Penggunaan Antibiotik untuk Ibu Hamil Tingkatkan Resiko Keguguran

Menurut hasil studi terbaru tahun 2017, penggunaan antibiotik tertentu pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko keguguran hingga 2 kali lipat, khususnya saat awal kehamilan yakni sebelum hamil 20 minggu.

Hasil penemuan tersebut tentulah mengkhawatirkan, apalagi kalau bunda sangat mengharapkan janin dalam kandungan sehat-sehat saja. Tentunya ini membuat bunda bertanya-tanya, “obat apa yang lantas boleh digunakan kalau sampai terjadi infeksi?” Namun untungnya, bunda tak perlu takut minum antibiotik, sebab tak semua jenisnya dapat meningkatkan keguguran.

Antibiotik untuk ibu hamil

Jenis antibiotik yang sebaiknya dihindari oleh ibu hamil

Menurut hasil studi yang tayang online tanggal 1 Mei 2017 dalam CMAJ (Canadian Medical Association Journal), jenis antibiotik yang didapati lebih beresiko bagi ibu hamil, jika dibandingkan dengan penicillin atau cephalosporin, adalah:

  • Macrolides (kecuali erythromycin) – biasanya diresepkan untuk infeksi pernafasan, usus, dan kulit, terutama bagi mereka yang kebal terhadap penicillin.
  • Tetracycline – jarang diresepkan dokter untuk ibu hamil karena beresiko membuat bayi lahir cacat.
  • Quinolone – sama dengan tetracycline.
  • Sulfonamid – untuk mengatasi infeksi saluran kencing, telinga, bronkitis, dan mata.
  • Metronidazole – untuk menangani infeksi vagina, perut, kulit, sendi, dan saluran nafas.

Penelitian ini dilakukan terhadap 182.000 wanita hamil (sumber).

Antibiotik sebenarnya salah satu obat yang dapat menyelamatkan nyawa seseorang dari infeksi bakteri berbahaya, “apalagi bagi ibu hamil yang sangat rawan terkena infeksi selama kehamilan. Dan meski antibiotik mungkin bisa menurunkan resiko bayi lahir prematur atau dengan berat badan rendah, namun penelitian menunjukkan kalau beberapa tipe bisa meningkatkan resiko keguguran hingga 60%”, ujar Dr. Anick Berard selaku pemimpin studi.

Di samping itu, infeksi juga pastinya berdampak buruk bagi janin karena bayi belum memiliki sistem kekebalan tubuhnya sendiri. Dan bakteri dapat menghambat perkembangannya, bahkan kalau itu tidak sampai tersalurkan masuk melalui plasenta.

Jenis antibiotik yang aman untuk ibu hamil

Berita baiknya adalah masih ada beberapa jenis antibiotik yang paling rendah risikonya dan aman bagi ibu hamil. Jenis yang dimaksud adalah:

  • Nitrofurantoin – paling sering dipakai untuk merawat infeksi saluran kencing
  • Erythromycin – untuk infeksi pernafasan, kulit, penyakit menular seksual klamidia dan sifilis, radang panggul. Antibiotik ini juga bisa mencegah infeksi streptococcal pada bayi baru lahir.
  • Penicillin (termasuk amoxicillin) – selama ibu hamil dan bayinya tak punya alergi, maka antibiotik ini dapat diandalkan untuk melawan infeksi streptococcal dan pneumococcal
  • Cephalosporin – untuk infeksi telinga, pneumonia, kulit, ginjal, gonore, tulang, meningitis, dan tenggorokan

Para ahli kemudian mengulangi analisa terhadap penicillins dan cephalosporins (jenis antibiotik yang menurut data paling aman), dan hasilnya tetaplah sama. Kesimpulannya, penemuan ini mendukung hasil studi lain, yakni bahwa tetracyclines dan quinolones tidak disarankan penggunaannya, terutama di awal kehamilan. Metronidazole bahkan meningkatkan resiko keguguran hingga 70%.

Oleh karenanya, konsultasikan lebih lanjut pada dokter, dan bila sakit, mintalah obat atau antibiotik yang aman untuk ibu hamil.

Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer