Salofalk obat apa?

Salofalk adalah obat yang digunakan untuk mengatasi nyeri akibat radang usus besar, seperti pada penyakit crohn serta sebagai pencegahan fase akut ringan hingga sedang kolitis ulserafit. Obat ini juga digunakan untuk mengatasi kekambuhan penyakit radang usus besar. Salofalk diformulasikan dari bahan aktif mesalazine yang merupakan senyawa anti-inflamasi dari turunan asam salisilat dengan efek samping sistemik yang ringan.

Obat yang diproduksi oleh PT. Darya Varia ini merupakan jenis obat keras yang konsumsinya harus dengan resep dokter. Untuk itu sebagai informasi penunjang berikut kami ulas kegunaan, dosis lazim, efek samping, kontraindikasi, interaksi Salofalk dengan obat lain serta apakah obat ini aman dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui.

Ikhtisar Obat Salofalk

Jenis obatAntiflatulen, anti-inflamasi
KandunganMesalazine
KegunaanMengobati penyakit radang usus, meredakan nyeri akibat tukak usus besar, penyakit crohn, dan kolitis ulseratif serta sebagai pencegahan kekambuhan radang usus besar.
KategoriObat Resep
KonsumenDewasa
KehamilanKategori B
SediaanSalofalk enteric tablet 250 mg & 500 mg, Salofalk enema, Salofalk suppositoria

salofalk 250 mesalazine

Mekanisme Kerja

Cara kerja Salofalk dapat dicermati dari bahan aktifnya yang berupa mesalazine. Mesalazine merupakan senyawa obat dari turunan salycilic acid atau disebut juga 5-aminosalicylic acid (5-ASA). Obat ini digunakan untuk mengobati radang usus besar seperti penyakit crohn serta kolitis ulsertatif dari mulai yang ringan hingga sedang.

Mesalazine bekerja spesifik hanya pada usus sehingga memiliki efek samping sistemik yang lebih sedikit. Selain sebagai anti-inflamasi senyawa ini juga bersifat antioksidan yang menangkal radikal bebas yang berpotensi merusak produk sampingan dari metabolisme di usus sehingga usus jadi lebih baik kerjanya.

Indikasi atau Kegunaan Salofalk

Salofalk digunakan untuk mengatasi peradangan pada saluran pencernaan terutama usus besar. Obat ini digunakan untuk meredakan nyeri akibat peradangan pada penyakit chron serta kolitis ulseratif yang terjadi pada usus besar. Selain itu obat ini juga digunakan sebagai profilaksis atau pencegahan terhadap kekambuhan dari peradangan di usus atau saluran cerna bagian bawah.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakan:

  • Orang yang memiliki riwayat hipersensitivitas terhadap kandungan bahan aktif obat ini.
  • Penderita gangguan fungsi ginjal ataupun hati yang parah.
  • Penderita tukak lambung, esofagus, lambung atau usus halus.
  • Penderita hemorhagic diathesis.
  • Tidak boleh diberikan pada bayi dan anak kecil.

Dosis Salofalk dan Cara Penggunaan

Salofalk tersedia dalam bentuk sediaan dan kekuatan dosis seperti berikut:

  • Sediaan tablet: 250 mg dan 500 mg
  • Sediaan enema: 4 gr
  • Sediaan Supositoria: 500 mg

Ingat! Dosis yang tepat sesuai dengan anjuran dokter berdasarkan berat ringannya penyakit, berat badan, usia, dan lain-lain. Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis Salofalk untuk mengatasi nyeri akibat radang usus besar

  • Dosis dewasa: untuk pengobatan colitis ulseratif akut: 150 – 300 mg dibagi dalam 3 dosis per hari. Untuk mengatasi penyakit crohn: 150 – 450 mg dibagi dalam 3 dosis per hari. Untuk pengobatan lanjutan 500 mg 3 kali sehari.
  • Untuk sediaan suppositoria dosis lazimnya 2 kali sehari.
  • Untuk sediaan enema sekali sehari sebelum tidur.

Petunjuk Penggunaan:

  • Gunakanlah obat Salofalk tablet saat perut kosong atau 1 jam sebelum makan dan minumlah cukup air setelahnya.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis Salofalk pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Salofalk

Salofalk umumnya ditoleransi dengan baik. Namun demikian, ada efek samping yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

  • Demam alergi.
  • Ruam kulit.
  • Bronchospasma, ditandai dengan kesulitan nafas.
  • Peningkatan metahemoglobin.

Efek Overdosis Salofalk

Belum ada yang menunjukkan efek overdosis penggunaan Salofalk yang sesuai anjuran. Namun penggunaan berlebih apalagi untuk jangka waktu yang lama mungkin menyebabkan overdosis. Gejala yang mungkin muncul seperti kesulitan bernafas, muncul alergi kulit atau demam serta nyeri perut. Jika kondisi ini terjadi intens segeralah hubungi unit kesehatan terdekat agar mendapat pertolongan tepat sesegera mungkin.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika memiliki riwayat alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita masalah paru-paru seperti asma bronkial karena akan meningkatkan risiko efek sampingnya.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal ringan.
  • Pemberian pada lansia sebaiknya dalam pengawasan dokter karena kemungkinan munculnya efek samping tinggi.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Salofalk untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Bahan aktif Salofalk berupa mesalazine digolongkan dalam kategori B untuk ibu hamil menurut FDA. Hal itu berarti studi kandungan obat ini pada sistem reproduksi hewan percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol terhadap wanita hamil belum pernah dilakukan. Oleh karena itu penggunaan obat ini pada wanita hamil sebaiknya jika manfaatnya dirasa lebih besar dari risiko yang mungkin ditimbulkan.
  • Bahan aktif Salofalk diketahui dapat terekstraksi ke dalam ASI ibu menyusui namun efeknya untuk bayi belum diketahui. Oleh karena itu sebaiknya konsultasikan dengan dokter Anda sebelum menggunakan obat ini selama masa menyusui.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat dapat berinteraksi dengan Salofalk, diantaranya yaitu:

  • Penggunaan bersamaan dengan methotrexate dapat meningkatkan risiko toksisitas dari obat ini.
  • Penggunaan bersamaan dengan rifampisin akan menyebabkan berkurangnya efektivitas dari obat TB ini.
  • Konsumsi bersamaan dengan probenecid dan sulfinprazone dapat mengurangi kemampuan kedua obat ini.
  • Penggunaan obat ini dengan sulfonylureas dapat meningkatkan risiko pendarahan pencernaan.