggunaanya akan dihentikan.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Jangan menggabungkan dua wadah plastik ringer laktat untuk menghindari terjadinya emboli udara karena ada kemungkinan timbulnya emboli udara pada pada wadah utama.
  • Jangan menekan wadah plastik untuk memperlancar laju cairan, karena akan menyebabkan emboli atau gelembung udara yang tidak sepenuhnya disingkirkan saat pemasangan infus.
  • Penggunaan alat infus yang sudah terbuka dapat menyebabkan munculnya emboli. Alat infus yang sudah terbuka tidak boleh digunakan pada wadah berbentuk plastik fleksibel.
  • Berhati-hatilah memberikan infus ringer laktat pada pasien dengan gangguan kondisi hati yang berat, karena dapat menyebabkan hiperlaktasemia.

Kehamilan dan Menyusui

Apakah obat ringer laktat boleh digunakan oleh ibu hamil dan ibu menyusui?

  • Ringer laktat masuk kategori C untuk obat yang digunakan untuk wanita hamil. Hal ini berarti studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu, obat ini hanya diberikan pada wanita hamil jika sangat dibutuhkan saja dan harus dengan pengawasan dokter.
  • Belum diketahui apakah larutan ringer laktat dapat masuk kedalam ASI, namun untuk penggunaanya pada ibu menyusui sebaiknya dengan pengawasan dan diberikan hanya jika sangat diperlukan.

Interaksi Obat

Beberapa jenis obat dapat berinteraksi dengan ringer laktat, diantaranya:

  • Ceftriaxone seperti dijelaskan dalam kontraindikasi.
  • Harus lebih hati-hati memberikan ringer laktat untuk seseorang yang sedang mengonsumsi obat-obatan yang dapat meningkatkan retensi sodium dan cairan seperti kortikosteroid.
  • Harus berhati-hati memberikan cairan ini bersamaan dengan obat ginjal yang dapat mempengaruhi tingkat keasaman. Karena ringer laktat dapat memengaruhi tingkat keasamannya. Obat jenis ini diantaranya:
    • Obat pembersih ginjal yang bersifat asam seperti salisilat dan barbiturat.
    • Obat pembersih ginjal yang bersifat basa seperti simptomimetik (ephedrin, pseudophedrin), dekstroamphetamin sulfat (dekstramphetamin).
    • Pembersih ginjal berupa lhitium juga dapat meningkat fungsinya saat digunakan bersamaan dengan ringer laktat. Untuk itu, pemberiannya harus dengan pengawasan dari dokter.
  • Karena kandungan kaliumnya, pemberian cairan infus ini untuk pasien yang sedang diobati dengan produk yang dapat menyebabkan hiperkalemia harus diawasi karena dapat memperbesar risiko terjadinya hiperkalsemia. Beberapa jenis obat ini diantaranya, diuretik rendah kalium, obat penghambat ACE, antagonis reseptor angiotensi II dan obat imunosupresan takrolimus dan siklosporin.
  • Harus hati-hati memberikan obat ini pada penderita yang diobati dengan obat diuretik thiazid dan vitamin D, karena dapat meningkatkan risiko hiperkalsemia.