Sleep apnea adalah gangguan tidur yang serius yang terjadi ketika pernapasan seseorang terganggu bahkan terhenti saat tidur. Seseorang dengan sleap apnea yang tidak diobati, akan berhenti bernapas secara berulang selama tidurnya, kadang hingga ratusan kali. Hal ini menyebabkan otak dan juga tubuh yang sedang istirahat tidak mendapatkan oksigen dalam jumlah yang cukup.

Berdasarkan letak gangguannya, sleep apnea diklasifikasikan menjadi dua tipe, yakni:

  • Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau gangguan tidur obstruksi: Ini merupakan tipe apnea yang paling sering. OSA bisa disebabkan karena sumbatan jalan napas, biasanya ketika lidah jatuh ke belakang tenggorokan ketika tidur.
  • Central Sleep Apnea: Tidak seperti OSA, jalan napas tidak mengalami penyumbatan. Namun sleep apnea terjadi karena otak gagal mengirimkan sinyal ke otot untuk bernapas sebagai akibat ketidakstabilan pusat pengatur pernapasan.

sleep apnea

Seperti Apa Ciri-ciri dan Gejala Sleep Apnea?

Gejala yang umum terjadi pada sleep apnea meliputi:

  • Suara mengorok yang keras saat tidur. Baca: Penyebab Tidur Ngorok dan Cara Mengatasinya
  • Sering terbangun saat tidur karena tersedak atau perasaan kehabisan napas.
  • Bangun tidur dengan keluhan nyeri pada tenggorokan atau tenggorokan yang kering.
  • Mengantuk atau kurang energi sepanjang hari.
  • Mengantuk saat menyetir.
  • Sakit kepala di pagi hari.
  • Merasa kurang tidur.
  • Mudah lupa, mood gampang berubah dan menurunnya hasrat seksual.
  • Insomnia atau kebangun saat tidur yang sering berulang.

Jika tidak diobati, sleep apnea bisa menyebabkan bertambahnya masalah kesehatan meliputi:

  • Tekanan darah tinggi.
  • Stroke.
  • Gagal jantung, denyut jantung irregular dan serangan jantung.
  • Diabetes (kencing manis).
  • Depresi.
  • Sakit kepala.

Selain itu, sleep apnea yang tidak diobati bisa mengakibatkan buruknya performa sepanjang hari, misalnya di tempat kerja, sekolah, terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor, dan menurunnya prestasi anak serta remaja.

Faktor Risiko dan Penyebab Sleep Apnea

Sleep apnea bisa mempengaruhi siapa saja pada umur berapa pun termasuk juga anak – anak. Faktor risiko sleep apnea meliputi:

  • Laki – laki lebih beresiko.
  • Kegemukan atau obesitas.
  • Usia di atas 40 tahun.
  • Memiliki ukuran leher besar (17 inchi atau lebih besar pada pria dan 16 inchi atau lebih besar pada wanita).
  • Memiliki tonsil (amandel) yang besar, lidah besar atau tulang rahang yang kecil.
  • Riawayat keluarga mengalami sleep apnea.
  • Gastroesophageal reflux atau GERD.
  • Sumbatan hidung karena deviasi septum, alergi, atau masalah sinus.

Penegakan Diagnosis

Jika seseorang memiliki gejala sleep apnea, maka dokter akan menyarankan dilakukannya tes sleep apnea yang disebut polisomnogram. Pemeriksaan ini bisa dilakukan juga di rumah.

Polisomnogram merupakan serangkaian tes dengan cara menghantarkan sinyal listrik untuk merekam aktivitas fisik secara spesifik ketika pasien tidur. Rekaman akan dianalisis oleh ahli untuk membedakan apakah pasien mengalami sleep apnea atau bukan atau mengalami tipe gangguan tidur lainnya.

Jika didiagnosis mengalami sleep apnea, maka pasien akan diminta menjalankan pemeriksaan tidur lainnya untuk menentukan terapi yang tepat.

Tes lainnya yang digunakan untuk sleep apnea antara lain:

  • EEG(electroencephalogram) untuk mengukur dan merekan aktivitas gelombang otak.
  • EMG (electromyogram) untuk merekam aktivitas otot misalnya kedutan di wajah, gemeretak gigi, dan gerakan kaki, serta untuk mngetahui adanya fase REM saat tidur. Selama fase REM, mimpi sering terjadi karena otak mengalami aktivitas yang tinggi.
  • EOG (electro-oculogram) untuk merekam pergerakan mata. Hal ini penting untuk menentukan tahapan tidur, terutama fase tidur REM.
  • ECG (electrocardiogram) untuk merekam denyut dan irama jantung.
  • Sensor aliran udara hidung untuk merekam aliran udara.
  • Mikrofon dengkuran untuk merekam aktivitas mengorok.

Pengobatan Sleep Apnea

Pengobatan sleep apnea bervariasi mulai dari perubahan gaya hidup misalnya dengan menurunkan berat badan atau perubahan posisi tidur, terapi CPAP hingga pembedahan.

Pengobatan sleep apnea di rumah. Pasien bisa mengobati kasus ringan dengan mengubah perilaku misalnya:

  • Menurunkan berat badan.
  • Menghindari alkohol dan pil tidur.
  • Mengubah posisi tidur untuk meningkatkan pernapasan.
  • Berhenti merokok. Rokok bisa meningkatkan pembengkakan saluran napas atas yang memperburuk dengkuran dan apnea.
  • Menghindari tidur telentang.

Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Merupakan pengobatan dimana masker dipakai di hidung dan atau mulut saat tidur. Masker dihubungkan dengan mesin yang menghantarkan aliran udara secara terus menerus ke hidung. Aliran ini membantu menjaga jalan napas tetap terbuka sehingga pernapasan teratur. CPAP adalah pengobatan paling umum dari sleep apnea.

Sleep Apnea and Dental Devices. Peralatan gigi bisa membantu menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur. Beberapa peralatan bisa didesain spesifik oleh dokter gigi untuk mengobati sleep apnea.

Pembedahan untuk mengatasi sleep apnea. Jika pasien mengalami deviasi septum nasi, pembesaran amandel atau rahang yang kecil sehingga menyebabkan tenggorokan terlalu sempit, maka pembedahan bisa dilakukan untuk membantu mengatasi sleep apnea.

Tipe pembedahan yang sering dilakukan antara lain:

  • Nasal surgery. Pembedahan hidung untuk mengatasi masalah pada hidung seperti deviasi septum.
  • Uvulopalatopharyngoplasty (UPPP). Prosedur untuk memindahkan jaringan lunak di belakang tenggorokan dan palatum, dengan tujuan meningkatkan luas saluran napas saat tenggorokan membuka.
  • Mandibular maxillar advancement surgery. Pembedahan ini untuk memperbaiki gangguan wajah tertentu atau adanya sumbatan di tenggorokan yang menyebabkan gangguan nafas saat tidur.

Pilihan Pengotan Lainnya. Ada beberapa prosedur invasi minimal untuk mengurangi dan membuat jaringan lunak di langit – langit lidah menjadi lebih kaku. Meskipun prosedur ini efektif untuk mengatasi kebiasaan mengorok namun efektivitasnya dalam mengobati gangguan nafas saat tidur masih belum diketahui.

Untuk pasien yang tidak bisa menggunakan CPAP, alat implantasi yang disebut sebagai Inspire sekarang sudah mulai tersedia. Alat ini berperan sebagai stimulator saluran napas atas, terdiri dari generator nadi kecil yang ditempatkan di bawah kulit pada bagian dada atas.