7 Penyebab Kram Perut Saat Hamil Muda & Cara Mengatasi

Kram perut selama masa kehamilan umumnya merupakan kondisi yang normal, apalagi rasa kram terletak di perut bawah dimana rahim berada. Namun jika perut kram disertai dengan rasa sakit yang hebat atau pendarahan, maka patut diwaspadai. Jangan-jangan hal tersebut pertanda bahaya, seperti tanda keguguran misalnya.

Pada tahap awal kehamilan, beberapa wanita bahkan salah mengira kram perut yang disertai bercak darah adalah akibat dari siklus menstruasi. Namun tahukah Anda, bahwa salah satu tanda kehamilan awal adalah keluarnya bercak darah yang hanya sedikit, disebut juga spotting.

Spotting dan kram adalah gejala klasik implantasi yang terjadi saat sel telur yang dibuahi menempel pada lapisan rahim. Dalam kebanyakan kasus, spotting ini akan hilang dalam dua atau tiga hari, namun kram perut bisa tetap ada selama awal-awal kehamilan.

kram perut saat hamil muda

Pada proses kehamilan, uterus atau rahim semakin membesar sehingga membuat ligamen yang menopang rahim serta otot – otot rahim menjadi teregang. Itulah yang menyebabkan kram perut saat hamil muda sering terjadi. Terlebih lagi ketika bunda sering bergerak, batuk atau bersin, maka hal ini bisa membuat keluhan kram perut saat hamil makin terasa.

Apa Penyebab Kram Perut Saat Hamil Muda?

Implantasi adalah penyebab kram yang paling umum pada tahap awal kehamilan. Adapun penyebab potensial lainnya yang menimbulkan kram perut saat hamil muda meliputi:

1. Nyeri Ligamen

Selain kram perut saat hamil muda tirmester pertama, kram perut juga bisa dirasakan pada kehamilan trimester kedua. Kondisi ini biasanya terjadi karena peregangan ligamentum rotundum yang menyokong rahim. Ketika rahim semakin membesar, maka ligamen penyokongnya juga ikut teregang.

Keluhan nyeri yang tajam seperti ditusuk ataupun nyeri yang dirasakan pada perut bagian bawah mungkin terjadi akibat peregangan ligamentum ini. Inipula yang sering menyebabkan perut bunda terasa mengencang, seperti di bahas dalam artikel: Perut Kencang Saat Hamil Muda dan Hamil Tua

2. Kehamilan Kimia

Kehamilan kimia merupakan keguguran yang tejadi pada tahap awal proses kehamilan. Saking awalnya, banyak wanita tidak menyadarinya karena umumnya terjadi saat minggu-minggu jadwal menstruasi rutin.

Ini berarti sperma sudah membuahi sel telur tapi sel telur tidak bisa bertahan. Meski kondisi ini masih di awal kehamilan, tetap akan terjadi perubahan tingkat hormon yang menyebabkan tes kehamilan menunjukkan hasil positif. Hormon yang diukur pada tes kehamilan dikenal dengan hCG (human chorionic gonadotrophin).

Salah satu tanda kondisi ini adalah tes kehamilan yang awalnya positif, tiba-tiba berubah menjadi negatif saat mengetes lagi beberapa hari kemudian. Bisa juga tiba-tiba mengalami menstruasi setelahnya.

3. Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar kandungan (rahim), kondisi ini terjadi ketika sel telur yang dibuahi malah menempel pada organ-organ di luar rahim, biasanya di salah satu saluran tuba. Kondisi tersebut mengakibatkan kehamilan tidak bisa berkembang menjadi janin, dan tentunya akan menimbulkan masalah kesehatan.

Baca Juga: Kehamilan Ektopik : Gejala, Penyebab, Penanganan

4. Keguguran

Keguguran (abortus) biasanya ditandai dengan kram perut yang parah dan pendarahan sedang sampai berat. Dalam kebanyakan kasus, kebanyakan ibu sudah mengetahui kehamilannya sebelum keguguran terjadi. Rata-rata, keguguran terjadi dalam 13 minggu pertama kehamilan, tapi masih bisa terjadi hingga minggu ke 20. Jika keguguran terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu, maka istilahnya bukan abortus lagi, melainkan stillbirth (kelahiran mati).

5. Perubahan Hormon

Pada saat pembuahan, tubuh mulai menghasilkan hormon. Hormon yang dihasilkan meliputi hormon estrogen, progesteron, dan hCG (human chorionic gonadotropin). Setiap hormon mempengaruhi tubuh secara berbeda. Namun, pada tahap awal kehamilan masing-masing hormon diproduksi lebih banyak, yang bisa menyebabkan sakit, nyeri dan kram pada perut.

7. Infeksi Saluran Kemih

Kram perut saat hamil muda bisa terjadi ketika saluran kemih mengalami infeksi. Tak hanya kram, infeksi saluran kemih biasanya juga disertai keluhan nyeri saat kencing dan ataupun demam.

Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang berasal dari luar tubuh yang masuk melalui saluran kemih hingga mencapai bagian uretra. Kemudian infeksi berkembang cepat pada bagian ini.

Baca Juga: Cara Mengobati Infeksi Saluran Kemih di Rumah Tanpa Obat

Mengatasi Kram Perut Saat Hamil Muda

Untuk mengatasi kram perut saat hamil, Bunda dapat mengikuti tips berikut ini:

  • Jika kram terjadi pada tahap awal kehamilan, cobalah minum air putih saat kram sedang terjadi. Berdiri dan berjalan-jalan santai juga dapat membantu mengurangi kram.
  • Berolahraga selama kehamilan bisa mengurangi terjadinya kram. Pelvic tilts dan latihan kegel dapat memperkuat otot panggul dan perut, serta mengurangi rasa sakit selama persalinan. Karena latihan tersebut dapat membuat otot rahim dan ligamen di sekitarnya cukup kuat untuk mengatasi tekanan yang ditimbulkan oleh bayi.
  • Cobalah mandi air hangat atau kompres perut, dan mintalah pasangan Anda untuk memberi pijatan.
  • Konsultasikan dengan dokter tentang dosis dan informasi terkait lainnya sebelum menggunakan obat bebas untuk menghilangkan rasa sakit akibat kram. Meskipun parasetamol bisa digunakan pada ibu hamil, namun terlalu banyak mengonsumsinya juga dapat menyebabkan masalah pada organ hati. Jadi pastikan untuk selalu mengikuti petunjuk pemakaian.

Kapan Menghubungi Dokter?

Penting untuk diingat bahwa kram perut saat hamil muda biasa terjadi dan merupakan hal yang normal. Namun, apabila Bunda merasa khawatir, bunda harus menghubungi dokter untuk segera melakukan pemeriksaan.

Jika kram tidak parah dan tidak disertai gejala lain, Bunda mungkin harus menunggu satu atau dua hari untuk memastikan apakah gejala tersebut bisa sembuh dengan sendirinya.

Segera hubungi dokter jika Bunda dalam kondisi berikut:

  • Pendarahan berat atau intensif.
  • Gumpalan jaringan berwarna merah muda atau abu-abu keluar dari jalan lahir.
  • Mengalami bercak pendarahan (spotting) selama tiga atau empat hari, diikuti dengan kram.
  • Perut bawah menjadi begitu sakit saat kram terjadi.
  • Mengalami sakit parah selama 24 jam.
  • Mengalami sakit parah di satu sisi perut bagian bawah.

Penanganan sedini mungkin dapat mencegah penyakit menjadi serius.

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer