spiramycin antibiotik generik

Spiramycin obat apa?

Spiramycin adalah antibiotik jenis makrolida yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Selain itu juga dapat mengobati infeksi parasit protozoa seperti Toxoplasma gondii yang menyebabkan toksoplasmosis. Penyakit ini menyebar ke manusia melalui kotoran kucing atau daging yang tidak matang, dampaknya bisa sangat berbahaya bagi ibu hamil dan janinnya.

Spiramycin tersedia di pasaran dalam bentuk tablet, syrup dan cairan injeksi. Sebagai tambahan informasi berikut kami ulas kegunaan, dosis lazim, efek samping spiramycin, kontraindikasi, kemungkinan interaksi dengan obat lain serta informasi keamanan obat ini untuk ibu hamil dan menyusui.

Ikhtisar Obat Spiramycin

Jenis obatAntibiotik makrolida
KategoriObat resep
KegunaanMengobati infeksi bakteri dan protozoa, termasuk toksoplasmosis terutama pada ibu hamil
KonsumenDewasa dan anak-anak
KehamilanAman
SediaanTablet salut selaput, syrup
MerekEthirov, Inamycin, Ismacrol, Kalbiotic, Medirov, Osmycin, Provamed, Rofacin, Rovadin, Rovamycine, Sorov, Spirabiotic, Spiradan, Spiramisin, Spiranter, Varoc, Vipram

Mekanism Kerja

Spiramycin merupakan antibiotik makrolida yang awalnya ditemukan sebagai produk dari bakteri Streptomyces ambofaciens yang memiliki aktivitas antibakteri dan antiparasit. Meskipun mekanisme kerjanya belum dikarakterisasi secara sepesifik namun Spiramycin kemungkinan besar dianggap sebagai penghambat yang potensial terhadap sintesis protein bakteri yang mengikat ke subunit S50 pada ribosom bakteri.

Sementara itu kegunaan senyawa ini untuk mencegah kemungkinan transmisi toksoplasmosis dari ibu hamil ke bayinya menggunakan mekanisme yang berbeda dan belum diketahui secara rinci.

Indikasi atau Kegunaan Spiramycin

Spiramycin digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri gram positif seperti Streptococcus pyogens, S viridans, Corynebacterium diphtheriae, Staphylococcus aureus yang rentan terhadap methicillin.

Selain itu juga untuk mengatasi infeksi beberapa bakteri gram negatif seperti Nisseria meningitidis, Bordetella pertussis, dan Campylobacter.

Spiramycin juga mampu membasmi organisme parasit lainnya seperti Mycoplasma pneumonia, Chlamydia trachomatis, Toxoplasma gondii (penyebab toxoplasmosis), Legionella pneumophila, dan Spirocetes. Namun sudah ada laporan tentang adanya resistensi silang obat ini dengan erythromycin.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, orang yang memiliki riwayat hipersensitivitas terhadap spiramycin tidak boleh mengonsumsinya.

Dosis Spiramycin dan Cara Penggunaan

Spiramycin tersedia dalam bentuk sediaan tablet, syrup dan cairan injeksi dengan kekuatan dosis masing-masing seperti berikut:

  • Tablet: 250 mg dan 500 mg Spiramycin per tablet. 500 mg sama dengan 1,5 juta IU.
  • Syrup: 125 mg Spiramycin per sendok takar (5 ml).

Ingat! Dosis yang tepat adalah berdasarkan anjuran dari dokter setelah memeriksa kondisi penyakit, umur, jenis kelamin, kemungkinan interaksi penyakit, dll.

Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis Spiramycin untuk mengatasi infeksi bakteri dan toksoplasmosis

  • Dosis dewasa: 6 – 9 juta IU/hari dibagi dalam 2 – 3 dosis, dapat ditingkatkan hingga 15 juta IU/hari dalam beberapa dosis untuk infeksi yang parah.
  • Dosis anak-anak dan bayi baru lahir: untuk mengatasi toksoplasmosis, 50 mg/kg berat badan.

Petunjuk Penggunaan:

  • Gunakanlah obat ini setelah atau sebelum makan. Jika muncul rasa tidak nyaman di pencernaan sebaiknya dikonsumsi bersamaan dengan makan.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 6 – 8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis Spiramycin pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Spiramycin

Spiramycin umumnya ditoleransi dengan baik. Namun demikian, ada efek samping yang perlu diperhatikan. Efek samping Spiramycin meliputi:

  • Mual dan muntah.
  • Nyeri perut.
  • Diare.
  • Urtikaria.
  • Pruritus.
  • Ruam makulapopular.
  • Parantesia (baal atau kebas).

Efek Overdosis Spiramycin

Penggunaan dosis tinggi tanpa resep dokter dan dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan overdosis Spiramycin. Gejalanya dapat berupa toksisitas jantung (detak jantung tidak teratur dan sering pingsan), hepatitis kolestatik (sakit perut, mual, muntah dan kulit kuning), toksisitas gastrointestinal (nyeri perut, demam, dan feses berdarah), serta cedera usus dan esofagitis ulseratifa yang ditandai dengan nyeri perut dan nyeri ulu hati. Jika kondisi tersebut terjadi segeralah berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan pertolongan tepat sesegera mungkin.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika memiliki riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap obat ini atau antibiotik lainnya.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi hati, penyesuaian dosis mungkin perlu dilakukan.
  • Sebaiknya berhati-hati menggunakan obat ini pada orang yang memiliki riwayat aritmia atau gangguan irama jantung.
  • Memantau kondisi kesehatan organ hati mungkin diperlukan selama menggunakan obat ini.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Spiramycin untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Spiramycin digunakan pada ibu hamil untuk mengobati infeksi penyakit toksoplasmosis dan mencegah penyakit ini menginfeksi janin yang sedang di kandung. Senyawa ini diketahui tidak bersifat teratogenik sehingga dianggap untuk ibu hamil, janin yang dikandung hingga dilahirkan.
  • Obat ini diketahui dapat terekskresi ke dalam ASI ibu menyusui, dan dianggap tidak berpotensi mengganggu kesehatan bayi yang menyusu. Namun untuk keamanan sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter Anda sebelum menggunakan obat ini selama masa menyusui.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat diketahui dapat berinteraksi dengan Spiramycin, diantaranya yaitu:

  • Carbidopa dan Levodopa. Konsentrasi kedua obat ini jadi menurun.
  • Astemizole, cisapride, dan terfenadine.  Meningkatkan risiko penyakit ventrikular aritmia.
  • Fluphenazine. Meningkatkan risiko distonia akut.