Daerah Kewanitaan Gatal dan Perih? Inilah Penyebab dan Solusinya

Daerah kewanitaan gatal dan perih sebenarnya bukanlah kondisi yang jarang terjadi. Namun, menjadi jarang dibicarakan karena kebanyakan penderitanya merasa malu untuk curhat pada pasangan ataupun dokter. Maklum area tersebut termasuk ‘tabu’ untuk dibahas di tengah masyarakat kita.

Jika Anda salah satu yang mengalami kondisi tersebut, janganlah berkecil hati. Pada ulasan kali ini, kita akan mengupas tuntas mengenai penyebab daerah kewanitaan gatal dan perih, cara merawat, serta tips mencegah gangguan tersebut.

daerah kewanitaan gatal dan perih

Penyebab daerah kewanitaan gatal dan perih

Ketika daerah kewanitaan gatal dan perih, maka rasanya pasti sangat tidak nyaman. Lantas kira-kira apa ya yang menyebabkannya?! Berikut penyebab gatal dan perih pada daerah kewanitaan:

1. Vaginosis bakterial

Sebenarnya normal bila ada bakteri yang hidup di organ keintiman wanita. Akan tetapi kalau jenis bakteri yang berkembang lebih banyak adalah yang jahat, maka itulah yang memicu timbulnya infeksi. Selain gatal, gejala lain dari vaginosis bakterial adalah radang, perih, serta keluarnya cairan yang berbau amis.

2. Penyakit menular seksual

Beberapa penyakit menular seksual yang bisa menyebabkan daerah kewanitaan gatal dan perih di antaranya seperti klamidia, herpes genital (herpes simplex), kutil kelamin, trikomoniasis, serta gonore.

Hal ini sering terjadi pada wanita yang gemar gonta-ganti ‘partner’, ataupun tertular dari suami yang doyan ‘jajan’.

3. Infeksi jamur

Diperkirakan 3 dari 4 perempuan pasti pernah mengalami infeksi jamur di organ keintimannya. Infeksi ini terjadi ketika jamur candida berkembang terlalu banyak di vagina maupun vulva (bibir vagina).

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko infeksi jamur adalah kehamilan, hubungan suami istri, antibiotik, serta melemahnya sistem kekebalan tubuh. Tak hanya gatal serta iritasi, infeksi jamur juga membuat kemaluan mengeluarkan cairan putih pekat yang aromanya kurang sedap.

4. Menopause

Menurunnya kadar estrogen dalam tubuh yang terjadi menjelang menopause seringkali membuat dinding vagina menipis dan kering. Sebagai akibatnya, hal ini dapat membuat daerah kewanitaan gatal dan perih. Menipisnya dinding vagina juga seringkali dialami beberapa ibu yang sedang menyusui.

5. Efek produk tertentu

Dalam keseharian, ada berbagai produk berbahan kimia yang tanpa sadar sering kita gunakan, dan itu dapat mengiritasi organ keintiman. Jadi coba selidiki, bisa jadi aneka bahan seperti krim, sabun, kondom, kontrasepsi, deterjen pakaian, tisu, pembalut, atau lainnya yang menjadi penyebabnya.

6. Lichen sklerosis

Penyebab berikutnya ini sebenarnya jarang terjadi. Lichen sklerosis dapat menimbulkan bercak-bercak putih pada kulit, khususnya area vulva. Yang jadi persoalan, bercak tersebut dapat meninggalkan bekas permanen di area kemaluan. Gangguan ini cenderung dialami oleh perempuan yang sudah menopause.

7. Pelecehan seksual

Pelecehan seksual juga dapat menyebabkan daerah kewanitaan gatal dan perih, terlebih ketika pelakunya memiliki penyakit menular seksual. Jadi kalau ada anak/ remaja perempuan yang mengeluh mengalaminya, segera periksakan ia ke dokter.

Cara merawat daerah kewanitaan gatal dan perih

Pada umumnya, iritasi vagina bisa membaik atau sembuh dengan sendirinya. Meski demikian, bila iritasi terus berlanjut dan semakin parah, atau kambuh lagi, maka segera hubungi dokter.

Izinkan dokter melakukan pemeriksaan panggul serta mengambil sample cairan vagina agar diagnosis tepat, dan soal penyebabnya bisa diketahui. Soal cara merawatnya, tentunya tergantung dari penyebab maupun tingkat keparahannya.

Berikut beberapa metode perawatan untuk mengatasi miss V gatal dan perih:

  1. Antibiotik atau antiparasitik untuk vaginosis dan penyakit menular seksual.
  2. Antijamur untuk infeksi jamur – biasanya obat berbentuk suppostoria, krim, atau salep akan dimasukkan dalam vagina, namun ada pula yang harus diminum. Obatnya bisa dibeli di apotik dan tersedia dengan berbagai dosis berbeda – untuk 1, 3, atau 7 hari. Tapi jika sebelumnya Anda belum pernah mengalami infeksi jamur, maka konsultasikan dengan dokter lebih dulu sebelum menggunakan obat tertentu.
  3. Krim, tablet, atau cincin vagina yang mengandung estrogen untuk gatal akibat menopause.
  4. Krim atau losion steroid yang bisa mengurangi radang untuk penyebab gatal lainnya, termasuk iritasi vagina akibat lichen sklerosis.

Tips mencegah daerah kewanitaan gatal dan perih

Berikut beberapa tips untuk mencegah infeksi dan gatal pada organ keintiman:

  • Hindari penggunaan tisu, pembalut, krim, sabun, deterjen, atau produk lain yang mengandung wewangian.
  • Untuk membersihkan bagian luar organ keintiman, gunakan air biasa serta sabun tanpa pewangi. Lakukan sekali saja setiap harinya agar organ kemaluan tidak kering.
  • Setelah buang air maupun BAB, selalu bersihkan dari arah depan ke belakang.
  • Kenakan celana dalam berbahan katun, dan gantilah rutin setiap harinya.
  • Jangan menggunakan alat semprot (douche) yang semburannya terlalu kencang.
  • Ganti popok bayi perempuan secara rutin.
  • Gunakan kondom untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual.
  • Jika vagina kering, gunakan pelembab khusus, dan oleskan pelumas berbahan dasar air sebelum berhubungan intim.
  • Sementara waktu, hindari hubungan intim hingga gatal dan perihnya mereda.
  • Jangan sekali-kali menggaruk vagina agar iritasi tak semakin parah.

Jadi itulah tadi penyebab, cara mengatasi, serta tips mencegah daerah kewanitaan agar tidak gatal dan perih. Jika Anda sudah mencoba berbagai trik di atas namun masih mengalami ketidaknyamanan, sebaiknya segera periksa ke dokter.

Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT

Baca juga