Spironolakton obat apa?

Spironolakton adalah obat diuretik hemat kalium untuk mengatasi tekanan darah tinggi, pembengkakan (edema), dan gagal jantung. Spironolakton dapat meningkatkan produksi urin sehingga membuat penggunanya lebih sering buang air kecil. Hal ini membuat konsentrasi cairan dan garam di pembuluh darah menurun sehingga dapat diamnfaatkan untuk menurunkan tekanan darah dan mengurangi beban jantung.

Tidak seperti obat diuretik lainnya yang akan ikut membuang kalium bersama urin, diuretik hemat kalium (potassium sparring diuretic) tidak memengaruhi kalium sehingga dapat digunakan bagi pasien yang berpotensi mengalami defisiensi atau ketika kalium diperlukan.

Ikhtisar Obat Spironolakton

Jenis obatDiuretik Hemat Kalium
KategoriObat resep
KegunaanMenurunkan tekanan darah tinggi, meringankan gagal jantung, dan membuang cairan tubuh berlebih (edema).
KonsumenDewasa, anak-anak dan lansia
KehamilanKategori C
SediaanTablet
MerekAldaktone, Carpiaton, Letonal, Pospiron, Spirola, Spirolactone, Spironolactone
spironolakton

Mekanisme Kerja

Spironolakton merupakan senyawa yang secara spesifik bersifat antagonis terhadap aldosteron. Aldosteron merupakan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal, fungsi utama hormon ini untuk mengatur keseimbangan cairan dengan cara mempertahankan natrium dan air, namun membuang kalium melalui urine.

Sebagai antagoisnya, spironolakton bekerja dengan cara mengeluarkan natrium dan air, namun kalium tetap dipertahankan. Dengan mekanisme ini, maka obat ini dapat digunakan pada penderita tekanan darah tinggi dan edema, tanpa perlu takut kekurangan kalium.

Indikasi atau Kegunaan Spironolakton

Berdasarkan mekanisme kerjanya spironolakton memiliki beberapa kegunaan, diantaranya yaitu:

  • Pengobatan terhadap edem atau penimbunan cairan pada tubuh, terutama di kaki.
  • Mengobati sirosis hati yang dibarengi dengan edema dan asites (penumpukan cairan di perut dan bagian tubuh lainnya).
  • Mengobati hipertensi.
  • Pengobatan dan penanganan pasca operasi hiperaldosteronisme.
  • Pengobatan kondisi gagal jantung kongestif parah.
  • Pengobatan dan profilaksis hipokalemia.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, orang yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakannya:

  • Memiliki riwayat hipersensitif terhadap kandungan spironolakton.
  • Sedang mengalami hiperkalemia (kadar kalium darah tinggi).
  • Sedang mengalami penyakti Addison.
  • Mengalami gangguan fungsi ginjal akut atau progresif.
  • Sedang mengonsumsi obat eplerenone.

Dosis Spironolakton dan Cara Penggunaan

Spironolakton tersedia dalam bentuk sediaan tablet dengan kekuatan dosis: 25 mg dan 100 mg.

Ingat! Dosis terbaik adalah yang diresepkan oleh dokter Anda setelah memeriksa keparahan penyakit dan kondisi kesehatan Anda.

Adapun dosis lazim yang sering digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis spironolakton untuk hipertensi

  • Dosis dewasa: dalam bentuk terapi tunggul, 50-100 mg dibagi dalam 1-2 dosis. Dosis dapat ditingkatkan setelah penggunaan 2 minggu.

Dosis spironolakton untuk edema

  • Dosis dewasa: pemberian awal, 100 mg per hari, dosis dapat ditingkatkan hingga 400 mg per hari tergantung dari respon pasien.

Dosis spironolakton untuk sirosis hati dengan edema dan asites

  • Dosis dewasa: pemberian tergangung rasio urin/kalsium atau Na/K, jika Na/K>1 makan dosis awalnya 100 mg per hari, jika Na/K<1 maka dosisnya 200-400 mg per hari
  • Dosis anak-anak: pemberian awal 3 mg/kg diberikan dalam beberapa dosis, dosis dapat ditingkatkan tergantung respon.
  • Dosis lansia: pemberian awal dengan dosis terendah.

Dosis spironolakton untuk gagal jantung kongestif parah

  • Dosis dewasa:  pemberian awal, 25 mg sekali sehari hingga maksimal 50 mg sekali sehari. Dosis dapat diturunkan menjadi 25 mg kembali jika tidak ditoleransi pada dosis 50 mg di hari sebelumnya.
  • Dosis anak-anak: 3 mg/kgBB diberikan dalam beberapa dosis. Dosis dapat ditingkatkan tergantung respon anak.
  • Dosis lansia: pemberian dengan dosis terendah.

Dosis spironolakton untuk hiperaldosteronisme

  • Dosisi untuk tes jangka panjang: 400 mg per hari selama 3-4 minggu. Jika terjadi perubahan pada kondisi hiperkalemia ataupun hipertensi menunjukkan adanya hiperaldosteronisme.
  • Dosis untuk tes singkat: 400 mg per hari selama 4 hari. Jika konsentrasi potassium dalam darah meningkat saat penggunaan obat dan turun kembali setelah selesai maka ini menunjukkan kondisi hiperalodsteronisme.

Dosis spironolakton untuk hipokalemia akibat diuretik

  • Dosis dewasa: 50-100 mg per hari. Diberikan jika pemberian suplemen potassium oral dan penggunaan diuretik lainnya dianggap tidak tepat.

Petunjuk Penggunaan:

  • Gunakanlah obat ini setelah makan dan dianjurkan untuk banyak minum air putih setelahnya.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 6-8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis spironolakton pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Spironolakton

Selain fungsi utamanya spironolakton memiliki efek samping seperti kebanyakan obat obatan lainnya. Kemunculan efek samping ini tergantung dari kondisi masing masih penggunanya. Beberapa efek samping dapat hilang dengan sendirinya setelah obat tidak lagi digunakan. Beberapa lainnya mungkin perlu penanganan medis jika terjadi berulang dan mulai mengganggu keseharian. Berikut beberapa efek samping yang perlu diperhatikan:

  • Mengantuk.
  • Pusing.
  • Lesu.
  • Kram kaki.
  • Gangguan pencernaan seperti diare dan kram perut.
  • Ataksia.
  • Ruam kulit.
  • Pruritus.
  • Alopecia.
  • Hiponatremia.
  • Dapat berakibat fatal jika menyebabkan hiperkalemia.

Efek Overdosis 

Ambang batas letal obat ini ada pada LD50: 1000 mg/kg pada percobaan tikus dan kelinci. Overdosis akut dapat ditandai dengan rasa ngantuk yang parah, kebingungan mental, ruam makulopopular, mual, muntah dan diare parah. Serta juga dapat menyebabkan hyponatremia dan hiperkalemia.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika pernah mengalami riwayat hipersensitif atau alergi pada kandungan obat ini.
  • Hati-hati penggunaan obat ini pada orang dengan risiko tinggi mengalami hiperkalemia dan asidosis.
  • Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita diabetes militus.
  • Obat ini dapat meningkatkan konsentrasi potassium dalam tubuh, untuk itu hindari konsumsi suplemen potassium serta kurangi konsumsi makanan yang mengandung potassium tinggi seperti pisang, tomat, kentang dan susu rendah garam.
  • Obat ini dapat menyebabkan kantuk, hindari berkendara atau menggunakan alat berat yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
  • Hindari konsumsi alkohol karena efeknya akan memicu tekanan darah rendah.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Spironolakton untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Spironolakton masuk dalam kategori C untuk ibu hamil menurut FDA. Hal itu berarti studi penggunaan obat ini pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu hanya gunakan obat ini pada ibu hamil jika manfaat yang didapat lebih besar dari efek samping yang mungkin terjadi.
  • Spironolakton diketahui dapat terekstraksi ke dalam ASI ibu menyusui sehingga dapat keluar bersama ASI dan menimbulkan efek samping pada bayi. Meskipun hal itu tergantung juga pada konsentrasi spironolakton di ASI. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter Anda sebelum mengonsumsi obat ini saat menyusui.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat diketahui dapat berinteraksi dengan spironolakton , diantaranya yaitu:

  • Konsumsi bersamaan dengan diuretik tipe potassium-sparring, suplemen K, penghambat ACE, reseptor antagonis angiotensin II, trilostan dan heparin dapat meningkatkan risiko hiperkalemia.
  • Penggunaan bersamaan dengan siklosporin dan Obat NSAID dapat meningkatkan risiko neprotoksisitas.
  • Penggunaan bersamaan dengan litihium dapat meningkatkan toksisitas lithium.
  • Penggunaan bersama dengan digoxin dapat meningkatkan konsetrasi digoxin dalam darah.
  • Penggunaan bersamaan dengan kolestiramin dapat menyebabkan hiperkalemia asidosis metabolik.
  • Barbituran dan narkotika dapat menyebabkan hipotensi ortostatik jika digunakan bersamaan dengan spironolakton.