Bayi Tabung : Proses, Efek Samping, dan Biaya

Apa itu bayi tabung? mungkin sekilas Anda menduga bahwa ada bayi yang dilahirkan dari dalam tabung, bukan, bukan itu maksudnya. Bayi tabung adalah proses pembuahan atau fertilisasi yang terjadi di luar sistem reproduksi manusia, yakni dilakukan di laboratorium dimana dokter biasanya menggunakan sebuah ‘tabung’ sebagai medianya. Hasil pembuahan ini kemudian ‘ditanam’ pada rahim sang ibu.

Tahukah Anda, pada tahun 2012 diperkirakan 5 juta anak di seluruh dunia dilahirkan dengan menggunakan teknik reproduksi buatan atau Assisted reproductive technology (ART), termasuk dengan in vitro fertilization (IVF) atau kita biasa mengenalnya dengan sebutan bayi tabung. Ya, mungkin banyak diantara kita yang masih bertanya-tanya bagaimana proses bayi tabung, dan berapa biaya yang harus dikeluarkan.

bayi tabung

Ok, sebelum kita masuk ke pokok bahasan, ada baiknya kita mengetahui dulu sejarah awal dari bayi tabung (IVF) ini.

Sebenarnya prosedur ini telah berlangsung lama, sejak kelahiran seorang bayi perempuan yang diberi nama Louise Brown di tahun 1978. Kesuksesan bayi tabung pertama di dunia yang dilahirkan di Rumah Sakit Bristol di London, Inggris ini tak lepas dari peran Patrick C. Steptoe (ahli kandungan dan kebidanan dari Rumah Sakit Oldham) dan Robert Edwards (seorang dokter dan peneliti medis). Sampai sekarang Louise masih hidup, ia tinggal, menetap sekaligus aktif bekerja di sebuah pusat perawatan bayi di Inggris.

Saat ini teknik reproduksi buatan, seperti bayi tabung dipandang sebagai solusi bagi mereka yang ingin memiliki anak namun terhambat oleh masalah kesuburan ataupun masalah genetik. Teknik ini pun telah dipakai oleh setidaknya 70% dari semua pasangan yang mencoba mencari solusi untuk mendapatkan keturunan.

Proses bayi tabung melibatkan sel telur dewasa yang diambil dari ovarium wanita dan akan tinggal di laboratorium khusus untuk dibuahi oleh sperma. Jika proses fertilisasi berhasil, maka sel telur akan dipindahkan ke dalam rahim seorang wanita dengan harapan akan terjadi kehamilan. Teknik ini memungkinkan adanya penanaman lebih dari satu sel telur yang telah dibuahi ke dalam rahim wanita sehingga bisa menghasilkan lebih dari satu anak.

Pasangan yang menggunakan teknik ini dapat menggunakan sel telur dan sperma mereka sendiri dalam proses bayi tabung tersebut. Atau, bisa juga sel telur yang telah dibuahi ditanamkan di rahim wanita pengganti yang secara genetis tidak terkait dengan anak yang kelak akan dilahirkan. Bayi tabung juga bisa melibatkan sel telur, sperma dan embrio (telur yang telah dibuahi) dari donor anonim.

Ada beberapa faktor yang akan menentukan apakah bayi bisa lahir melalui proses bayi tabung, seperti usia dan alasan di balik ketidaksuburannya. Mengingat sifat prosedurnya yang kompleks, tidak mengherankan jika program bayi tabung ini bisa menghabiskan banyak uang, memakan waktu yang cukup lama serta ada pula resikonya, seperti kegagalan atau lainnya.

Siapa yang Memerlukan Bayi Tabung?

Sebenarnya bayi tabung bukanlah satu-satunya solusi untuk seseorang yang mengalami masalah infertilitas dan masalah genetik. Ada pilihan lainnya, seperti menggunakan obat kesuburan untuk meningkatkan produksi telur. Tapi kondisi-kondisi berikut seperti di bawah ini dapat menjadi jawaban mengapa seseorang memilih bayi tabung.

1. Kondisi Kesehatan

Seseorang yang mengidap penyakit seperti kanker, membutuhkan perawatan yang dapat mengganggu kesuburannya. Dengan demikian, jika ingin memiliki anak, mereka dapat menjalani program bayi tabung untuk menjaga sel telurnya agar nanti bisa digunakan.

2. Kelainan Genetik

Pasangan yang tidak ingin menyebarkan kelainan genetik pada keturunannya kelak, maka dapat menjalani proses yang disebut diagnosis genetika pra-implantasi (PGD). Teknik ini memperbaiki kemungkinan kehamilan yang berhasil dan kelahiran bayi yang normal dengan memastikan hanya embrio yang sehat saja yang akan dipilih untuk kemudian ditanamkan ke dalam rahim untuk implantasi.

3. Penyebab Infertilitas yang Belum Ditentukan

Ada kalanya suatu alasan tidak dapat ditemukan pada kasus ketidaksuburan pasangan. Disinilah program bayi tabung menawarkan solusinya untuk mereka yang masih belum menemukan jawaban atas ketidaksuburannya.

4. Kualitas Sperma yang Rendah

Pembuahan sulit terjadi apabila kualitas sperma si pria rendah. Kelainan ukuran, bentuk, dan konsentrasi sperma di bawah rata-rata menyebabkan seseorang sulit memiliki anak. IVF atau bayi tabung dapat menjadi solusi jika tidak ada masalah kesehatan yang mendasarinya atau masalahnya tidak dapat diperbaiki.

5. Ligasi Tuba

Beberapa wanita menjalani prosedur ini untuk mencegah kehamilan. Namun jika mereka berubah pikiran dan ingin hamil, mereka harus menjalani pembalikan ligasi tuba. Untuk mereka yang tidak ingin menjalani pembalikan ligasi tuba, solusinya adalah dengan menjalani program bayi tabung.

6. Endometriosis

Penyakit yang disebabkan oleh tumbuhnya lapisan rahim (endometrium) di luar rahim, sehingga mempengaruhi fungsi tuba falopi, ovarium dan rahim. Seseorang dengan endometriosis seperti ini mungkin sulit untuk hamil, namun prosedur IVF atau bayi tabung bisa menjadi solusi untuk pembuahan.

7. Ovarium Prematur

Wanita yang kehilangan fungsi ovarium normalnya sebelum menginjak usia 40 tahun tidak dapat menghasilkan cukup estrogen. Program bayi tabung dapat dipertimbangkan jika penderita menginginkan kehamilan.

8. Resiko kehamilan

Kehamilan dapat menimbulkan resiko kesehatan yang serius bagi beberapa wanita, dan IVF atau bayi tabung dipandang sebagai solusi untuk mereka yang benar-benar ingin memiliki anak.

Tahapan Proses Bayi Tabung

Jika membahas prosesnya, maka sesungguhnya melalui tulisan singkat ini tidaklah cukup. Namun secara garis berikut tahapan proses bayi tabung hingga terjadi kehamilan:

proses bayi tabung

ilustrasi proses bayi tabung

1. Stimulasi Ovarium

Tujuan dari stimulasi ini adalah untuk meningkatkan jumlah sel telur yang diproduksi ovarium. Dengan semakin banyaknya sel telur yang bisa diambil dan dibuahi selama proses bayi tabung, maka semakin besar pula kesempatan terjadinya kehamilan.

Selama tahap ini, obat kesuburan diberikan untuk meningkatkan produksi sel telur. Selain itu, dokter juga akan memantau pertumbuhan dan perkembangan folikel dalam beberapa hari dengan melakukan USG dan tes darah untuk memantau perkembangan telur dalam ovarium dan mengetahui kadar hormon.

2. Pengambilan Sel Telur (Ovum Retrieval)

Prosedur ini dilakukan untuk mengambil sel telur dari ovarium wanita. Dengan bantuan USG, jarum halus dimasukkan lewat vagina untuk kemudian masuk ke dalam ovarium dan kantung dimana telur berada. Kemudian telur ditarik keluar dari folikel dengan perangkat hisap yang terhubung ke jarum tersebut. Hal ini dilakukan sekali untuk setiap folikel.

Sperma kemudian dikumpulkan dengan meminta si pria untuk menghasilkan sampel air mani (biasanya dengan masturbasi) yang nanti akan dicampurkan dengan sel telur.

3. Inseminasi dan Pembuahan

Inseminasi adalah saat dimana sperma diperkenalkan ke telur, kemudian hasil gabungan keduanya dimasukkan ke dalam ruangan khusus. Pembuahan akan terjadi dalam beberapa jam setelah proses inseminasi.

Jika kualitas sperma pria rendah, sperma akan disuntikkan secara langsung ke dalam sitoplasma sel telur yang matang. Proses ini disebut dengan intra-cytoplasmic sperm injection (ICSI).

Namun, ada kasus ketika semuanya tampak normal tapi ICSI masih dilakukan.

4. Pemeliharaan Embrio 

Embrio terbentuk saat sel telur membelah. Status embrio akan diperiksa secara berkala untuk memastikan pertumbuhan yang tepat. Embrio normal akan memiliki beberapa sel pembagi aktif dalam lima hari.

Sekitar tiga sampai empat hari setelah pembuahan, prosedur yang disebut diagnosis genetik pra-implantasi dapat dilakukan pada embrio. Prosedur ini dilakukan pada pasangan yang memiliki masalah kelainan genetik dan mereka khawatir akan menurunkannya pada bayinya kelak. Prosedur ini melibatkan skrining sel tunggal dari masing-masing embrio untuk memeriksa kelainan genetik. Metode ini memungkinkan orang tua untuk memilih embrio yang terbaik dan terbebas dari masalah genetik.

Ada prosedur lain juga yang disarankan terutama untuk wanita di usia yang sudah cukup tua atau wanita yang telah mencoba IVF beberapa kali namun gagal. Prosedur ini disebut dengan assisted hatching.

5. Pemindahan Embrio Ke dalam Rahim

Embrio akan disimpan selama tiga sampai lima hari di tempat khusus sebelum dipindahkan ke rahim sang ibu. Prosedurnya sama seperti pengangkatan sel telur dari rahim. Pemindahan embrio ke rahim biasanya dilakukan pada hari kelima setelah pembuahan, disaat embrio berada pada fase blastosit. Pada fase ini, embrio sudah mampu menempel dengan baik pada rahim wanita. Lalu terjadilah proses kehamilan.

Jumlah embrio yang bisa ditanamkan ke dalam rahim tergantung pada kualitas embrionya dan faktor-faktor seperti usia wanita tersebut. Jika masih tersisa embrio dengan kualitas baik dan tidak ingin langsung digunakan, maka embrio tersebut bisa dibekukan dan bisa dipindahkan nanti. Proses ini disebut dengan embrio kriopreservasi.

Resiko atau Efek Samping Bayi Tabung

Proses bayi tabung atau IVF memang melibatkan banyak waktu dan uang, energi fisik dan emosional pun ikut terkuras. Namun hal ini tidak menjadi jaminan metode ini terbebas dari resiko. Berikut beberapa resiko dari proses bayi tabung, antara lain:

1. Keguguran

Sama seperti konsepsi alami, ada kemungkinan 15 sampai 25% seorang wanita akan mengalami keguguran pada anak yang dikandung melalui proses bayi tabung. Namun, tingkat kegugurannya tergantung dengan usia wanita itu sendiri. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada resiko keguguran saat menggunakan embrio yang telah dibekukan.

2. Stress

Proses bayi tabung atau IVF dapat menguras seseorang secara emosional, fisik dan pastinya finansial. Inilah sebabnya mengapa ketika menjalani proses ini dianjurkan untuk didampingi oleh teman atau keluarga dekat. Dukungan dari orang terdekat dapat membuat proses ini menjadi lebih mudah sekaligus membantu mengurangi tingkat stress.

3. Kehamilan Ektopik

Kondisi dimana sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim, biasanya di dalam tuba falopi. Pada kehamilan ektopik ini tentunya embrio akan mati karena tidak dapat hidup saat berada di luar rahim. Sekitar dua sampai lima persen wanita mengalami kasus seperti ini.

4. Komplikasi Saat Pengambilan Telur

Penggunaan jarum saat pengambilan sel telur dapat menyebabkan pendarahan, infeksi atau kerusakan pada kandung kemih, pembuluh darah atau usus.

Efek Samping Setelah Proses Bayi Tabung

Pada beberapa wanita mungkin akan mengalami beberapa efek samping setelah melakukan proses bayi tabung. Kondisi seperti ini mengharuskan mereka untuk beristirahat penuh setelah melewati berbagai proses. Berikut beberapa efek samping yang bisa dialami setelah IVF (proses bayi tabung):

  • Sembelit.
  • Perut kembung.
  • Kram ringan.

Namun ada juga efek samping yang memerlukan perhatian dokter, antara lain:

  • Terdapat darah dalam urin.
  • Demam tinggi, lebih dari 38°C.
  • Nyeri pada panggul.
  • Perdarahan yang berat pada vagina.

Ada juga efek samping yang terkait dengan penggunaan obat kesuburan di awal prosedur bayi tabung seperti sakit perut, perut kembung, sakit kepala, hot flashesmood swings, dan lain-lain. Beberapa wanita bahkan ada yang mengalami efek samping lebih parah, seperti pingsan, sesak napas, mual atau muntah, frekuensi kencing berkurang, dan kenaikan berat badan yang cepat.

Faktor yang Menentukan Keberhasilan Bayi Tabung

Keberhasilan proses bayi tabung bergantung pada beberapa faktor, seperti:

  • Umur wanita itu sendiri.
  • Alasan ketidaksuburannya.
  • Gaya hidup.
  • Riwayat reproduksinya.

The Society of Assisted Reproductive Technologies memberikan perkiraan keberhasilan proses bayi tabung dilihat dari usianya:

  • Untuk wanita berusia 35 tahun kebawah: 41-43%.
  • Untuk wanita berusia 35 sampai 37 tahun: 33 -36%.
  • Untuk wanita berusia 38 sampai 40 tahun: 23 -27%.
  • Untuk wanita berusia 41 tahun ke atas: 13-18%.

Berapa Biaya Bayi Tabung?

Sebenarnya biaya yang harus dikeluarkan pada proses bayi tabung ini bergantung dari beberapa faktor. Misalnya, jumlah obat dan biaya inap atau tempat tinggal selama menjalani proses ini. Perkiraan biaya rata-rata yang harus dikeluarkan untuk mengikuti program bayi tabung ini di Indonesia berkisar antara 30-100 juta rupiah.

Jika Anda ingin memiliki keturunan, namun terkendala oleh beberapa hal yang membuat Anda sulit/tidak bisa hamil, mungkin program bayi tabung ini bisa menjadi solusinya. Persiapkan fisik, mental, dan pastinya materi sebelum memulainya, perhatikan juga resiko yang akan terjadi ketika Anda menjalani proses bayi tabung ini.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer