Penyebab Varises Setelah Melahirkan dan Cara Mengatasinya

Lahirnya buah hati ke dunia ini pasti membuat bunda bahagia. Sayangnya, kebahagiaan yang dirasakan bisa berkurang bila bunda khawatir dengan kondisi tubuh pasca melahirkan. Di samping berat badan berlebih yang harus segera dipangkas, masalah lain yang sering bikin was-was kebanyakan bunda adalah munculnya varises setelah melahirkan.

varises setelah melahirkan

Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, keberadaan varises ini tentu sangat mengganggu penampilan. Betapa tidak, area kaki yang awalnya mulus, sekarang menjadi bergelombang lantaran pelebaran pembuluh darah vena di bawah kulit, terlebih ketika hal ini menimbulkan keluhan sering pegal dan gatal pada kaki.

Kenapa terjadi varises setelah melahirkan?

Sebenarnya, munculnya varises pasca melahirkan merupakan hal yang wajar. Diperkirakan sebanyak 10-40% bunda mengalaminya ketika mengandung. Walau varises biasanya dapat hilang dengan sendirinya, namun ada pula yang malah bertambah parah hingga 3-4 bulan (atau lebih lama dari itu) setelah melahirkan.

Sayangnya, kalaupun nantinya varises tampak hilang, kerusakan pada pembuluh vena takkan bisa diperbaiki lagi. Sebagai akibatnya, sensasi gatal atau sakit di bagian yang terkena varises mungkin tetap dirasakan setelah melahirkan.

Sebenarnya, kehamilan itu sendiri merupakan penyebab utama munculnya varises. Hal ini terjadi ketika besarnya ukuran rahim menekan pembuluh darah yang menjadli ‘jalan’ aliran balik darah dari kaki ke jantung.

Ketika bendungan terjadi, maka tekanan pada pembuluh darah vena di kaki jadi meningkat sehingga lama kelamamaan dinding pembuluh darah yang bersangkutan menjadi longgar dan melebar. Ditambah lagi, ketika persalinan tekanan menjadi semakin hebat sehingga meningkatkan resiko terjadinya varises.

Lantas, kenapa tidak semua ibu hamil mengalaminya? Ternyata, ada beberapa faktor resiko yang membuat bunda lebih rentan mengalami varises setelah melahirkan.

Berikut faktor resiko dan penyebab varises setelah melahirkan:

  • Genetik. Jika ibu atau nenek juga mengalami varises setelah melahirkan, maka besar kemungkinan bunda juga akan mengalaminya.
  • Kerusakan parah pada pembuluh vena saat hamil. Kalau pembuluh vena sampai mengalami kerusakan berat saat hamil, maka seperti disampaikan tadi, dampak kerusakan tersebut tak bisa diputar-balikkan lagi. Inilah yang menyebabkan varisesnya tetap ada pasca melahirkan.
  • Melahirkan lebih dari sekali. Tentu saja semakin sering hamil dan melahirkan, maka kian parah pula varises yang diderita.
  • Berdiri terlalu lama. Bila aktivitas sering mengharuskan bunda berdiri terlalu lama, maka posisi ini juga bisa menyebabkan atau memperparah varises yang sudah ada.
  • Overweight atau obesitas. Berat badan yang berlebih juga bisa memperberat kinerja kaki. Kaki jadi menahan tekanan beban yang lebih berat sehingga otomatis pembuluh vena semakin susah untuk menyusut kembali ke ukuran semula.

Alasan ini juga berlaku pada kasus varises di pembuluh darah hemorrhoidalis di saluran akhir pembuangan (anorektal), atau lebih dikenal sebagai hemorhhoid, ambeien, atau wasir.

Simak juga:

Seperti apa tanda dan gejala varises setelah melahirkan?

Gejala varises setelah melahirkan sebenarnya sama saja dengan varises pada umumnya, yaitu:

  • Terlihat pembuluh darah berwarna kebiruan yang membesar dan berkelok-kelok.
  • Kaki lebih mudah, bengkak, pegal, dan mungkin gatal.
  • Kaki sering bengkak setelah berdiri lama.
  • Muncul sensasi terbakar di kaki bagian bawah.
  • Timbul sensasi gatal di area yang terkena varises.
  • Kulit pecah-pecah.
  • Muncul borok pada kaki, ketika kondisinya sudah parah.

Apa bahaya akibat varises setelah melahirkan?

Meski jarang, namun risiko terjadinya penggumpalan darah di dekat permukaan kulit (superficial venous thrombosis) tetap ada. Kondisi ini menyebabkan pembuluh vena mengeras sehingga menyerupai tali. Area di sekitarnya juga menjadi panas, kemerahan, sensitif, serta sakit. Walau tak berbahaya, namun segeralah periksa ke dokter kalau bunda sampai mengalaminya. Sebab bila area sekitar gumpalan darah mengalami infeksi, bunda bisa menggigil atau demam. Untuk itu, bunda perlu dirawat dengan antibiotik.

Jangan keliru, superficial venous thrombosis tidak sama dengan DVT (deep venous thrombosis) yang penggumpalannya terjadi di vena bagian dalam. Meski kehamilan membuat bunda rawan terkena DVT, namun hal ini jarang terjadi – hanya 1 dari 1000 perempuan saja yang mengalaminya.

DVT bisa menimbulkan gejala, namun juga tidak. Kalaupun ada gejala yang nampak, maka itu biasanya kaki, pergelangan, dan paha yang mendadak bengkak dan sakit sehingga sulit untuk berdiri. Kondisi ini tak bisa dibiarkan karena kalau gumpalan darahnya pecah dan mengenai paru-paru, maka seseorang rawan terkena emboli paru yang mengancam keselamatan penderitanya.

Bunda juga harus segera memeriksakan diri ke dokter kalau kaki jadi bengkak, luka, atau kulit di dekat pembuluh vena berubah warna. Gejala ini mengindikasikan kalau terjadi gangguan sirkulasi serius.

Cara Mengatasi Varises setelah Melahirkan

Jika seandainya, varises sampai membuat bunda tidak nyaman, maka lakukan beberapa cara berikut untuk mengurangi sakit dan rasa tidak nyaman yang ditimbulkannya. Tenang saja bunda, cara mengatasi varises setelah melahirkan berikut ini terbukti efektif kok.

1. Rajin Angkat Kaki

Memang benar anjuran orang-orang terdahulu yang merekomendasikan para wanita hamil untuk meninggikan kakinya setelah melahirkan. Dengan tingginya kaki, maka tekanan pada pembuluh darah di kaki bisa diminimalisir.

Lakukanlah kapan saja saat bisa. Misalnya saat duduk, gunakan kotak atau kursi untuk menyanggah kaki. Bunda juga sebaiknya tidak menyilangkan kaki selagi duduk (duduk bersila). Dan hindari pula berdiri atau duduk terlalu lama, berjalanlah di sela-sela posisi statis tersebut.

2. Olahraga teratur

Tak mengapa jika bunda masih belum bisa melakukan olahraga intens setelah melahirkan. Hal termudah yang bisa Bunda lakukan adalah jalan cepat setiap hari agar sirkulasi darah tetap lancar. Ingat, lakukan olahraga ini ketika tidak ada pendarahan dan kondisi bunda sudah stabil.

3. Mengenakan stoking khusus

Di toko obat, sudah banyak dijual stoking kompresi khusus yang bahannya 2 kali tebal daripada stoking biasa. Ketatnya bahan stoking ini bisa meredakan rasa tidak nyaman yang ditimbulkan akibat varises pasca melahirkan.

Bentuk stokingnya yang cenderung ketat di area pergelangan kaki, namun longgar di bagian atasnya dapat membantu memperbaiki sirkulasi sehingga darah dari kaki mampu mengalir lebih mudah ke jantung. Di samping itu, stoking juga dapat mengurangi bengkak dan mencegah agar varises tak semakin parah.

Untuk mencegah darah berkumpul di area kaki, kenaka stoking sebelum keluar kamar saat pagi hari, selagi bunda masih berbaring, dan pakai itu pada sepanjang hari. Walau mungkin bikin gerah saat cuaca panas, namun tak mengapa kan asalkan varisesnya berkurang?!

4. Diet

Bunda yang overweight memang disarankan untuk segera diet agar varises tak bertambah parah. Dan supaya kaki tak semakin bengkak, maka hindari makanan tinggi gula dan garam. Sebaliknya konsumsilah banyak cairan – terutama air putih agar volume aliran darah meningkat.

Baca juga tips aman berikut: Tips Diet untuk Ibu Menyusui serta menghindari pantangan: 8 Jenis Pantangan Makanan Setelah Melahirkan

5. Skleroterapi

Selanjutnya tindakan medis menjadi pilihan terakhir. Salah satunya adalah skleroterapi, tindakan ini efektif mengatasi varises setelah melahirkan. Dokter akan menginjeksikan larutan khusus ke pembuluh vena yang mengalami varises agar ukuran maupun gejalanya berkurang. Umumnya butuh lebih dari sekali sesi, dan waktu sekitar 1 bulan agar bunda dapat merasakan dampak positif dari metode pengobatan ini.

Namun para ahli menyarankan agar bunda melakukan suntik varises ini 6 bulan setelah melahirkan. Efek samping  sementara dari skleroterapi adalah sensasi menyengat di area yang mendapat suntikan, kram otot, bercak merah atau kecoklatan.

Jadi itulah tadi penjelasan detil tentang penyebab, gejala, komplikasi, serta cara mengatasi varises setelah melahirkan. Semoga ulasan kali ini menambah wawasan bunda.

Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer