Skizofrenia adalah gangguan mental kronik dan berat yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, berperasaan, dan berperilaku. Orang awam sering menyebut orang skizofrenia dengan sebutan “orang gila”.

Tak heran karena penderita skizofrenia tampak seperti tidak berada di kehidupan nyata. Ini merupakan gangguan mental yang paling sering terjadi. Dadn telah banyak menimbulkan gangguan dalam kehidupan bersosial di masyarakat, tempat kerja, sekolah, dan sebagainya.

skizofrenia

Tidak memandang jenis kelamin, skizofrenia dapat terjadi pada pria maupun wanita tanpa terkecuali. Rentang usia penderitanya, biasanya sekitar usia 16 – 30 tahun. Meskipun jarang, kondisi ini juga bisa terjadi pada usia anak-anak.

Asalkan dapat ditangani dengan baik, maka gangguan jiwa ini dapat sembuh dan pasien dapat hidup normal kembali. Namun sayangnya, kebanyakan penderita ditelantarkan oleh keluarga dan orang-orang disekitarnya. Hal ini menyebabkan gejala skizofrenia semakin parah dan terus berlanjut sampai tua.

Penelantaran pada pendertia skizofrenia membuat gejalanya semakin parah dan sulit disembuhkan.

Bagaimana Ciri-ciri dan Gejala Skizofrenia?

Gejala-gejala skizofrenia seringkali mengganggu orang-orang di sekelilingnya. Gejala skizofrenia sendiri dapat dibedakan menjadi 3 kategori utama, yaitu: positif, negatif, dan kognitif.

Gejala Skizofrenia: Positif

Pada gejala positif (cendrung aktif), penderita menunjukkan perilaku psikotik yang biasanya tidak dilakukan oleh orang normal. Penderita tampak kehilangan kontak dengan dunia nyata. Yang termasuk dengan gejala positif antara lain:

  • Halusinasi. Mendengar atau melihat sesuatu yang tidak nyata, atau sebenarnya tidak ada. Pada orang normal tentu tidak mendengar atau melihat apa-apa yang ia maksud.
  • Delusi. Merupakan waham atau keyakinan yang salah dan dibawa ke kehidupan nyata. Sebagai contoh merasa dirinya selalu ada yang mengawasi, atau merasa dirinya sebagai orang terkenal dan mempunyai kemampuan gaib.
  • Gangguan pola berpikir dan berbicara. Dapat berpindah dari satu topik pembicaraan ke topik lain dengan tidak nyambung, suka mengeluarkan suara-suara aneh yang tidak berguna, mengulang kata-kata atau ide yang sama berulang-ulang.
  • Gangguan pergerakan. Terkadang suka melakukan posisi-posisi aneh tanpa tujuan, gemetaran, dan sebagainya.

Gejala Skizofrenia: Negatif

Pada intinya gejala negatif berarti cendrung pasif, gangguan ini dapat mempengaruhi perilaku dan emosi penderita, seperti :

  • Ekspresi atau emosi datar, yang tampak dari wajah dan intonasi suara.
  • Hilangnya minat dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Sulit untuk memulai atau bertahan di suatu kegiatan.
  • Sedikit berbicara.
  • Menarik diri dari kehidupan sosial.
  • Tidak bisa tidur.
  • Perubahan kepribadian.

Menjadi tidak masuk akal, mudah marah terhadap orang lain.

Gejala Skizofrenia: Kognitif

Gejala kognitif berkaitan dengan adanya gangguan pada kemampuan berpikir dan mengingat, yang termasuk diantaranya adalah:

  • Berkurangnya kemampuan untuk menyerap informasi atau mengambil keputusan.
  • Sulit fokus atau berkonsentrasi.
  • Gangguan dalam mengingat.
  • Perubahan kinerja dan prestasi akademik yang menurun.

Apa Penyebab Skizofrenia dan Faktor Resikonya?

Penyebab pasti skizofrenia masih belum diketahui. Namun ada beberapa faktor yang diduga mempengaruhi, antara lain:

  • Faktor genetik

Setelah diteliti, banyak penderita skizofrenia yang memiliki keluarga dengan riwayat gangguan yang sama, namun tidak selalu, karena ada juga yang tidak. Selain itu, para peneliti juga berpendapat bahwa skizofrenia disebakan oleh mutasi dari beberapa jenis materi genetik (gen).

  • Faktor lingkungan

Sebagai contoh adanya paparan terhadap infeksi virus, kekurangan nutrisi selama masa kehamilan, gangguan saat proses persalinan, dan juga pengaruh masalah psikososial.

  • Kelainan struktur otak

Adanya ketidakseimbangan antara neurotransmitter yang bekerja di otak seperti dopamine dan glutamate. Selain itu dapat juga disebabkan oleh gangguan perkembangan otak selama kehamilan.

Penanganan dan Pengobatan Skizofrenia

Karena penyebabnya masih belum diketahui, maka penangannya masih berfokus pada mengurangi gejala-gejala yang muncul. Tidak ada pengobatan yang benar-benar efektif untuk menyembuhkan skizofrenia. Namun dengan terapi yang baik maka gejala skizofrenia masih dapat dikontrol sehingga penderita masih dapat menjalani hidup sehari-hari dengan produktif. Terapi yang dilakukan meliputi obat-obatan dan juga rehabilitasi.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Obat anti-psikotik

Obat-obatan golongan ini ada yang dikonsumsi oral setiap hari, namun ada juga yang disuntikan 1-2 kali dalam sebulan. Penggunaan obat-obatan anti-psikotik ini harus sesuai dengan anjuran dari dokter spesialis kedokteran jiwa. Setelah mengkonsumsi obat-obatan anti-psikotik biasanya pasien akan mengalami efek samping berupa mulut kering, penglihatan kabur, konstipasi, dan pusing. Efek samping ini biasa akan hilang dalam beberapa minggu.

  • Terapi psikososial

Terapi ini membantu mengoptimalkan penyembuhan skizofrenia selain dengan obat-obatan.  Terapi yang diberikan dapat berupa pelatihan keterampilan dasar seperti memasak, membersihkan rumah, berbelanja kebutuhan sehari-hari, bersosialisasi, menyelesaikan masalah dan mengatasi stress.

Dengan terapi psikososial pasien dapat menjadi lebih percaya diri dan mampu melakukan keterampilan dasar untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

  • Terapi konseling

Konseling dapat dilakukan dengan psikiater atau sesama penderita skizofrenia dalam bentuk kelompok. Tujuannya adalah agar sesama penderita dapat saling mengerti kondisinya masing-masing.

Keberhasilan penanganan tidak terlepas dari dukungan keluarga dan masyarakat sekitar.  Memang sulit untuk merawat, memperhatikan dan mendukung anggota keluarga yang menderita skizofrenia. Namun perlu diingat bahwa skizofrenia itu adalah suatu gangguan atau penyakit, jika dibiarkan maka dapat bertambah parah.