Pengertian

Apa itu trypophobia?

Trypophobia adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan jijik atau takut seseorang terhadap penampakan pola lubang berkerumun (clustered holes). Misalnya seperti sarang lebah, biji bunga teratai, buah delima, kumpulan gelembung sabun dan sejenisnya.

Istilah trypophobia sendiri tidak tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM–5), lantaran belum diakui secara resmi oleh American Psychiatric Association (APA) sebagai salah satu jenis fobia.

Penamaannya pun bukan berasal dari para ahli yang tergabung dalam organisasi psikiater terbesar di dunia tersebut. Melainkan diciptakan oleh salah seorang netizen dalam forum online, yang berasal dari penggabungan dua kata Yunani, yakni ‘Trypo‘ yang berarti lubang dan ‘Phobos‘ berarti ketakutan.

Karena terbilang baru, penelitian mengenai Trypophobia pun masih belum banyak dilakukan. Ditambah lagi masih terdapat perbedaan pendapat dari para ahli, apakah ini merupakan reaksi ketakutan atau perasaan jijik.

Kendati demikian, dari beberapa hasil penelitian maupun studi terbaru di tahun 2017, menunjukkan bahwa trypophobia bukanlah suatu reaksi yang timbul akibat ketakutan. Melainkan, reaksi jijik yang berhubungan dengan respons evolusioner manusia terhadap penyakit atau infeksi parasit, seperti pada kasus lalat bot (Dermatobia hominis).

Jadi tidak dapat disamakan dengan fobia pada umumnya seperti arachnophobia (takut laba-laba), claustrophobia (takut pada ruang sempit) atau acrophobia (takut ketinggian).

Tanda dan Gejala

Apa saja ciri-ciri dan gejala trypophobia?

Ciri-ciri maupun gejala trypophobia dapat dengan mudah dikenali. Hal pertama yang dirasakan trypophobes (sebutan orang-orang dengan trypophobia) yakni bergidik disertai dengan memucatnya kulit dan perubahan frekuensi denyut jantung sesaat atau beberapa waktu setelah melihat kerumunan lubang-lubang.

Gejala lain yang mungkin timbul diantaranya seperti keringat berlebih, tangan dan kaki menjadi dingin, muncul ruam dan gatal di kulit, mual, muntah, sakit kepala, sulit bernapas, pandangan menjadi kabur, lengan juga tungkai menjadi lemah atau tak bertenaga.

contoh gambar lubang-lubang yang membuat takut pengidap trypophobia

Kapan harus periksa ke dokter trypophobia?

Cobalah perhatikan beberapa kumpulan gambar klaster lubang. Jika mengalami reaksi bergidik dan beberapa gejala lain seperti di atas, ada baiknya untuk bersegera mungkin memeriksakan diri ke dokter, terlebih bila gejala yang dialami nampak cukup parah (hingga kesulitan bernapas).

Penyebab dan Faktor Risiko

Apa penyebab trypophobia?

Sementara penelitian mengenai kondisi ini masih terus dilakukan, beberapa ahli percaya bahwa ciri khas DNA manusia yang pada dasarnya memang tidak menyukai struktur atau pola yang berulang menjadi salah satu alasan dibalik terjadinya trypophobia.

Pendapat lain mengatakan, bahwa trypophobia terjadi akibat naluri atau insting manusia yang secara alamiah akan melindungi diri dari berbagai hal yang dirasa berbahaya.

Faktor lain seperti faktor kecurigaan dan pengalaman masa lalu dimana ia pernah mengalami suatu kondisi yang menyebabkan terciptanya klaster lubang di tubuh (campak, cacar air atau sengatan lebah), turut dicurigai sebagai dalang dibalik terjadinya trypophobia.

Siapa yang lebih berisiko terjangkit trypophobia?

Berdasarkan dari beberapa penelitian maupun studi para ahli, diketahui bahwa terdapat suatu keterkaitan antara trypophobia dengan depresi maupun jenis gangguan kecemasan lainnya.

Seseorang yang mudah stres atau memiliki gangguan kecemasan sebelumnya, lebih berisiko mengalami trypophobia dibandingkan mereka yang tidak memiliki atau pandai mengelola stresnya.

Pemeriksaan dan Diagnosis

Bagaimana memastikan diagnosis trypophobia?

Diagnosis trypophobia diawali dengan anamnesis atau tanya jawab mengenai gejala, riwayat kesehatan termasuk kondisi psikologis dan pengalaman masa lalu pasien yang dapat memicu timbulnya fobia.

Kemudian dilanjutkan dengan memperlihatkan pasien pada beberapa gambar klaster berlubang. Misalnya seperti sarang lebah, biji bunga teratai, beberapa hewan seperti katak suriname dan gurita cincin biru.Termasuk pula beberapa gambar berlubang/bolong pada tangan (baca: trypophobia tangan bolong), kaki maupun wajah untuk kemudian diamati reaksinya.

trypophobia kaki bolong

contoh gambar yang membuat takut, trypophobia

Obat dan Pengobatan

Bagaimana cara mengobati trypophobia di rumah?

Mengatasi trypophobia di rumah dapat dilakukan dengan cara membiasakan diri melihat gambar-gambar klaster berlubang. Semakin sering melihatnya, maka akan semakin terbiasa pula menghadapinya.

Cukupi pula kebutuhan tidur, terapkan pola makan sehat dan diet yang seimbang, berolahraga secara teratur, lakukan teknik relaksasi dan selalu berpikir positif guna menyingkirkan kecemasan dan menguatkan pikiran bawah sadar.

Apa saja penanganan dan obat trypophobia di layanan kesehatan?

Terapi paparan (exposure therapy) merupakan pengobatan terbaik dalam membantu mengatasi trypophobia. Terapi ini merupakan salah satu jenis psikoterapi yang berfokus pada perubahan respons pasien terhadap objek atau situasi tertentu yang menyebabkan timbulnya kecemasan maupun ketakutan.

Melalui terapi tersebut, pasien akan dilatih untuk terus berinteraksi secara perlahan terhadap apa yang ditakutinya untuk kemudian menjadi terbiasa (habituasi).

Di samping itu, tersedia pula jenis terapi lainnya seperti terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural theraphy) dan metode NLP (neuro-lingusitic programming). Obat-obatan seperti beta bloker atau obat antidepresan/obat penenang, dapat digunakan untuk membantu mengurangi gejala kecemasan berlebih.

Komplikasi

Apa bahaya komplikasi trypophobia yang mungkin timbul?

Penderita trypophobia dengan gangguan kecemasan sebelumnya, mungkin dapat mengalami depresi bila saja trypophobia yang dialaminya sudah sebegitu parah karena tak kunjung diatasi. Meski demikian, belum ditemukan adanya laporan kasus seperti ini.

Pencegahan

Bagaimana mencegah trypophobia?

Trypophobia mungkin tidak dapat dicegah. Namun, dengan penerapan gaya hidup sehat seperti olahraga secara teratur 30 menit sehari, konsumsi makanan sehat dan bergizi serta tidur 7-8 jam semalam, akan dapat membantu mengontrol gangguan kecemasan dan timbulnya reaksi berlebih ketika trypophobia menyerang.