Kenali 7 Tanda Mau Melahirkan Anak Pertama

Tak seperti wanita lain yang sudah pernah melahirkan, bunda yang baru pertama kali hamil biasanya belum berpengalaman sehingga kurang paham soal apa saja tanda melahirkan anak pertama itu. Hanya karena dokter sudah memprediksi HPL-nya (Hari Perkiraan Lahir), tak menjamin kalau bunda pasti akan melahirkan di tanggal tersebut.

Memang rata-rata proses persalinan terjadi saat usia kehamilan masuk 9 bulan atau 40 minggu. Pada saat itu, bayi dianggap sudah siap (terutama dari segi perkembangan fisiknya) menjalani kehidupan di luar rahim. Tapi kita tahu bersama kalau ada juga wanita yang melahirkan lebih cepat (prematur) atau lebih lama dari HPL.

Jadi karena setiap kehamilan memiliki keunikannya sendiri-sendiri, penting bagi bunda (khususnya yang ingin melahirkan secara normal), untuk mewaspadai tanda melahirkan anak pertama, dan bukan hanya berpatokan pada HPL saja.

Perlu bunda ketahui juga kalau proses melahirkan bisa berlangsung sangat panjang dan menguras energi. Jeda waktu antara munculnya tanda-tanda mau melahirkan dengan proses persalinan bisa sampai 5 jam lamanya, sehingga tersedia waktu yang cukup bagi bunda untuk mempersiapkan diri.

Dan karena sifatnya umum, maka tidak setiap ibu hamil pasti mengalami tanda mau melahirkan yang sama. Tanda mau melahirkan yang akan kita bahas setelah inipun dapat dialami seminggu ataupun bahkan sehari sebelum hari persalinan.

Inilah tanda akan melahirkan anak pertama yang harus bunda tahu:

Kontraksi

Setidaknya ada 2 jenis kontraksi terkait dengan tanda melahirkan anak pertama, yaitu kontraksi awal dan kontraksi berirama. Kontraksi awal biasanya ringan dan sesekali saja, tidak sering. Kadangkala beberapa bunda bahkan tidak mengalami jenis kontraksi ini karena sifatnya yang terlalu ringan sehingga tidak disadari. Ketika kontraksi begitu terasa, sebagian bunda menganggap kalau itu merupakan tanda mau melahirkan.

Padahal kontraksi seperti ini adalah palsu (biasa disebut dengan istilah Braxton Hicks) yang terjadi akibat pengencangan perut saat hamil. Makanya kontraksi ini cenderung dirasakan di area perut atau panggul. Durasi kontraksinya biasanya terjadi antara 30-120 detik saja. Saat mengalaminya, coba deh bunda ganti posisi atau lebih rileks supaya kontraksinya segera hilang.

Lain halnya dengan kontraksi berirama yang muncul berkali-kali secara teratur dan semakin intens. Biasanya kontraksi ini dirasakan di area bawah panggul lalu pindah ke perut depan. Inilah sebenarnya kontraksi persalinan yang merupakan tanda kalau saat melahirkan sudah sangat dekat.

Selengkapnya baca: Kontraksi Palsu atau Melahirkan? Ini Bedanya

Keluar Darah Lendir

Selama kehamilan, leher rahim dilindungi mucus plug (lendir kental) untuk mencegahnya terinfeksi oleh kuman berbahaya. Seiring bertambah dekatnya waktu persalinan, lendir darah ini akan keluar dari vagina karena serviks mulai melunak dan melebar. Pelebaran serviks ini dapat terjadi seluas 1-2 cm, atau bisa juga kurang dari itu (untuk bunda yang baru pertama kali melahirkan).

Di samping lendir darah, beberapa hari sebelum melahirkan, vagina juga akan mengeluarkan cairan putih dan kental. Namun bila sebaliknya, kalau cairan putihnya mirip air dan encer, maka besar kemungkinan itu adalah air ketuban. Jika hal ini terjadi, bunda harus bergegas ke RS karena merupakan tanda ketuban pecah.

Diare

Mendekati waktu persalinan, tubuh menghasilkan prostaglandin untuk membantu otot berkontraksi, terutama otot yang nantinya diperlukan untuk proses persalinan (area pinggul dan rahim). Akibat melonjaknya prostaglandin inilah, tubuh ibu hamil biasanya bereaksi sehingga mengalami diare.

Diare ini sendiri sebenarnya berguna karena bila semua kotoran berhasil dikeluarkan dari tubuh, maka infeksi kuman berbahaya di sekitar organ reproduksi dapat dihindari.

Sakit punggung seperti saat mau haid

Mayoritas ibu hamil memang mengalami sakit punggung selama kehamilan, namun mendekati hari persalinan, intensitasnya bisa lebih hebat. Kondisi ini merupakan tanda kalau bayi sudah bergerak mendekati jalan lahirnya.

Sakit punggung yang dirasakan bunda terjadi karena kepala bayi menekan tulang belakang. Akibatnya, kebanyakan ibu hamil kesulitan bergerak akibat rasa sakit yang dirasakan dari punggung ke panggul.

Frekuensi buang air kecil meningkat

Namun tekanan kepala bayi tadi tak hanya menyebabkan sakit punggung saja. Frekuensi buang air kecil juga jadi meningkat karenanya. Mendekatnya bayi ke jalan lahir membuat kandung kemih tertekan sehingga rasanya bunda ingin pipis terus.

Air ketuban pecah

Ini mungkin merupakan tanda mau melahirkan anak pertama yang paling jelas. Untungnya, pecahnya air ketuban ini biasanya didahului dengan kontraksi, walau ada pula yang mengalami sebaliknya (air ketuban pecah dulu baru kontraksi).

Tentu saja bila air ketubannya sudah pecah, maka bayi harus segera dikeluarkan. Biasanya persalinan terjadi sekitar 24 jam setelah air ketuban pecah. Beberapa ibu hamil mungkin mengalami air ketubannya pecah sendiri, sedangkan lainnya butuh bantuan dokter.

Hal yang perlu dikhawatirkan adalah kalau air ketubannya sudah pecah tapi kontraksi tak kunjung muncul. Ini bisa membahayakan bayi karena cairan pelindung (ketuban) bisa habis namun si kecil tetap di dalam rahim. Jika hal ini sampai terjadi, maka dokter biasanya akan melakukan upaya induksi untuk menyelamatkan si kecil.

Lebih Sensitif

Selain gejala secara fisik tadi, perubahan emosional seperti sensitif dan gampang marah (mirip gejala PMS) juga dianggap sebagai tanda mau melahirkan anak pertama.

Setelah mengetahui tandanya, diharapkan bunda dan ayah bisa segera mempersiapkan diri untuk momen besar kelahiran sang buah hati. Adapun yang perlu dipersiapkan dan dibawa ke RS biasanya meliputi:

  • Baju ganti dan perlengkapan mandi.
  • Perlengkapan bayi.
  • Snack.
  • Buku, mp3-player, atau apapun yang bisa mengisi waktu bunda sebelum melahirkan.
  • Selimut serta bantal.
  • Kamera kalau ingin mengabadikan momen persalinan.

Jadi itulah tadi beberapa tanda melahirkan anak pertama. Semoga sudah jelas ya bun?!

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer