Penanganan Keracunan Makanan di Rumah yang Benar

Bagi siapa saja yang baru saja mengalami gejala keracunan makanan, seperti muntah, nyeri perut dan diare, maka ada langkah awal yang bisa dilakukan di rumah. Tergantung pada berat ringannya gejala, kondisi ini dapat teratasi dengan hanya melakukan perawatan di rumah atau bahkan mengharuskannya mendapatkan perawatan medis.

Penanganan keracunan makanan di rumah mutlak diperlukan, karena pada prinsipnya semakin cepat diatasi, maka akan semakin baik hasilnya. Hanya saja, diperlukan kejelian kapan saatnya berobat ke medis, dan kapan saatnya hanya cukup mengobatinya di rumah.

Gejala muntah dan diare sebenarnya membantu tubuh mempercepat proses pengeluaran racun. Jadi tidak perlu terlalu panik, malah perlu kita syukuri karena yang Maha Kuasa memberikan mekanisme pertahanan seperti itu. Hal yang perlu kita lakukan adalah beristirahat dan mengganti cairan yang banyak keluar akibat muntah ataupun diare.

penanganan keracunan makanan

Bagaimana Keracunan Makanan bisa Terjadi?

Racun-racun yang terdapat dalam makanan atau minuman umumnya disebabkan oleh kontaminasi bakteri, virus atau parasit berbahaya. Terlebih lagi pada kondisi lingkungan, bahan pangan atau proses produksi makanan yang kurang sehat.

Mikroorganisme penyebab keracunanan tersebut menghasilkan toksin atau racun untuk mencemari makanan. Adapun bakteri, virus, dan parasit yang paling umum yaitu:

  • Norovirus, merupakan virus yang cukup cepat penyebarannya dan biasa ditemukan pada buah dan sayuran mentah. Virus ini juga dapat mengontaminasi lobster atau kerang yang terkontaminasi air yang tercemar. Proses kontaminasi air tercemar ini biasanya juga terjadi pada proses distribusinya di pasar-pasar.
  • Salmonella, Bakteri satu ini biasa ditemukan pada daging yang tidak dimasak sempurna, daging mentah, telur mentah dan produk turunan susu.
  • Clostridium perfringens, spesies bakteri gram positif ini biasanya tumbuh pada makanan yang dibiarkan terbuka terlalu lama, termasuk daging mentah, rebusan daging dan kuah daging.
  • Campylobacter, bakteri ini umumnya ditemukan pada makanan yang dimasak setengah matang, terutama ayam dan susu yang tidak dipasteurisasi serta makanan yang terkontaminasi air tercemar.
  • Shigella, kadang ditemukan pada makanan yang dibersihkan dengan air yang tercemar. Biasanya pada makanan laut segar dan buah yang dapat langsung dikonsumsi.
  • E. coli, sering ditemukan pada daging sapi yang dimasak setengah matang, terutama daging sapi giling serta  susu yang tidak dipasteurisasi.
  • Giardia intestinals, parasit ini umumnya ditemukan pada aliran sungai atau makanan yang terkontaminasi tinja.
  • Listeria, merupakan jenis bakteri yang jarang ditemui namun terkadang muncul pada makanan kemasan siap saji serta buah dan sayuran mentah. Wanita hamil harus hati-hati terhadap bakteri ini karena bisa menyebabkan keguguran. (Baca: Pantangan Makanan Ibu Hamil Muda)

Mengenal karakteristik dari penyebab di atas akan membantu dalam penanganan dan pengobatan keracuanan makanan.

Prinsip Penanganan Keracunan Makanan

Pada prinsipnya kasus keracunan yang ringan dengan gejala yang tidak parah, umumnya tidak memerlukan tindakan medis khusus. Kasus seperti ini akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Lain halnya jika korbannya adalah anak-anak atau Lansia. Mereka lebih rentan mengalami dehidrasi sehingga mengharuskannya dibawa kerumah sakit dan diberikan cairan infus untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang.

Pada kasus keracunan yang parah dengan gejala berat, seperti yang disebabkan oleh bakteri listeria, pemberian antibiotik mungkin diperlukan. Namun untuk kasus yang ringan umumnya tidak diperlukan, kecuali untuk mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah atau dalam masa kehamilan.

Bagaimana Melakukan Penanganan Keracunan di Rumah?

Pada saat keracunan makanan dialami oleh salah satu anggota keluarga, janganlah panik. Jika memungkinkan hubungi dokter atau bawa segera kerumah sakit terdekat.

Beberapa tips perawatan keracunan makanan di rumah berikut ini dapat meringankan gejala:

  • Lindungi jalan nafas. Muntah dan diare adalah tanda yang baik untuk mempercepat keluarnya racun. Namun pastikan posisi muntah tidak menghalangi jalan nafas, muntahlah dengan menghadapkan wajah kebawah.
  • Jaga asupan cairan. Pada  penderita yang muntah dan diare, usahakan menjaga agar tidak terjadi dehidrasi. Tambahkan asupan cairan dan elektrolit dari air putih atau air kelapa, kaldu ayam juga baik untuk meningkatkan cairan dan penambah energi. Anda juga bisa membuatkan larutan oralit sendiri dari campuran 2 sdt gula dan ½ sdt garam kedalam se gelas air.
  • Arang aktif. Bila tersedia, berikan tablet karbon aktif untuk menyerap racun pada pencernaan. Bisa juga menggunakan susu murni untuk mempermudah memuntahkan racun. Namun jangan berikan susu jika ada gejala diare.
  • Hindari makanan berat. Jangan memberikan makanan berat sebelum kondisi benar-benar membaik.
  • Beri makan secara bertahap. Jika sudah mulai membaik, mulailah memberikan makanan dengan porsi sedikit dahulu.
  • Hindari jenis makanan tertentu. Jauhi makanan pedas, berlemak, kopi, soda dan soft drink untuk sementara waktu hingga benar-benar pulih.

Kapan Harus Menghubungi Dokter?

Meskipun gejala keracunan biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dengan perawatan rumahan saja. Namun segeralah hubungi dokter jika muncul gejala dehidrasi seperti berikut:

  • Mulut kering dan kehausan parah.
  • Kencing sedikit atau tidak sama sekali, atau urin berwarna gelap.
  • Detak jantung cepat dan tekanan darah rendah.
  • Pusing, kelalahan dan kepala terasa ringan bahkan hingga muncul perasaan bingung.

Jika muncul gejala lebih parah seperti berikut, segara hubungi dokter.

  • Terdapat darah dalam muntah dan kotoran saat diare.
  • Pandangan kabur.
  • Diare lebih dari 3 minggu.
  • Nyeri dan kram yang ekstrim pada perut.
  • Demam di atas 40ºC.
  • Muntah terus menerus, mengeluarkan setiap cairan yang masuk.
  • Lemah otot.

Sebaiknya juga segera menghubungi dokter jika keracunan makanan terjadi pada orang-orang dengan kondisi berikut:

  • Lansia diatas 60 tahun.
  • Bayi dan anak-anak.
  • Orang dengan penyakit kronis atau yang lemah sistem kekebalan tubuhnya.
  • Wanita hamil.
Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT